Selasa, 28 Mei 2019

Pemilihan Yudas Iskariot


BAB  I
PENDAHULUAN

A.           Latar belakang masalah
Tuhan Yesus yang mengetahui bahwa Yudas akan menjual-Nya, tetapi tetap memilihnya menjadi seorang murid. Dan pengkhianatan yang dilakukan Yudas menggenapi apa yang telah direncanakan Allah. Bukankah ini berarti Yudas memiliki jasa terhadap keselamatan.[1] Pemahaman Yudas memiliki jasa terhadap karya keselamatan yang  dilakukan Kristus, tetapi ia juga mengalami kebinasaan, dan alasan Yudas dipilih menjadi seorang murid sering kali muncul dalam pemikiran orang percaya. Pemahaman ini sering kali menjadi suatu pertanyaan dan pertentangan yang sering muncul dalam diri orang percaya.
Yudas Iskariot adalah salah satu dari kedua belas murid yang dipilih langsung oleh Kristus sebagai murid-Nya untuk mendampingi Kristus selama tiga tahun setengah. Dia dipilih menjadi seorang murid dan dipercaya sebagai bendahara tetapi ia juga ditetapkan untuk mengalami kebinasaan. Pemiilihan Yudas membuktikan bahwa, Yesus sendiri mengajarkan pemilihan.[2]
Yudas Iskariot merupakan anak dari simon iskariot, ia satu-satunya murid yang  berasal dari Yudea, daerah pegunungan keras di selatan Yerusalem.[3] Ada dugaan bahwa Yudas Iskariot seorang zelot, kaum zelot pada umumnya seperti Barabas kaum yang suka membuat kerusuhan.[4] Menurut kamus Alkitab Easston oak kaum zeloth adalah:
sebuah sekte Yahudi yang berasal dari Yudas orang Gaulon (Kisah Para Rasul 5:37). Mereka menolak untuk membayar upeti kepada orang-orang Romawi, dengan alasan bahwa ini adalah pelanggaran terhadap prinsip bahwa Allah adalah satu-satunya raja Israel. Mereka memberontak melawan orang-orang Romawi, tetapi segera berserakan, dan menjadi sekelompok penjahat belaka. Mereka kemudian disebut Sicarii, dari penggunaan sica mereka, yaitu belati Romawi.[5] 

Pemilihan Yudas Iskariot sebagai salah satu rasul atau murid yang diutus dilakukan oleh Yesus sendiri (Matius 10:1-15).[6]  Yudas Iskariot merupakan salah satu murid yang diberikan kuasa dan dipersiapkan oleh Yesus untuk diutus memberitakan kerajaan surga. Lukas 6:12 mengatakan bahwa, Yesus berdoa semalaman sebelum menunjuk kedua belas murid, hal ini menunjukan pemilihan kedua belas Murid yang dilakukan Kritus merupakan suatu keputusan yang sangat penting. Yesus mengetahui siapa yang dipilihnya sebagai murid, dan siapa yang akan kengkhianati Dia (Yoh 13:18).
 Yudas dipercaya sebagai bendahara yang mengatur keluar-masuk keuangan Mereka.[7] teks-teks dalam Injil menunjukan bahwa Yudas terlibat dalam pelayanan bersama dengan Yesus dan selalu bersama-sama dengan Yesus. Yudas melihat bagaimana Tuhan Yesus melakukan mujizat-mujizat selama bersama-sama dengan mereka, ia pun menerima pengajaran langsung dari Yesus, bahkan Yudas sendiri diberikan Kuasa untuk melakukan mujizat dan pengusiran roh jahat (Matius 10:1). Hal ini menunjukan bahwa tidak ada perlakuan yang berbeda yang dilakukan Yesus terhadap para murid.
Perihal pemilihan Yudas sebagai murid tapi juga mengalami kebinasaan dapat terlihat dalam teks-teks Injil Yohanes 6: 64,70,71; 13:18; 17:12, dalam teks ini dapat terlihat secara eksplisit perihal Yudas iskariot murid yang dipilih oleh Kristus dan ditetapkan untuk binasa. Kepastian akan nasib Yudas Iskariot pun dapat terlihat dalam Injil lainnya seperti, dalam Matius 26:24; Markus 14:21; Lukas 22:21-22, ketiga injil ini mengatakan “celakalah orang yang menyerahkan anak Manusia lebih baik baginya tidak dilahirkan ke dalam dunia.” Teks-teks paralel ini tidak secara langsung menyatakan bahwa Yudas akan ditetapkan binasa, akan tetapi kata celakalah berasal dari kata οὐαὶ merupakan kata seru yang berarti kesedihan atau penolakan atau keadaan yang sulit dan menakutkan yang akan menimpa.[8] Kata ouai menunjukan keadaan yang mengerikan yang akan menimpa seseorang yang akan menyerahkan Anak manusia. Pengidentifikasian bahwa Yudaslah yang mengkhianati Yesus, dapat terlihat dalam Matius 26:14-16, 47-49; Markus 14:10-11, 43-45; Lukas 22:3-5, 47-38. Ketiga teks injil sinoptik dan injil Yohanes 13:21-30 ini menuliskan bahwa Yudaslah yang telah mengkhianati dan menyerahkan anak manusia.
Bukti bahwa Yudas mengalami kebinasaan selain dari perkataan Yesus dapat terlihat dari cara kematian Yudas, dimana ia mati gantung diri Matius 27:5 dan Kisah para rasul 1:18, mengatakan bahwa Yudas mati dengan perut terbelah.  Kedua hal ini mungkin terjadi apabila tali atau dahan pohon yang dipergunakan menggantung diri putus atau patah.[9] Dalam Kisah para Rasul 1:25 dikatakan bahwa, Yudas telah jatuh ketempat wajar baginya.
Penekanan akan Yudas sebagai Murid yang dipilih oleh Kristus sendiri dan juga sebagai murid yang ditetapkan untuk binasa dapat terlihat dalam Yohanes 6: 70-71 dan Yohanes 17:12. Yoh 6:70-71 Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis." Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.[10]
 (Yoh 17:12) “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.”  Teks ini secara jelas menunjukan adanya salah satu murid yang ditentukan mengalami kebinasaan.
 Yohanes 6:70-71 mengatakan bahwa Kristus sendiri yang telah memilih murid dan salah satunya adalah Iblis, dan ayat 71 mengidentifikasikan siapa yang dimaksudkan iblis oleh Yesus, sedangkan Yohanes 17:12 Tuhan Yesus mengatakan bahwa salah satu dari Muridnya ditetapkan untuk binasa. kecuali dia yang telah ditetapkan untuk binasa dengan tujuan penggenapan dari kitab suci.[11] Kata ditetapkan untuk binasa dalam bahasa Yunani menggunakan kata ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, dalam bentuk genetif, sehingga kata ini berarti bahwa Anak dari kebinasaan. kata ἀπωλείας,  atau kebinasaan memiliki pengertian  seorang yang ditetapkan Tuhan untuk kesengsaraan Abadi.[12]
Pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid dan mengalami kebinasaan menjadi suatu persoalan di dalam Kekristenan. Murid yang dipilih oleh Yesus sendiri dengan mendoakan keputusan-Nya untuk mengangkatnya menjadi Murid, selalu bersama dengan Kristus, ikut serta dalam Pelayanan Yesus, dipercaya sebagai bendahara tetapi memiliki akhir hidup yang tragis. Hal ini mejadi pertanyaan,  benarkah  Yudas Iskariot memang ditetapkan untuk binasa, atau Yudas Iskriot adalah orang yang pada dasarnya tidak percaya dan akhirnya mengkhianti Yesus,[13] sehingga  bertanggung jawab atas kebinasaan yang menimpa dirinya.
Pemilihan Yudas sebagai Murid dan dtetapkan binasa tidak bisa dilepaskan dari doktrin Predestinasi. Suatu Doktrin yang sering kali dihindari oleh gereja-gereja meskipun dalam Alkitab terdapat pengajaran doktrin ini. Banyak orang percaya berpendapat, bahwa Doktrin Predestinasi lebih tepat dibahas dalam kelas-kelas Theologi, tetapi tidak untuk mimbar gereja.[14] Oleh karena itu seringkali dihindari dalam Khotbah-Khotbah dalam gereja.  Predestinasi secara singkat dapat dijelaskan ialah, Allah memilih orang untuk diselamatkan di dalam Kristus sebelum dunia diciptakan, dan membiarkan sebagian orang dalam kebinasaan.[15] Ini menunjukan ada manusia yang dipilih oleh Tuhan akan tetapi ada juga yang ditolak-Nya. Akan tetapi apakah Allah berkenan untuk menolak sebagian manusia dan menerima sebagian manusia, sehingga ada ketetapan untuk membinasakan sebagian manusia. Harun hadiwijono mengatakan bahwa pemilihan kekal adalah kasih karunia Allah tetapi penolakkan merupakan  reaksi dari Allah terhadap manusia  yang menolak ketetapan Allah, dapat dikatakan bahwa kebinasaan merupakan kesalahan manusia itu sendiri.[16]. akan tetapi manusia dengan kehendak bebasnya tidak mungkin dapat menyerahkan diri kepada Allah, sebab orang berdosa tidak lagi dilahirkan dengan kehendak netral melainkan memiliki kecenderungan ke arah kejahatan[17].  jika pemahaman bahwa penolakan terhadap manusia tergantung dari manusia itu sendiri, maka dapat dikatakan kehidupan kekal pun bukanlah suatu hal yang ditetapkan. Akan tetapi penolakan atau ditetapkan untuk binasa bukan persoalan takdir tetapi hal perkenanan Allah, hal yang lebih disukai dan tidak disukai Allah[18].
Dengan adanya pemisahan dan adanya ketetapan antara orang yang akan dibinasakan dan yang akan diselamatkan, bukan saja Allah terlihat sebagai suatu pribadi yang pilih kasih, karena Allah memilih sebagian orang untuk diselamatan. Tetapi hal ini pun akan menghilangkan pengekangan terbaik untuk mengekangnya kedagingan dari manusia yaitu hukuman kekal.[19]
Pemahaman tentang doktrin ditetapkan untuk binasa sendiri masih menjadi perdebatan-perdebatan bagi para teolog. John Calvin mengatakan bahwa:
Tidaklah mungkin ada pemilihan jika tidak ada penolakan; alasan dari penolakan Allah hanyalah karena ia tidak mau memberi mereka bagian dalam warisan yang melalui Predestinasi Dia peruntuknan bagi anak-anak-Nya. Calvin mengatakan bahwa ditetapkannya sebagian orang untuk binasa merupakan bagian dari kedaulatan Allah, dalam Amsal 16:4 orang fasik diciptakan untuk hari malapetaka. Allah dengan jelas menyatakan bahwa  ada benda-benda kemurkaan yang disiapkan untuk kebinasaan, dan Ia menyatakan kekayaan dan kemuliaan-Nya atas benda –benda belas kasihan yang disiapkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya (Rm.9:22)[20].

