Senin, 13 Mei 2019

teologi keluaran

 BAB I
 PENDAHULUAN

                Kitab Keluaran merupakan bagian kitab dari kitab Pentateukh, yang menurut tradisi Yahudi Musa merupakan penulis dari kitab-kitab Pentateukh, dan kekristenan pun mengakui bahwa Musalah sang penulis kitab Keluaran. Kitab ini menceritakan bagaimana proses keluarnya bangsa israel dari perbudakan di Mesir sampai pada perjalanan mereka di padang gurun. Dalam kitab Keluaran kita dapat melihat bagaimana karya Allah dan penyertaan Allah bagi bangsa Israel di padang gurun, selain itu kitab ini pun berisikan ketetapan-ketetapan atau peraturan-peraturan yang Allah berikan kepada mereka, untuk mereka taati. Dapat dikatakan dalam kitab ini Tuhan sedang mempersiapkan bangsa Israel sebagai suatu bangsa, dimana yang namanya bangsa haruslah memiliki undang-undang yang harus mereka taati. kitab ini juga merupakan kitab perkembangan perjanjian Allah dengan umatnya, dari perjanjian perorangan yaitu kepada Abraham, dan Ishak, berkembang pada perjanjian kepada keluarga yaitu Yakub, atau Israel, dan akhirnya berkembang kepada suatu bangsa yaitu bangsa Israel. kitab Keluaran  bertujuan untuk setiap pembaca dari setiap generasi merenungkan tema-tema yang terdapat dalam kitab Keluaran.[1]
            Setiap kitab dalam perjanjian Lama memiliki ciri khas dan keunikan teologinya masing-masing. hal tersebut berkaitan dengan konteks dan tujuan dari kitab itu. Begitu pula dengan kitab  Keluaran. Dalam makalah ini penulis mencoba untuk meneliti teologi apa yang terkandung dalam kitab Keluaran. Kitab Keluaran memiliki teologis progresif tentang perjanjian. Menandai suatu transisi Israel dari kaum menjadi bangsa. Kitab ini juga memiliki sisi teologis peraturan-peraturan bagi suatu bangsa.  Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengkaji teologis-teologis kitab Keluaran.



BAB II
TEOLOGI KITAB KELUARAN

A. Teologi  Kitab Keluaran Dalam Kitab Pentateukh.
kitab pentateuk yang ditempatkan pada awal kanon, memperlihatkan bahwa kitab ini menjadi landasan dalam penelitian teologis, susunan kitab ini seseuai dengan semua tradisi. Menelitii teologi kitab ini haruslan mengadakan pengamatan konteks dimana kitab ini diciptakan dan hal teologis apa yang mendorong kitab ini diciptakan. Apakah dari sisi Allah atau sisi manusia. tanpa memahami semuanya mustahil dapat memahami teologi dari Pentateukh.[2]
Untuk memahami kitab Keluaran maka, secara garis besar perlu memahami hubungan antara kitab Keluaran dengan kitab-kitab Pentateukh lainnya. Hubungan Kitab Keluaran dan kejadian adalah hubungan secara teologis, sebab janji-janji Allah kepada leluhur mereka dalam kitab kejadian mulai digenapi, kitab Imammat dan bilangan melanjutkan riwayat pekerjaan Musa[3]. kelima kitab Pentateukh memiliki cirikhas teologis yang mereka kandung dalam setiap kitab, kitab kejadian berteologikan mandat perjanjian dan Eskatologi,[4] kitab imammat adalah persekutan dengan Allah,[5] kitab  bilangan memiliki teologi Ziarah atau perjalanan rohani[6] sedangkan kitab ulangan berteologikan pembaharuan perjanjian.[7]
Memahami kitab-kitab Pentateukh dan berbagai teologis yang dikandung di dalamnya merupakan hal yang sangat penting dalam memahami teologi kitab Keluaran secara benar. terdapat keterkaitan yang cukup erat diantara kitab-kitab Pentateukh, selain penulisnya yang sama yaitu menurut Tradisi adalah Musa, dari kitab-kitab Pentateukh kita dapat melihat progres dari sejarah perjanjian, dari hal yang umum kepada hal yang khusus.


