BAB I
PENDAHULUAN
Kitab
Keluaran merupakan bagian kitab dari kitab Pentateukh, yang menurut tradisi
Yahudi Musa merupakan penulis dari kitab-kitab Pentateukh, dan kekristenan pun
mengakui bahwa Musalah sang penulis kitab Keluaran. Kitab ini menceritakan
bagaimana proses keluarnya bangsa israel dari perbudakan di Mesir sampai pada
perjalanan mereka di padang gurun. Dalam kitab Keluaran kita dapat melihat
bagaimana karya Allah dan penyertaan Allah bagi bangsa Israel di padang gurun,
selain itu kitab ini pun berisikan ketetapan-ketetapan atau peraturan-peraturan
yang Allah berikan kepada mereka, untuk mereka taati. Dapat dikatakan dalam
kitab ini Tuhan sedang mempersiapkan bangsa Israel sebagai suatu bangsa, dimana
yang namanya bangsa haruslah memiliki undang-undang yang harus mereka taati.
kitab ini juga merupakan kitab perkembangan perjanjian Allah dengan umatnya,
dari perjanjian perorangan yaitu kepada Abraham, dan Ishak, berkembang pada
perjanjian kepada keluarga yaitu Yakub, atau Israel, dan akhirnya berkembang
kepada suatu bangsa yaitu bangsa Israel. kitab Keluaran bertujuan untuk setiap pembaca dari setiap
generasi merenungkan tema-tema yang terdapat dalam kitab Keluaran.[1]
Setiap kitab dalam perjanjian Lama
memiliki ciri khas dan keunikan teologinya masing-masing. hal tersebut
berkaitan dengan konteks dan tujuan dari kitab itu. Begitu pula dengan
kitab Keluaran. Dalam makalah ini penulis
mencoba untuk meneliti teologi apa yang terkandung dalam kitab Keluaran. Kitab Keluaran
memiliki teologis progresif tentang perjanjian. Menandai suatu transisi Israel
dari kaum menjadi bangsa. Kitab ini juga memiliki sisi teologis
peraturan-peraturan bagi suatu bangsa.
Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengkaji teologis-teologis kitab Keluaran.
BAB II
TEOLOGI KITAB KELUARAN
A.
Teologi Kitab Keluaran Dalam Kitab Pentateukh.
kitab pentateuk yang ditempatkan pada awal kanon,
memperlihatkan bahwa kitab ini menjadi landasan dalam penelitian teologis,
susunan kitab ini seseuai dengan semua tradisi. Menelitii teologi kitab ini
haruslan mengadakan pengamatan konteks dimana kitab ini diciptakan dan hal
teologis apa yang mendorong kitab ini diciptakan. Apakah dari sisi Allah atau
sisi manusia. tanpa memahami semuanya mustahil dapat memahami teologi dari Pentateukh.[2]
Untuk memahami kitab Keluaran maka, secara
garis besar perlu memahami hubungan antara kitab Keluaran dengan kitab-kitab Pentateukh
lainnya. Hubungan Kitab Keluaran dan kejadian adalah hubungan secara teologis,
sebab janji-janji Allah kepada leluhur mereka dalam kitab kejadian mulai
digenapi, kitab Imammat dan bilangan melanjutkan riwayat pekerjaan Musa[3]. kelima kitab Pentateukh
memiliki cirikhas teologis yang mereka kandung dalam setiap kitab, kitab
kejadian berteologikan mandat perjanjian dan Eskatologi,[4] kitab imammat adalah
persekutan dengan Allah,[5] kitab bilangan memiliki teologi Ziarah atau
perjalanan rohani[6]
sedangkan kitab ulangan berteologikan pembaharuan perjanjian.[7]
Memahami kitab-kitab Pentateukh dan
berbagai teologis yang dikandung di dalamnya merupakan hal yang sangat penting
dalam memahami teologi kitab Keluaran secara benar. terdapat keterkaitan yang
cukup erat diantara kitab-kitab Pentateukh, selain penulisnya yang sama yaitu
menurut Tradisi adalah Musa, dari kitab-kitab Pentateukh kita dapat melihat progres
dari sejarah perjanjian, dari hal yang umum kepada hal yang khusus.