Akan tetapi Armenianisme tidak sepaham dengan Calvin, mereka berpandangan: 
Arianisme percaya bahwa Allah tidak menghendaki satu orang pun untuk binasa. Dalam Perjanjian lama Allah dengan jelas menyatakan hal ini dalam Yeh 33:11 menyatakan bahwa Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan berkenan pada pertobatan orang fasik, dan hal ini diperkuat dalam perjanjian baru, rasul Petrus dalam suratnya II Pet 3:9, menyatakan bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan berbalik da bertobat, hal senada dikatakan oleh Paulus dalam I Tim 2:3-4, bahwa Allah mengkhendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Secara garis besar kaum Arianisme memahami bahwa manusia mampu untuk percaya, dan memenuhi syarat-syarat untuk keselamatan. Kaum ini mengakui bahwa keselamatan adalah anugerah tetapi manusia berhak menolak atau menerimanya.[21]

Menurut Armenianisme keselamatan ataupun kebinasaan manusia tergantung dari respon manusia terhadap tawaran keselamatan yang dberikan Allah kepada setiap manusia. Penulis lebih setuju dengan apa yang diajarkan oleh Calvin, sebab pemilihan merupakan kedaulatan dari Allah, dan Allah telah mengetahui siapa saja orang-orang yang memang pada akhirnya menolak Kristus dan yang akan menerima Kristus. Jika beranggapan seperti kaum Armenian bahwa manusia dengan kehendak bebasnya dapat menolak akan keselamatan yang ditawarkan, maka hal ini sama saja menghilangkan kedaulatan Allah. dan jika hal ini dianggap bahwa Allah tidak menghargai kehendak bebas dari manusia, yang Allah berikan. Perlu disadari Kedaulatan Allah atas segala sesuatu menandakan bahwa kebebasan manusia ada di bawah kedaulatan Allah.[22] 
Ajaran ditetapkan untuk binasa atau reprobation yang merupakan bagian dari doktrin Predestinasi, telah menjadi suatu perdebatan dalam gereja-gereja sampai saat ini dibandingkan dengan doktrin ditetapkan selamat atau election.  Terkhususnya berkaitan dengan kedaulatan Allah dan tanggung jawab Manusia yang dirangkaikan dengan  kebenaran dan kekudusan Allah  serta keadaan manusia yang penuh dosa.[23] Sebab itu sangat penting untuk memahami ajaran ditetapkan binasa dan pemilihan yang Allah lakukan dengan benar. Pemilihan Yudas iskariot sebagai murid yang yang ditetapkan untuk binasa, menggambarkan pentingnya untuk memahami doktrin pemilihan dan predestinasi dengan tepat.
Berdasarkan dari permasalahan tentang dipilihnya Yudas Iskariot sebagai murid yang ditetapkan binasa dan berbagai pandangan tentang doktrin Predestinasi terkhususnya ajaran ditetapkan binasa yang beragam, penulis mempertanyakan pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid, peranan dan tanggung jawab Yudas dalam keselamatannya, dan bagaimana hubungannya dengan doktrin keselamatan.
 Melalui pembahasan di atas, maka penulis merasa perlu membahas “makna pemilihan Yudas Iskariot murid yang ditetapkan binasa dan kaitannya dengan predestinasi”, dengan tujujuan untuk memenuhi sebagian dari persyaratan akademis guna memperoleh gelar sarjana Teologi (S.Th) di sekolah Tinggi Providensia Adonay dan  dapat memberikan pemakahaman yang benar kepada orang percaya tentang pemilihan Yudas dan Predestinasi.