B. Teologi dalam kitab Keluaran.
Kitab Keluaran secara garis besar dapat  di bagi tiga bagian yaitu, Israel di Mesir, Israel di Padang gurun dan Israel  di Sinai.[8] Haruslah diakui bahwa teologi dalam kitab Keluaran tidak bisa terlepas dari teologi kitab Pentateukh, dan juga dari teologi Alkitab secara keseluruhan. Selain itu kitab Keluaran pun memiliki teologisnya tersendiri berbeda dengan kandungan teologi yang terdapat dalam kitab-kitab Pentateukh. Secara garis besar kitab Keluaran adalah  sebuah sejarah teologis.[9] Kitab Keluaran mengandung unsur teologi yaitu,
1. Teologi Pembebasan
          Permulaan kitab Keluaran diawali dengan pemberitaan semakin berkembang pesatnya keturunan Yakub di Gosyen, sehingga hal ini membuat Firaun yang tidak mengenal Yusuf bertindak dengan menindas kaum Israel dengan perbudakan, hal ini dilakukan untuk mencegah bangsa Israel berkembang dan agar mereka tidak mendukung musuh Mesir apabila terjadi peperangan yang melibatkan Mesir. Dalam hal ini terjadi suatu transisi dari Israel dari suatu kaum menjadi suatu bangsa.[10] sebagai suatu bangsa, Israel diperbudak dengan keras oleh bangsa Mesir, perbudakan ini membuat mereka sangat menderita, karena itu mereka berteriak meminta pertolongan dari TUHAN, dan Tuhan mendengar akan permohonan mereka,(kel 2:22-25). Perbudakan yang dialami oleh bangsa Israel dan janji akan pembebasan dari perbudakan telah dinubuatkan oleh Allah kepada bapa leluhur mereka yaitu Abraham (Kej 15:13).
Kitab Keluaran menceritakan bagaimana karya Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari Mesir, dan Juga menjadikan Bangsa Israel sebagai umat-Nya. Dengan Perbuatan-Nya itu Allah tidak hanya memperlakukan umat-Nya sebagai anak sulung tapi juga membangkitan puji-pujian dan peribadatan dengan suka rela.[11] Kata kerja הוֹצֵאתִ֛יךָ (Exo 20:2 )[12]  yang merupakan bagian dari perkataan Tuhan sebelum DIA memberikan perintah sepuluh hukum, memiliki pengertian membawa keluar. Kata ini bukan hanya menunjukan bahwa Allah membawa bangsa Israel keluar dari satu bangsa dan membawa kesuatu negeri yang lain. tapi juga memindahkan dari keaadaan perbudakan kepada kemerdekaan.[13] Kitab Keluaran selain menggambarkan karya Allah dalam membebaskan umat-Nya dari tanah perbudakan, dalam kitab ini pun Allah memberikan Perarturan-peraturan yang harus dilakukan oleh bangsa Israel tentang hak budak Ibrani. Keluaran 21-1-11 membahas hal tersebut, peraturan ini diulang kembali dalam Ulangan 15:12-18. Peraturan pembebasan ini secara nyata dapat kita  lihat dalam Kel 21:2 “Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja pada mu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia di izinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar apa-apa.[14]” Kitab Keluaran tidak hanya menceritakan peristiwa pembebasan bangsa Israel dari rumah perbudakan tetapi juga mengajarkan teologi pembebasan. Pembebasan Israel dari takut akan manusia, digantikan menjadi percaya dan  takut akan Allah.[15] Peristiwa pembebasan ini diperingati sebagai hari raya Paskah.
2. Teologi Perjanjian