B. Teologi dalam kitab Keluaran.
Kitab Keluaran secara
garis besar dapat di bagi tiga bagian
yaitu, Israel di Mesir, Israel di Padang gurun dan Israel di Sinai.[8] Haruslah diakui bahwa teologi dalam kitab Keluaran
tidak bisa terlepas dari teologi kitab Pentateukh, dan juga dari teologi
Alkitab secara keseluruhan. Selain itu kitab Keluaran pun memiliki teologisnya
tersendiri berbeda dengan kandungan teologi yang terdapat dalam kitab-kitab Pentateukh.
Secara garis besar kitab Keluaran adalah
sebuah sejarah teologis.[9] Kitab Keluaran mengandung
unsur teologi yaitu,
1. Teologi Pembebasan
Permulaan
kitab Keluaran diawali dengan pemberitaan semakin berkembang pesatnya keturunan
Yakub di Gosyen, sehingga hal ini membuat Firaun yang tidak mengenal Yusuf
bertindak dengan menindas kaum Israel dengan perbudakan, hal ini dilakukan
untuk mencegah bangsa Israel berkembang dan agar mereka tidak mendukung musuh
Mesir apabila terjadi peperangan yang melibatkan Mesir. Dalam hal ini terjadi
suatu transisi dari Israel dari suatu kaum menjadi suatu bangsa.[10] sebagai suatu bangsa,
Israel diperbudak dengan keras oleh bangsa Mesir, perbudakan ini membuat mereka
sangat menderita, karena itu mereka berteriak meminta pertolongan dari TUHAN,
dan Tuhan mendengar akan permohonan mereka,(kel 2:22-25). Perbudakan yang
dialami oleh bangsa Israel dan janji akan pembebasan dari perbudakan telah
dinubuatkan oleh Allah kepada bapa leluhur mereka yaitu Abraham (Kej 15:13).
Kitab Keluaran menceritakan bagaimana
karya Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari Mesir, dan Juga menjadikan
Bangsa Israel sebagai umat-Nya. Dengan Perbuatan-Nya itu Allah tidak hanya
memperlakukan umat-Nya sebagai anak sulung tapi juga membangkitan puji-pujian
dan peribadatan dengan suka rela.[11] Kata kerja הוֹצֵאתִ֛יךָ (Exo 20:2 )[12] yang merupakan bagian dari
perkataan Tuhan sebelum DIA memberikan perintah sepuluh hukum, memiliki
pengertian membawa keluar. Kata ini bukan hanya menunjukan bahwa Allah membawa
bangsa Israel keluar dari satu bangsa dan membawa kesuatu negeri yang lain.
tapi juga memindahkan dari keaadaan perbudakan kepada kemerdekaan.[13] Kitab Keluaran selain
menggambarkan karya Allah dalam membebaskan umat-Nya dari tanah perbudakan,
dalam kitab ini pun Allah memberikan Perarturan-peraturan yang harus dilakukan
oleh bangsa Israel tentang hak budak Ibrani. Keluaran 21-1-11 membahas hal
tersebut, peraturan ini diulang kembali dalam Ulangan 15:12-18. Peraturan
pembebasan ini secara nyata dapat kita
lihat dalam Kel 21:2 “Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka
haruslah ia bekerja pada mu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh
ia di izinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar apa-apa.[14]” Kitab Keluaran tidak hanya
menceritakan peristiwa pembebasan bangsa Israel dari rumah perbudakan tetapi
juga mengajarkan teologi pembebasan. Pembebasan Israel dari takut akan manusia,
digantikan menjadi percaya dan takut
akan Allah.[15]
Peristiwa pembebasan ini diperingati sebagai hari raya Paskah.