B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas berkaitan dengan pemilihan Yudas yang ditetapkan binasa. permasalahan ini secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.        Apakah Tujuan pemilihan Yudas Iskariot sebagai Murid
2.        Bagaimana Peranan dan tanggung jawab Yudas Iskariot dalam keselamatannya
3.        Apakah kaitan pemilihan Yudas dengan doktrin Predestinasi

C.           Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah maka yang menjadi tujuan dari penulisan skiripsi ini adalah:
1.      Penulis memahami dengan benar tujuan pemilihan Yudas Iskariot
2.      Penulis memahami peranan dan tanggun jawab Yudas Iskriot bagi keselamatannya. Apkah ia memang ditetapkan untuk binasa atau apakah kebinasaannya merupakan dampak dari perbuatannya sendiri.
3.      Memahami dengan benar doktrin Presdestinasi berdasarkan tokoh Yudas Iskariot

D.           Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan menggunakan metode penulisan deskripsi dengan kajian kepustakaan murni. Yaitu penulis memaparkan latar belakang Yudas Iskriot serta pelayanannya dan menjelaskan penolakan terhadap Yudas, penulis akan menjelaskan alasan Yudas dipilih menjadi murid. Serta memperbandingkan doktrin yang diakui.

E.            Kegunaan Penulisan
1.        Bagi penulis: Dapat menambah wawasan yang benar tentang pemilihan Yudas Iskariot murid yang ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin Predestinasi terkhususnya doktrin ditetapkan untuk binasa.
2.        Bagi pembaca: Dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang pemilihan Yudas sebagai Murid yang ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin predestinasi sehingga tidak memiliki konsep yang keliru terhadap pemilihan Yudas dan doktrin Predestinasi yang berkaitan dengan kebinasaan.

  1. RUANG LINGKUP PENULISAN
Penulisan skripsi ini berkaitan dengan pemilihan Yudas Iskriot serta alasan pemilihan Yesus terhadap Yudas menjadi seorang murid tetapi memiliki nasib akhir yang mengerikan

G.           Sistematika Penulisan
BAB I: Merupakan pendahuluan, Sub pokok bahasannya meliputi,
A.    Latar Belakang Masalah,
B.     Rumusan Masalah,
C.     Tujuan penulisan,
D.    Metode Penulisan
E.     Kegunaan Penulisan
F.      Sistematika Penulisan

BAB II: Penulis akan membahas tentang Yudas Iskariot dan pandangan-pandangan ditetapkan binasa, meliputi
A.      Latar belakang Yudas Iskariot
B.       Berbagai Pandangan Tentang Yudas Iskariot
BAB III: Penulis akan makna membahas pemilihan Yudas iskariot sebagai murid yang   ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin predestinasi. Hal tersebut meliputi;
A.    Pandangan Para tokoh Tentang Predestinasi berkaitan dengan doktrin ditetapkan binasa
B.     Peranan dan tanggung jawab Yudas Sebagai Murid
C.     Peranan Yesus sebagai Guru dari Yudas
D.    Kaitan ketetapan Yudas untuk dibinasakan dengan Doktrin Predestinasi

BAB IV: Penulis akan membahas tentang implikasi dari hasil kajian pustaka dari Bab III, kepada orang percaya sehingga dapat memiliki konsep yang benar tentang pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid yang ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin Predestinasi