          Peristiwa pembebasan bangsa Israel dilakukan berdasarkan janji Allah kepada Leluhur Israel (Kel 6:4-6). Sebab Israel telah di identifikasikan sebagai anak-anak Allah dan pewaris dari janji-janji Allah kepada leluhur mereka mengenai keturunan.[16] Peristiwa peneguhan janji Allah dan Israel sebagai umatnya diteguhkan kembali dalam peristiwa gunung Sinai. Kitab Keluaran menekankan sifat perjanjian yang berbeda dengan perjanjian yang berlaku dalam dunia. perjanjian dalam dunia berdasarkan kesepakatan bersama dan demi keuntungan keduabelah pihak, sedangkan Kitab Keluaran hubungan perjanjian merupakan hubungan berdasarkan Anugerah, dan perjanjian ini berlaku sekali untuk selamanya, yang berarti perjanjian ini berlaku bagi setiap generasi penerus.[17]
     Zuck berpendapat bahwa kitab Keluaran merupakan kitab perjanjian, hal ini dapat terlihat dalam Kel 20:1-23:33, di mana penekanannnya adalah keutamaan Allah. ini terlihat dalam pengantarnya (kel 20:22-26) Allah menuntut penyembahan dan hal yang sama pada bagain penutupnya (Kel 23:14-33). Isi dari Kel 20:27 sampai Keluaran 23:13, dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, peraturan-peraturan yang bersifat kasuistis (20:27-22:17). Penekanan dari hal ini ialah keberadaan Tuhan yang tidak dapat di duakan. Hubungan perjanjian Vertikal haruslah menjadi dasar hubungan yang horizontal. Dalam bagian ini menjelaskan bahwa apa yang telah dilakukan Allah kepada mereka haruslah menjadi dasar mereka memperlakukan sesama. Menyakiti sesama berarti menyakiti Allah. bagian yang kedua ialah persyaratan perjanjian ini berlaku secara umum dan mutlak. Bagian ini menyatakan hukuman bagi yang melanggar persyaratan perjanjian. Penekanan pada bagian ini ialah kesetiaan terhadap perjanjian. Kesetiaan terhadap perjanjian ini diperluas kepada orang-orang asing yang tinggal bersama mereka. bangsa ini haruslah memperlakukan orang asing sama seperti mereka memperlakukan bangsa sendiri, sebab merekapun dulunya orang asing. Dalam hal ini Allah menuntut kekudusan  umat-Nya, sebab melayani Dia berarti meninggalkan semua tuan yang lain dan mengkhususkan diri bagi Tuhan.[18]
          Perjanjian merupakan kesepakatan yang terjalin diantara dua pihak atau lebih yang berisikan persyaratan-persyartan yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut. dalam Kel 20:1-23:33, secara garis besar dapat dikatakan ini merupakan isi dari persyaratan pihak pertama yaitu Allah yang harus dilakukan oleh pihak kedua Yaitu bangsa Israel. Dalam perjanjian tentunya dibutuhkan suatu materai yang mengikat perjanjian tersebut, begitu pun perjanjian antara Allah dan umat Israel, ada materai yang digunakan yaitu darah dari kurban keselamatan yang dipersembahkan kepada Allah, hal ini terlihat jelas dalam keluaran 24:5-8. Dalam perjanjian ini Allah menjanjikan berkat bagi ketaatan dan hukum bagi ketidak taatan. “Tapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus”. (Kel 34:11).[19] “Perjanjian” ialah suatu persetujuan dimana budak-budak yang dibebaskan diingatkan  apa yang telah Allah lakukan bagi mereka dan balasannya mereka dipanggil untuk memenuhi perintah-Nya dan setia pada-Nya.[20] Berpegang pada perjanjian berarti tanggapan bangsa Israel terhadap ketetapan Allah.[21]
           Teologi perjanjian dapat dikatakan merupakan ciri utama dari teologi kitab Keluaran, sebab dalam kitab Keluaran terdapat ketetapan-ketetapan yang diberlakukan berdasarkan perjanjian yang diadakan. Pembebasan yang dilakukan oleh Allah terhadap bangsa Israel dilakukan berdasarkan perjanjian. Kitab perjanjian ditulis dalam hukum kasuistis dan konsekuensi terhadap perjanjian tersebut.[22] Benarlah kata Zuck kitab Keluaran adalah kitab perjanjian.