2. Teologi Perjanjian
Peristiwa
pembebasan bangsa Israel dilakukan berdasarkan janji Allah kepada Leluhur
Israel (Kel 6:4-6). Sebab Israel telah di identifikasikan sebagai anak-anak
Allah dan pewaris dari janji-janji Allah kepada leluhur mereka mengenai
keturunan.[16]
Peristiwa peneguhan janji Allah dan Israel sebagai umatnya diteguhkan kembali
dalam peristiwa gunung Sinai. Kitab Keluaran menekankan sifat perjanjian yang
berbeda dengan perjanjian yang berlaku dalam dunia. perjanjian dalam dunia
berdasarkan kesepakatan bersama dan demi keuntungan keduabelah pihak, sedangkan
Kitab Keluaran hubungan perjanjian merupakan hubungan berdasarkan Anugerah, dan
perjanjian ini berlaku sekali untuk selamanya, yang berarti perjanjian ini
berlaku bagi setiap generasi penerus.[17]
Zuck berpendapat bahwa kitab Keluaran
merupakan kitab perjanjian, hal ini dapat terlihat dalam Kel 20:1-23:33, di
mana penekanannnya adalah keutamaan Allah. ini terlihat dalam pengantarnya (kel
20:22-26) Allah menuntut penyembahan dan hal yang sama pada bagain penutupnya
(Kel 23:14-33). Isi dari Kel 20:27 sampai Keluaran 23:13, dapat dibagi menjadi
dua bagian yaitu, peraturan-peraturan yang bersifat kasuistis (20:27-22:17).
Penekanan dari hal ini ialah keberadaan Tuhan yang tidak dapat di duakan.
Hubungan perjanjian Vertikal haruslah menjadi dasar hubungan yang horizontal.
Dalam bagian ini menjelaskan bahwa apa yang telah dilakukan Allah kepada mereka
haruslah menjadi dasar mereka memperlakukan sesama. Menyakiti sesama berarti
menyakiti Allah. bagian yang kedua ialah persyaratan perjanjian ini berlaku secara
umum dan mutlak. Bagian ini menyatakan hukuman bagi yang melanggar persyaratan
perjanjian. Penekanan pada bagian ini ialah kesetiaan terhadap perjanjian.
Kesetiaan terhadap perjanjian ini diperluas kepada orang-orang asing yang
tinggal bersama mereka. bangsa ini haruslah memperlakukan orang asing sama
seperti mereka memperlakukan bangsa sendiri, sebab merekapun dulunya orang
asing. Dalam hal ini Allah menuntut kekudusan
umat-Nya, sebab melayani Dia berarti meninggalkan semua tuan yang lain
dan mengkhususkan diri bagi Tuhan.[18]
Perjanjian
merupakan kesepakatan yang terjalin diantara dua pihak atau lebih yang
berisikan persyaratan-persyartan yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak yang
terlibat dalam perjanjian tersebut. dalam Kel 20:1-23:33, secara garis besar
dapat dikatakan ini merupakan isi dari persyaratan pihak pertama yaitu Allah
yang harus dilakukan oleh pihak kedua Yaitu bangsa Israel. Dalam perjanjian
tentunya dibutuhkan suatu materai yang mengikat perjanjian tersebut, begitu pun
perjanjian antara Allah dan umat Israel, ada materai yang digunakan yaitu darah
dari kurban keselamatan yang dipersembahkan kepada Allah, hal ini terlihat
jelas dalam keluaran 24:5-8. Dalam perjanjian ini Allah menjanjikan berkat bagi
ketaatan dan hukum bagi ketidak taatan. “Tapi
engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku
akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris,
orang Hewi dan orang Yebus”. (Kel 34:11).[19]
“Perjanjian” ialah suatu persetujuan dimana budak-budak yang dibebaskan
diingatkan apa yang telah Allah lakukan
bagi mereka dan balasannya mereka dipanggil untuk memenuhi perintah-Nya dan
setia pada-Nya.[20] Berpegang pada perjanjian berarti
tanggapan bangsa Israel terhadap ketetapan Allah.[21]
Teologi perjanjian dapat dikatakan merupakan
ciri utama dari teologi kitab Keluaran, sebab dalam kitab Keluaran terdapat
ketetapan-ketetapan yang diberlakukan berdasarkan perjanjian yang diadakan.