BAB V:  Merupakan bagian penutup yang meliputi,
   kesimpulan dan saran






BAB II
PANDANGAN-PANDANGAN TERHADAP YUDAS ISKARIOT

A.                LATAR BELAKANG YUDAS ISKARIOT
            Dalam Alkitab terdapat sedikit informasi tentang latar belakang dari Yudas Iskariot. Yudas Iskariot dalam kitab Injil biasanya dituliskan pada urutan terakhir dalam daftar murid-murid Yesus dan disertai kesan Buruk. Menurut Yoh 6:71; 13:2,26, diketahui ayahnya bernama Simon.  Kata Yudas merupakan ejaan dari bahasa Yunani untuk nama ibrani Yehuda yang berarti “terpuji”[24]. The American heritage dictionary memberikan pengertian kata judas yaitu, orang yang mengkhianati orang lain dengan kedok persahabatan.[25] Kata Iskariot berasal dari bahasa ibrani  ish qeriyot artinya orang kerioth.[26] Iskariot menunjukan bahwa ia berasal dari daerah Iskariot-herizon di Yudea, hal ini menunjukan bahwa Yudas satu-satunya murid yang berasal dari luar Galilea.[27]
Terdapat juga pendapat yang menyatakan nama Iskariot menerangkan bahwa Yudas bagian dari kelompok sicarii, yaitu  kelompok politik radikal.[28] Nama iskariot merujuk pada kata  yunani  σικάριοι yang berarti pembunuh terlatih yang menggunakan pisau kecil[29]. Akan tetapi pandangan Yudas Iskariot merupakan bagian dari kelompok sicarii tidak dapat dipertahankan sebab, seorang ahli Alkitab  Reymond a Brown yang melakukan penelitan sejarah menyatakan bahwa kelompok Sicarii muncul antara tahun 40 sampai tahun 50 setelah kematian Yesus.[30]
Nama Iskariot dapat dipastikan merupakan nama tambahan yang diberikan kepada Yudas untuk menyatakan kota dari mana Yudas berasal dan juga bertujuan untuk membedakan nama Yudas Yang mengkhianati dengan nama Yudas yang terdapat dalam Alkitab, sebab nama Yudas merupakan nama yang cukup populer dalam yudaism, seperti Yudas anak Yakobus (Lukas 6:16), Yudas saudara Yesus (Matius 13:55). Yudas yang disebut Barabas seorang Kristen termuka di Yerusalem dan seorang rekan Paulus (KPR15: 22), Yudas pemimpin revolusi (KPR 5:37).[31] Yudas yang disebut juga Tadeus yang berarti “sipemberani”.[32]  Membahas latar belakang kehidupan Yudas iskarioth tidak bisa dilepaskan dari pelayanan Yudas iskarioth bersama kedua belas Murid.[33] 
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter adalah ciri atau tanda khusus yang menunjukan adanya  suatu “kekuatan”  atau “kelemahan” dalam diri seseorang.[34] Kedua belas Murid Yesus memiliki latar belakang  yang berbeda-beda seperti nelayan, pemungut pajak, aktivis politik dan berbagai latar belakang lainnya.[35] Karena itu para murid Kristus memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain, Yudas Iskariot pun memiliki karakter yang berbeda dengan  murid yang lain.  Jabatannya sebagai bendahara menunjukan bahwa Yudas bukanlah orang yang bodoh.[36] Berdasarkan Injil Yohanes 12:2-6, maka dapat disimpulkan bahwa Yudas memiliki karakter yang kurang baik. Yudas memiliki karakter,
Dia tidak peduli dengan orang miskin. Dia adalah seorang pria yang keras hati, terlalu  dengan dirinya sendiri sementara orang lain yang kurang beruntung di sekitarnya tidak diperhatikannya,  Dia adalah seorang pencuri, mencuri uang dari uang kas  yang dipegangnya.[37]
Sajian Yohanes ini menelanjangi ketamakan Yudas, Yudas hanya melihat segala sesuatu yang dapat menambah uang  kas dengan demikikan ia dapat menambah isi kantongnya.[38] Melalui penelitian dari keempat Injil  dapat  ditemukan karakter-karakter dari  Yudas Iskariot[39] yang dituliskan oleh para penulis.
Matius 27:1-5 merupakan satu-satunya dalam kitab Injil yang menuliskan akan penyesalan Yudas setelah ia mendengar hukuman yang diterima Yesus, dan cara kematian Yudas Iskariot. Melalui teks ini dapat terlihat karakter Yudas yang lain dan terjadinya perubahan yang terjadi pada diri Yudas. Perubahan karater Yudas yang sebelumnya mencintai uang kini tidak lagi mencintai uang. Kata “mengembalikan” menggunakan kata  ἀπέστρεψεν dalam bentuk aorist aktif[40]. Bentuk aorist menyatakan sesuatu yang pernah dilakukan atau pernah terjadi, bukan dilakukan untuk seterusnya.[41] Kata ἀπέστρεψεν memiliki pengertian perubahan keyakinan atau perilaku yang disebabkan oleh suatu hal.[42] Perubahan karakter Yudas terjadi oleh karena penyesalan yang mendalam akibat dari penghukuman yang ditimpakan kepada Yesus Kristus. Ini menunjukan adanya perubahan dalam menyikapi harta, yang tadinya dianggap penting sekarang tidak lagi.[43] Pengembalian uang tiga puluh keping perak merupakan usaha terakhir Yudas untuk menebus kesalahannya dengan berusaha membebaskan Yesus dari para Imam dan ahli Taurat. Akan tetapi usaha yang dilakukanya sia-sia. Setelah usaha yang dilakukan sia-sia Injil matius mencatat Yudas lalu pergi dan melakukan bunuh diri dengan menggantung dirinya.
Yudas iskariot adalah murid yang menyerahkan Yesus kepada pihak berwenang dengan tiga puluh keping perak, setelah mengetahui hukuman mati yang menimpa Yesus, ia pun menyesali perbuatannya, dan mengembalikan uang yang ia terima namun ditolak oleh pihak berwenang, Yudas menanggapi penyesalannya dengan gantung diri.[44]
Kitab-kitab Injil sepakat Yudas Iskariot mengkhianati Yesus dengan menyerahkanya kepada para imam dan ahli Taurat yang membeli Yesus dengan tiga puluh keping perak, akan tetapi tidak satupun dari kitab Injil yang mengatkan mengapa Yudas mengkhianati Yesus.[45]
Banyak pendapat yang mengemukakan motivasi Yudas Iskariot dalam mengkhianati Yesus Kristus dan teman sejawatnya, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa motivasi Yudas mengkhianati Yesus adalah cinta Uang, Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa pengkhianatan yang Yudas lakukan bertujuan menciptakan suatu keadaan Krisis terhadap Kristus dengan menghadapkan Kristus pada musuh-musuh-Nya sehingga Yesus menyatakan Kemesiasan-Nya pada orang banyak.[46] Teori ini diperkuat dengan sikap dari Yudas yang menyesal ketika apa yang direncanakannya  tidak berhasil, sebab dia berpikir Mesias tidak mungkin mati akan tetapi pemikirannya salah, Yesus di hukum mati hal inilah yang membuatnya menyesali pengkhianatan yang dilakukannya.[47]
Alasan yang mendasari pengkhianatan Yudas terhadap Yesus Kristus menurut Robert W Lyon dalam Enclopedia of the bible terdapat enam alasan yang mendasari Yudas yaitu,
1.      Yudas merupakan seorang yang patriotic. Yudas menyerahkan Yesus kepada para Imam dan ahli taurat, oleh karena ia telah menyadari bahwa Yesus tidak berniat mengulingkan kekaisaran Romawi dan mendirikan kerajaan Yehuda.
2.      Yudas percaya bahwa Yesus adalah mesias, ia merencanakan penangkapan Yesus dengan harapan untuk mendesak agar Yesus menyatakan kerajaannya.
3.      Yudas memang orang fasik yang merencanakan pengkhiantan sejak awal ia bergabung dalam kelompok dua belas murid.
4.      Yudas mengkhianati Yesus oleh karena ia ditipu oleh Iblis, dan setelah menyadari hal tersebut ia bunuh diri.
5.      Perasaan kecewa dan dipermalukan secara keras oleh Yesus, Yudas yang awalnya murid setia kini menjadi penentang Yesus.
6.      Tergerak oleh keserakahannya sendiri, dan menyerah pada naluir keegoisannya ia menyerahkan Yesus tanpa mengetahui hasol dari pengkhianatnya.[48]
Selain berbagai pandangan yang menyatakan alasan Yudas mengkhianati Yesus yang berasal dari Injil, terdapat juga pandangan lain yang menyatakan alasan Yudas mengkhianati Yesus yaitu seperti, sekte Kainte dan pandangan dari Injil Yudas. Pandangan Yudas sebagai pahlawan, bukan sebagai pengkhianat dianut oleh sekte Kainite, sebab sekte ini menganggap pengkhianatan terhadap Yesus Kristus merupakan misi Ilahi bagi Yudas Iskariot.[49] Keberadaan sekte kainite dapat dikendalikan setelah cardinal Irenaeus mengumukan secara resmi bahwa aliran gnosistisme sebagai bidat.[50] Pandangan sekte kainite serupa dengan pandangan Injil Yudas, yaitu motivasi dari Yudas menjual Yesus bukanlah pengkhianatan tetapi membantu Yesus untuk lepas dari ragawi-Nya yang mengekang roh-Nya.
Motivasi Yudas dalam mengkhianati Yesus merupakan suatu misteri yang masih diperdebatkan. Pandangan Irenaeus yang dikutip oleh N.T wright dalam bukunya judas and the gospel of jesus mengatakan. “Orang-orang lain menyatakan bahwa Yudas sipengkhianat itu benar-benar memahami hal-hal ini , dan Yudas sendiri yang mengetahui kebenaran itu sementara orang lain tidak.”[51]  Dengan berbagai pandangan dan teori tentang motivasi Yudas mengkhianati Yesus, maka benar yang dikatakan Irenaeus yang  mengatakan bahwa, Yudas Iskariot, merupakan orang yang mengetahui dengan pasti apa motivasi dia dalam mengkhianati Yesus, karena itulah motivasinya menjadi suatu misteri yang masih ada sampai saat ini  