BAB III
KESIMPULAN

          Teologi kitab Keluaran tidak bisa dilepaskan dari teologi kitab Pentateukh, dan teologi kitab Keluaran merupakan dasar dari mempelajari teologi-teologi dari Alkitab. Kitab Keluaran memiliki cirikhas tersendiri dalam teologinya, dalam kitab ini memiliki tema teologi pembebasan dan teologi perjanjian. Teologi pembebasan terlihat jelas dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir, pembebasan Israel dari mesir dan dibawanya Israel ketanah perjanjian bukan hanya memiliki pengertian membawa Israel dari suatu bangsa menuju bangsa lain tetapi juga, memiliki pengertian pembebasan rasa takut dari mesir dan perbudakan menuju penghormatan dan takut akan Allah yang membawa pada ketaatan dan penyembahan kepada Allah yang kudus yang menjadikan mereka suatu bangsa pilihan Allah.
          Teologi perjanjian jelas terlihat dalam kitab Keluaran. Pembebasan yang dilakukan Allah terhadap bangsa Israel berdasarkan janji-Nya pada leluhur mereka. Dalam kitab ini sangat jelas tertulis ciri-ciri suatu perjanjian, terkhususnya peristiwa gunung sinai, dimana sepuluh hukum merupakan syarat-syarat dalam perjanjian. Perjanjian yang diadakan memiliki dua unsur pertama kasuistis dan kedua konsekuensi terhadap perjanjian tersebut. berpegang pada perjanjian merupakan respon bangsa Israel terhadap ketetapan Allah. Dalam kitab Keluaran banyak terdapat unsur-unsur yang menandakan suatu perjanjian. Mentaati ketetapan perjanjian berarti berkat dan melanggar ketetapan perjanjian berarti hukuman. Perjanjian Allah dengan umat Israel diikat melalui darah kurban keselematan yang dipersembahkan kepada Allah.







DAFTAR PUSTAKA

____ LAI
____ Libronik
____ Bibleworks
Barth C, Theologia Perjanjian Lama I, (BPK Gunung Mulia: jakarta 1981)
Dyrness william, Tema-Tema Dalam Perjanjian Lama, (Gandum Mas: Malang 1993)
Longman Tremper, Memahami Kitab Keluaran, (Scripture Union Indonesia: Jakarta 2011)
Paterson M. Robert, Tafsiran Alkitab, Kitab Keluaran, (BPK Gunung Mulia: Jakart 2001)
Wahono  Wismady, Di Sini kutemukan (BPK Gunung Mulia: Jakarta 1986)
Zuck B. Robert, A Biblical Theology of The Old Testament ( Gandum Mas: Malang 2005)



[1] Robert M. Paterson, tafsiran Alkitab Kitab Keluaran, (jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) Hal. 10.
[2] Roy B Zuck, A Biblical Theology of the Old Testamen, (Malang :Gandum Mas 2005) hal. 24.
[3] Robert M. Paterson,  (Jakart: BPK Gunun Mulia, 2011), hal. 5
[4] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal. 38
[5] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal. 111
[6] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal. 117
[7] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal. 120

[8] John I Durham, exodus, (libronik, buku Eletronik)
[9] Tremper Longman III, memahami Keluaran, ( Jakarta:scripture union Indonesia, 2011) hal.41
11 Longman III, memahami Keluaran. Hal. 44 
[11] C Barth, Theologia Perjanjian Lama I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1981) Hal.132
[12] Bibleworks 8
[13] C.  barth, theologia Perjanjian lama I, hal.135
[14] LAI
[15] C.  barth, theologia Perjanjian lama I, hal.142
[16] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal.66
[17] Wismoady wahono, Di sini kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986) hal. 111
[18] Zuck, A Biblical Theology of the old Testament, hal.83-91
[19] LAI
[20] John Drane, memahami perjanjian lama 1
[21] William Dyrness, tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama, (malang: Gandum Mas. 1993) hal. 101
[22] Zuck, A Biblical Of the Old Testament, Hal. 75

Tidak ada komentar:

Posting Komentar