Pembebasan yang dilakukan oleh Allah terhadap bangsa Israel dilakukan
berdasarkan perjanjian. Kitab perjanjian ditulis dalam hukum kasuistis dan
konsekuensi terhadap perjanjian tersebut.[22] Benarlah kata Zuck kitab Keluaran
adalah kitab perjanjian.
BAB
III
KESIMPULAN
Teologi
kitab Keluaran tidak bisa dilepaskan dari teologi kitab Pentateukh, dan teologi
kitab Keluaran merupakan dasar dari mempelajari teologi-teologi dari Alkitab.
Kitab Keluaran memiliki cirikhas tersendiri dalam teologinya, dalam kitab ini
memiliki tema teologi pembebasan dan teologi perjanjian. Teologi pembebasan
terlihat jelas dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan
Mesir, pembebasan Israel dari mesir dan dibawanya Israel ketanah perjanjian
bukan hanya memiliki pengertian membawa Israel dari suatu bangsa menuju bangsa
lain tetapi juga, memiliki pengertian pembebasan rasa takut dari mesir dan
perbudakan menuju penghormatan dan takut akan Allah yang membawa pada ketaatan
dan penyembahan kepada Allah yang kudus yang menjadikan mereka suatu bangsa
pilihan Allah.
Teologi
perjanjian jelas terlihat dalam kitab Keluaran. Pembebasan yang dilakukan Allah
terhadap bangsa Israel berdasarkan janji-Nya pada leluhur mereka. Dalam kitab
ini sangat jelas tertulis ciri-ciri suatu perjanjian, terkhususnya peristiwa
gunung sinai, dimana sepuluh hukum merupakan syarat-syarat dalam perjanjian.
Perjanjian yang diadakan memiliki dua unsur pertama kasuistis dan kedua
konsekuensi terhadap perjanjian tersebut. berpegang pada perjanjian merupakan
respon bangsa Israel terhadap ketetapan Allah. Dalam kitab Keluaran banyak
terdapat unsur-unsur yang menandakan suatu perjanjian. Mentaati ketetapan
perjanjian berarti berkat dan melanggar ketetapan perjanjian berarti hukuman. Perjanjian
Allah dengan umat Israel diikat melalui darah kurban keselematan yang
dipersembahkan kepada Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
____ LAI
____ Libronik
____ Bibleworks
Barth C, Theologia Perjanjian Lama I, (BPK Gunung Mulia: jakarta 1981)
Dyrness william, Tema-Tema Dalam Perjanjian Lama, (Gandum
Mas: Malang 1993)
Longman Tremper, Memahami Kitab Keluaran, (Scripture
Union Indonesia: Jakarta 2011)
Paterson M. Robert, Tafsiran Alkitab, Kitab Keluaran, (BPK
Gunung Mulia: Jakart 2001)
Wahono Wismady, Di
Sini kutemukan (BPK Gunung Mulia: Jakarta 1986)
Zuck B. Robert, A Biblical Theology of The Old Testament (
Gandum Mas: Malang 2005)
[1]
Robert M. Paterson, tafsiran Alkitab
Kitab Keluaran, (jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) Hal. 10.
[2]
Roy B Zuck, A Biblical Theology of the Old
Testamen, (Malang :Gandum Mas 2005) hal. 24.
[4]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal. 38
[5]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal. 111
[6]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal. 117
[7]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal. 120
[8]
John I Durham, exodus, (libronik,
buku Eletronik)
[9]
Tremper Longman III, memahami Keluaran, (
Jakarta:scripture union Indonesia, 2011) hal.41
[11]
C Barth, Theologia Perjanjian Lama I, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia,1981) Hal.132
[12]
Bibleworks 8
[14]
LAI
[16]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal.66
[17]
Wismoady wahono, Di sini kutemukan (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1986) hal. 111
[18]
Zuck, A Biblical Theology of the old
Testament, hal.83-91
[19]
LAI
[20]
John Drane, memahami perjanjian lama 1
[21]
William Dyrness, tema-tema dalam Teologi
Perjanjian Lama, (malang: Gandum Mas. 1993) hal. 101
[22]
Zuck, A Biblical Of the Old Testament, Hal.
75
Tidak ada komentar:
Posting Komentar