B.     PANDANGAN- PANDANGAN TENTANG YUDAS ISKARIOT
1.             Yudas Iskatiot Menurut Injil Yudas
Dalam Injil Yudas, pengkhianatan yang dilakukan Yudas dilakukan dengan penuh kesadaran, dia melakukannnyan oleh karena Yesus yang memintanya.[52] Injil Yudas  mengatakan Yesus bersabda kepada Yudas: “Engkau akan lebih besar daripada semua, karena engkau mengorbankan wujud Manusia yang meragaiku”[53] dalam Injil Yudas di katakan  Tandukmu telalh ditinggikan, murka telah disulut bintang mu Nampak begitu  cemerlang dan hati mu telah […]”[54]
 Injil Yudas memandang Yudas Iskariot berbeda dengan Injil-Injil Kanonik, memandang Yudas Iskariot sebagai Murid yang dikasihi Kristus, murid yang membebaskan Yesus dari raga jasmani yang mengekang Roh-Nya.  Yudas dalam Injil Yudas dianggap sebagai pahlawan bukan sebagai pengkhianat, Yudas bersedia menjadi pengkhiantat untuk menyerahkan Yesus kepada para musuh Yesus, oleh karena Janji kemuliaan yang akan diterimanya.

2.             Pandangan agama Islam tentang Yudas Iskariot
Perbedaan Pandangan tentang Yudas Iskariot terdapat juga dalam agama islam. Dalam agama Islam Yudas dikatakan bukan hanya dikatakan sebagai Pengkhianat tetapi sebagai murid yang rela berkorban untuk Isa atau Yesus. Dikisahkan bahwa Yudas adalah seorang murid yang bersedia diserupakan dengan Isa al masih. Konteks tafsiran Ibnu katsir sebelum Isa ditangkap untuk disalibkan terjadi pada malam hari, sebelum disalibkan Isa berkata:
“Siapakah di antara kalian yang mau diserupakan seperti diriku? Kelak dia akan menjadi temanku di surga.”  Maka majulah seorang pemuda yang rela berperan sebagai Nabi Isa. Tetapi Nabi Isa memandang pemuda itu masih terlalu hijau untuk melakukannya. Maka ia mengulangi permintaannya sebanyak dua kali atau tiga kali. Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tiada seorang pun yang berani maju kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa berkata, “Kalau memang demikian, jadilah kamu seperti diriku.” Maka Allah menjadikannya mirip seperti Nabi Isa a.s. hingga seakan-akan dia memang Nabi Isa sendiri.[55]
Tafsiran teks Ibnu katsir memang tidak menyebutkan siapa nama murid yang diserupakan dengan isa, tetapi  dalam tafsiran kementerian agama RI untuk surat Annisa 157 mengatakan orang yang disalibkan bukan Isa tetapi salah satu dari muridnya yaitu Yudas Iskariot.[56]
Dalam agama Islam pun terjadi perdebatan tentang Yudas Iskariot, jika Tafsiran Ibnu katsir dan kementerian Agama memandang Yudas sebagai pahlawan, berbeda halnya dengan tafsir Al-misbah berkaitan dengan surah Annisa 157. teks surah Annisa 157 “berkata:
mereka tidak membunuhnya tidak pula menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Dan sesugguhnya orang-orang berselisih paham tentang isa, benar-benar dalam keraguan.
 Orang yang diserupakan seperti Isa adalah Yudas yang masuk dengan kasar ke kamar tempat di mana Yesus diangkat ke surga, maka saat itu Yudas diserupakan dengan Isa/Yesus.[57] Dan orang-orang yang berselisih paham tentang identitas yang disalibkan adalah kaum Nasrani dan Kaum Yahudi.
Pengangkatan Isa tidak diketahui oleh para muridnya, sebab dilakukan pada saat semuanya tertidur. Penyerupaan Yudas pun tidak diketahui dirinya dan para murid yang lain, hal ini jelas dikatakan  tafsir Al Misbah, setelah Yudas diserupakan ia membangunkan murid yang lain untuk menanyakan keberadaan gurunya, tetapi mereka menjawab bahwa Yudaslah guru itu.[58]

Orang-orang yang berselisih paham yang dimaksudkan disini adalah, orang Yahudi yang menduga telah membunuhnya dan kalangan nasrani yang percaya akan hal itu.[59]
Berdasarkan hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, terdapat pertentangan di dalam agama Islam sendiri perihal Yudas Iskariot. Akan tetapi terdapat satu kesimpulan yang sama yaitu, bahwa Isa tidaklah mati disalib, Isa diangkat sebelum penangkapan terjadi, dan identitas orang yang diserupakan ialah Yudas Iskariot salah satu dari dua belas murid Isa.

3.             Pandangan Injil Barnabas terhadap Yudas.
Injil barnabas yang ditemukan di Turki diperkirakan berusia seribu lima ratus tahun dan berbahasa Aramic. Injil ini pertama kali dipublikasikan tahun 2012, akan tetapi telah tersimpan di museum ankara selama dua belas tahun.[60] Injil Barnabas memandang Yudas Iskariot hampir sama seperti Agama Islam memandang Yudas Iskariot yaitu Yudas diserupakan dengan Yesus dan dia yang disalibkan. Pengkisahan tentang Yudas Iskariot dalam Injil barnabas terjadi dalam pasal 214-217, yang berisikan:
Yudas mengetahui tempat di mana Yesus dengan murid-murid, pergi kepada imam besar, dan berkata: "Jika Anda akan memberikan apa yang dijanjikan, malam ini akan saya berikan ke dalam tangan Yesus yang kamu cari, karena dia sendirian dengan sebelas sahabat. " Imam besar: "Berapa banyak yang kamu cari?" Yudas berkata, "Tiga puluh keping emas."(214)
“Ketika para prajurit bersama dengan Yudas mendekati tempat di mana Yesus berada, Yesus mendengar langkah kaki orang banyak. Dalam ketakutan, Yesus masuk ke sebuah rumah. Saat itu, kesebelas murid-murid sedang tidur. Allah, yang telah melihat kesesakan hamba-Nya, menyuruh Gabriel, Michael, Rafael dan Uriel—para pelayan-Nya untuk mengangkat Yesus dari dunia ini. Para malaikat kudus datang dan mengangkat Yesus melalui sebuah jendela ke arah Selatan. Mereka membawa Yesus dan menempatkan-Nya pada surga tingkat ketiga bersama dengan kumpulan para malaikat Allah” (215)
“Dengan tergesa-gesa Yudas masuk ke ruangan [tempat Yesus bersembunyi sebelumnya dan] tempat Yesus diangkat oleh para malaikat. Saat itu, murid-murid masih tertidur. Dengan perbuatan ajaib Allah, gaya bicara dan wajah Yudas berubah menjadi seperti Yesus. Kemudian, ia membangunkan kami dan bertanya dimanakah Guru berada. Tetapi kami menjadi terheran-heran dan menjawab, ‘Tuhan, bukankah Anda Tuan [dan Guru] kami? Apakah Tuan tidak mengenal kami?’
Dan ia, sambil tersenyum, berkata, ‘Kalian bodoh, apakah kalian tidak mengenali saya? Saya adalah Yudas Iskariot!’ Ketika ia berbicara demikian, masuklah para prajurit dan menangkap Yudas, sebab ia begitu mirip dengan Yesus dalam segala hal. (216)
“Para prajurit menangkap Yudas dan mengikatnya sambil mengolok-olokinya. Sebab dengan jujur ia membantah bahwa dirinya adalah Yesus. Yudas menjawab: ‘Aku sudah memberitahukan kalian bahwa aku adalah Yudas Iskariot, yang telah berjanji untuk menyerahkan kepada tanganmu Yesus orang Nazaret; dan kalian, aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada diri kalian sehingga kalian tetap saja bersikeras menganggapku Yesus.’ Lalu imam besar menjawabnya: ‘Oh si penggoda yang jahat, engkau telah mendustai seluruh Israel, bermula dari Galilea bahkan sampai ke sini, di Yerusalem, dengan pengajaranmu dan mujizat-mujizat palsu. Apakah sekarang engkau berusaha untuk lari dari hukuman yang setimpal dengan cara berpura-pura menjadi gila?’ Kemudian mereka membawanya kepada seorang wali negri. Wali negeri itu bertanya kepada Yudas: ‘Bukankah engkau tahu bahwa aku bukanlah orang Yahudi? Tetapi para imam besar dan tua-tua kaummu telah menyerahkan engkau ke dalam tanganku. Katakanlah yang benar kepadaku agar aku dapat berbuat yang baik kepadamu. Sebab aku mempunyai kuasa untuk membebaskanmu dan untuk menjatuhkan hukuman mati padamu.’ Yudas menjawab: ‘Tuan, percayalah kepadaku, jika tuan menjatuhkan hukuman mati padaku, maka tuan telah berbuat kesalahan besar. Sebab tuan membunuh orang yang tidak bersalah, karena aku adalah Yudas Iskariot, bukan Yesus—si penyihir yang telah mengubah diriku secara fisik.
Ketika mendengar hal ini, wali negri itu terkejut sehingga ia berusaha untuk membebaskan Yudas. Lalu wali negri keluar berkata: ‘Setidaknya, orang ini tidak layak untuk dijatuhi hukuman mati, melainkan perlu dikasihani.’ sungguh ia telah kehilangan akal sehatnya, dan seorang yang gila tidak layak untuk dijatuhi hukuman mati.’
Akhirnya para imam besar dan tua-tua Yahudi, bersama dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi berteriak dengan nyaring: ‘Ia adalah Yesus orang Nazaret, sebab kami mengenalinya. Jika ia bukanlah seorang jahat, maka kami tidak akan menyerahkannya ke dalam tanganmu. Ia sama sekali tidak gila, melainkan jahat. Dengan cara inilah ia berusaha untuk melarikan diri dari tangan kami. Akan lebih berbahaya lagi jika ia sampai lepas dari hukuman ini.’
Lalu mereka membawanya ke bukit Kalvari, tempat mereka menggantung para orang jahat, dan disanalah mereka menyalibkan dia dengan telanjang untuk mempermalukannya. Yudas tidak dapat melakukan apa-apa selain berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku? Sedangkan orang jahat itu [Yesus] telah melarikan diri dan aku harus mati secara tidak adil?’ (217)[61]

Berdasarkan isi dari Injil barnabas[62] pasal 214 sampai 217 penulis mengambil kesimpulan bahwa Injil Barnabas memandang Yudas sebagai seorang pengkhianat yang menyerahkan Yesus kepada para musuhNya. Namun oleh karena kuasa Tuhan rencananya gagal, justru dia sendiri yang ditangkap dan disalibkan, karena Allah telah menyerupakan dia dengan Yesus. Injil Barnabas menolak Kristus mati di salibkan. Kristus tidaklah mati, tetapi dia diangkat sebelum dia ditangkap. Pemahaman Injil Barnabas sama seperti salah satu pemahaman agama Islam tentang Yesus dan Yudas.
4.        Pandangan Injil Kanonik Terhadap Yudas Iskariot
Kitab-kitab Injil dituliskan oleh penulis berbeda dan tujuan penulisan yang berbeda-beda tetapi, kitab Injil berfungsi sebagai biografi Yesus.[63] Injil-Injil kanonik secara pasti mengidentifikasikan Yudas sebagai pengkhianat yang menyerahkan Yesus kepada musuh-musuh-Nya. Dalam Injil kanonik pun terdapat berbagai macam pandangan terhadap Yudas Iskraiot namun tidak bertentangan melainkan saling melengkapi.

a.              Yudas Iskarioth Menurut Injil Matius
Injil Matius memberikan citra Yang lebih buruk kepada Yudas, sebab dialah yang meminta upah kepada imam.[64] Matius 26:15-16 Ia berkata” apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepadamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Injil Matius ingin  menunjukan alasan Yudas mengkhianati Yesus.[65]
Pengidentifikasian Yudas sebagai Pengkhianat terjadi pada saat perjamuan malam dalam Matius 26:20-25 ketika Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari murid akan menyerahkan Yesus. Injil Matius mencatat setiap murid menyebut Yesus sebagai Tuhan (22), akan tetapi berbeda dengan Yudas, ia menyebut Yesus sebagai rabi (25). Dalam ayat 25 secara jelas dikatakan bahwa Yudaslah yang akan menyerahkannya.
Injil Matius adalah satu-satunya Injil yang menunjukkan penyesalan dari Yudas yang telah menyerahkan Yesus dan menuliskan bagaimana kematian Yudas Yaitu dengan gantung diri (Matius 27:1-10). Dalam teks ini dijelaskan bagaimana pengakuan penyesalan Yudas yang telah menjual orang yang tidak berdosa setelah ia mengetahui penghukuman yang akan diterima Yesus (ayat 3), kata menyesalahlah ia (μεταμεληθεὶς) bukanlah istilah perjanjian baru yang biasa dipakai untuk pertobatan yang mengarah pada keselamatan.[66]  μεταμεληθεὶς mempunyai kata dasar metamelomai kata ini menunjukan adanya perubahan emosional yang mengarah pada penyesalan tetapi tidak pada perobatan.[67]  Pengakuan Yudas “aku telah berdosa”  ἥμαρτον ( ayat 4) dalam bentuk Aorist aktif dari kata dasar amartano.[68]  Yudas mulai menyadari akan betapa jahat perbuatannya.[69] Bentuk penyesalan Yudas diaplikasikan dengan usahanya untuk membatalkan hukuman yang telah dijatuhkan kepada Yesus dengan mengakui kesalahannya di depan para imam yang menghukum Kristus dengan mengembalikan tiga puluh keping perak kepada para imam, akan tetapi para imam menolak, karena itu Yudas melempar uang tersebut kedalam bait suci dan  pergi gantung diri (ayat 5). Keputusannya untuk mengembalikan tiga puluh keping perak merupakan suatu bukti bahwa Yudas Iskariot menyesali perbuatannya tetapi tidak sampai pada keputusan untuk bertobat.

b.             Yudas Menurut Injil Markus
Permulaan Injil Markus telah disebutkan terjadinya pertentangan antara Yesus dengan para imam, ahli Taurat, dan ahli-ahli Taurat (Markus 2). Pertentangan ini memicu orang-orang Farisi untuk bersekongkol dengan orang-orang Herodian[70] untuk membunuh Yesus. Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya sebanyak tiga kali tentang kematian-Nya bahwa Anak manusia akan diserahkan dan akan dibunuh dan akan bangkit pada hari ketiga (Markus 8:31; Mrk 9:31; dan Mrk 10:33-34).  Dalam Mrk 8:31 Yesus mengajarkan bahwa Anak manusia Harus (Dei) banyak menanggung pendertiaan. Kata harus menyiratkan jauh sebelumnya Tuhan Allah sudah menetapkan hal ini bagi Anak manusia yang diutus-Nya itu.[71] Kata dei menunjuk pada sesuatu yang mutlak perlu dalam keseluruhan misi- Nya.[72] Dalam Markus 9:31 dan 10:33, “Anak manusia akan diserahkan” (παραδοθήσεται), kata ini menunjukan tindakan pengkhianatan atau menyerahkan seseorang kepada musuhnya.[73] Dalam pemberitahuan-Nya yang ketiga (Mrk 10:32), menegaskan bahwa apa yang pernah dberitahukan oleh-Nya akan benar-benar terjadi, waktunya sudah tiba.[74] Ketiga pemberitahuan ini dimaksudkan untuk merubah pola pikir para murid tentang konsep Mesias secara politik yang akan memulihkan kerajaan Israel, (Bdk KPR 1:6) dan juga untuk mempersiapkan para murid agar siap mental.
Melalui ketiga pemberitahuan ini para murid jelas mengetahui bahwa Yesus akan diserahkan kepada para imam dan ahli-ahli taurat untuk dianiaya dan dibunuh oleh bangsa asing. Akan tetapi konsep berpikir kedatangan Mesias untuk memulihkan kerajaan Israel secara politik membuat mereka tidak mengerti dan tidak menerima apabila Guru mereka yang mereka percaya sebagai Mesias harus menderita dan mati. Yesus sendiri memandang kematian-Nya sebagai sesuatu yang diharuskan Allah, untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk 10:45;bdk 1 kor:15:3-4).[75]
Pengkhianatan Yudas dalam Injil Markus dilakukan setelah peristiwa Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (Mrk 14:3-9). Yudas sendirilah yang berinisiatif untuk mengadakan mufakat dengan para imam. Markus 14:10-11 mengatakan bahwa Yudaslah yang mendatangi para Imam dan menawarkan untuk menyerahkan Yesus kepada para Imam. Melalui penawaran ini Yudas merencanakan penerimaan upah dari para imam untuk dirinya sendiri.[76] Penawaran ini direspon gembira dan mereka menjanjikan uang kepada Yudas, Dan Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Perayaan Paskah terakhir Kristus dalam Markus 14:12-21 Tuhan Yesus memberitahukan kepada para Murid bahwa salah seorang dari mereka akan mengkhianati Yesus dengan menyerahkan-Nya. Kematian atau kepergian anak Manusia memang akan digenapi sesuai dengan kitab suci, akan tetapi orang yang menyerahkannya akan menerima nasib yang buruk (Mrk 14:21). Kata “celakalah” bukanlah seruan agar Yudas bertobat, tetapi merupakan ancaman bagi orang yang akan menyerahkan Yesus.[77] perkataan Yesus merupakan peringatan yang mengerikan bahwa tindakan setiap orang memiliki konsekuensi.[78] Perjamuan  paskah yang terakhir menegaskan kembali bahwa Kematian-Nya adalah kehendak Allah. tapi juga mengecam dan mengutuk murid yang akan mengkhianati-Nya.
Penangkapan Yesus (Mrk 14:43-52) terjadi di taman Getsemani ketika Kristus sedang bersama para murid. Lalu datang Yudas bersama para prajurit suruhan para imam dengan, Yudas datang dan memanggil Kristus “Rabi” lalu mencium-Nya, lalu para prajurit menangkap-Nya. ayat 49b menegaskan bahwa penangkapan Kristus pada malam itu harus terjadi dan merupakan penggenapan dari kitab suci. 


c.              Yudas Menurut Injil Lukas
          Permulaan Injil Lukas berbeda dengan Injil-Injil lainnya, Injil Lukas menuliskan siapa yang menjadi tujuan dari penulisannnya yaitu Teofilus. Penulisan Injil Lukas dilakukan dengan penyelidikan secara sekasama (Luk 1:1-4). Pendahuluan ini memberikan keterangann yang dapat dipercaya dokter Lukas pasti telah mengumpulkan bahan, menyadur dan menelitinya sebelum dia bukukan.[79]
          Peristiwa Yesus dicobai Iblis di padang gurun (Luk 4:1-13) mengatakan setelah Yesus berhasil melewati pencobaan dikatakan bahwa Iblis undur dari Yesus dan menunggu waktu yang tepat. Peristiwa pengkhianatan Yudas diceritakan pasal 22:3-6. Lukas 22: 3 menyatakan bahwa Iblis telah datang kembali dan melakukan serangan yang menentukan atas Yesus.[80] Injil Lukas mengatakan hal yang berbeda mengenai pengkhianatan yang dilakukan Yudas dibandingkan Injil Matius dan Markus. Injil Lukas menenjelaskan bahwa Pengkianatan Yudas Iskariot dilakukan oleh karena ia dirasuki oleh Iblis. Peristiwa Yudas dirasuki Iblis tidak terjadi begitu saja, keaktifan bekerja Iblis dalam peristiwa-peristiwa minggu sebelumnya tidak bisa diabaikan.[81] Peristiwa Yudas yang dirasuki oleh Iblis menunjukan bahwa Iblis menunggu waktu yang tepat untuk dia kembali (bdk Luk 4:13).
          Injil Lukas memberikan stigma yang lebih buruk dibandingkan kedua Injil sipnoptik lainnya mengenai alasan Yudas iskariot mengkhianati Yesus. Injil Matius dan Markus memberitahukan penyebab Yudas mengkhianati Yesus adalah ketamakannya terhadap uang. Berbeda dengan Injli Lukas, menurut Lukas penyebab Yudas menjadi pengkhianat adalah tidak hanya faktor Ketamakannya tapi juga Yudas membiarkan dirinya dirasuki oleh Iblis, sehingga ia menjual gurunya.

d.             Yudas Iskariot menurut Injil Yohanes
Pengkidentifiksian Injil Yohanes terhadap Yudas Iskariot sama seperti ketiga Injil sinoptik yaitu, seorang pengkhianat, Yoh 6:71. Akan tetapi Injil Yohanes mengidentifikasikan karakter Yudas Isakariot, lebih mendetail dibandingkan ketiga Injil sinoptik. Yohanes secara langsung menyebutkan Yudas sebagai Iblis, Yoh 6:70-71, dikatakan Yesus yang memilih mereka dan salah satu dari para murid adalah Iblis (70), dan yang dimaksudkan adalah Yudas (71). Alasan Yudas disebut Iblis adalah karena ia menyerahkan Yesus. Pemilihan yang Yesus lakukan tidak merujuk pada tujuan kekal Allah.[82]
Selain sebagai pengkhianat Injil Yohanes mengdeskritkan Yudas Iskariot sebagai seorang yang munafik dan pencuri, Yohanes, 12:5-6 mengatakan:
"Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?  Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”

Teks ini menunjukan kemunafikan Yudas Iskarioth, dia menggunakan orang miskin dan pemborosan sebagai alasan untuk kepentingannya sendiri. Yudas adalah seorang bendahara, dan Injil Yohanes menyatakan bahwa Yudas adalah orang yang sudah terbiasa mencuri dari uang kas yang dipercayakan kepadanya. kata mencuri di ayat ini menggunakan kata κλέπτης (Kleptes),[83]  dalam konteks budaya bahasa Yunani tidak sekedar diartikan sebagai seorang yang mencuri, melainkan seseorang yang mengambil barang-barang dengan cara diam-diam dan tidak menggunakan kekerasan.[84] Yudas Iskriot dalam Injil Yohanes di gambarkan sebagai seorang yang terbiasa mencuri dan mencari keuntungan sendiri.
            Peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus, (Yoh 13:1-18), semakin menambah kesan negatif terhadap Yudas. dalam ayat 10, Yesus mengatakan mereka telah bersih, namun tidak semua. Ayat 11a “sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.” Teks narasi ini menyatakan bahwa Yesuslah yang memilih mereka dan Dia tahu bahwa pengkhianatan harus terjadi sebagai penggenapan akan kitab suci (Yoh 13:18). Kutipan “telah mengangkat tumit terhadap aku” bukan hanya meneguhkan apa yang akan dilakukan Yudas telah dinubuatkan tapi juga mengungkapkan sifat licik dan tidak setia dari perbuatannya.[85]
            Yohanes 13:21-30, pada waktu perjamuan malam terakhir Yesus kembali memberitahukan salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya (21). Dalam bagian ini pun Yohanes mengungkapkan alasan lain dari Yudas mengapa ia sampai mengkhianati Kristus, yaitu ia dirasuki Iblis (28), Kristus tahu bahwa Iblis telah merasuki Yudas sepenuhnya, jadi Ia membiarkannya, sebab telah berbagai cara Ia lakukan untuk mengisafkan Yudas.[86]
Penekanan Yudas bukan bagian dari para murid ditegaskan dalam Yoh 17:12, di dalam doa Yesus sendiri sebelum adegan penangkapan terjadi. Ungkapan “ditetapkan binasa”  adalah ungkapan yang menunjukan bahwa Yudas Iskariot benat-benar hilang.[87]
            Peristiwa penangkapan Yesus dalam Injil Yohanes sedikit berbeda dengan Injil-Injil sinoptik, dalam Injil Yohanes tidak disebutkan Yudas Iskariot menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman. Injl Yohanes menuliskan Yudas hanya menunjukan tempat Yesus berada.  Dan Yesus sendirilah yang mengakui bahwa Dialah yang mereka cari, bukan ditunjuk oleh Yudas dengan sebuah ciuman. Injil Yohanes adalah satu-satunya yang memberikan petunjuk sebelum pengkhianatan Yudas bahwa, ada sesuatu yang salah secara moral dengan Yudas.[88]

5.             Pandangan Para Tokoh Tentang Yudas Iskariot
Yudas iskariot, seorang murid Kristus yang menjadi pengkhinat, telah menjadi sosok yang banyak diperdebatkan. Beberapa tokoh pun memiliki pandangan yang tersendiri mengenai Yudas diantaranya, 
a.              Wiliam Hendriksen
Dia mengatakan Yudas sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, ia merupakan alat Iblis, ia seolah-seolah setuju dengan Yesus, orang yang egois, orang yang digunakan Iblis mengkhanati Yesus.[89] penyesalan yang dialami Yudas tidak memberikannya perubahan mendasar tetapi perasaan bersalah dan takut apa yang mungkin terjadi pada masa dimasa depan, membuatnya mengambil keputusan bunuh diri.[90]
Jadi menurut William sikap Yudas iskriot merupakan celah untuk Iblis memperalatnya. Penyesalan yang dialaminya hanya sampai pada kesadaran pada perbuatannya yang salah tetepi tidak membawanya pada pertobatan. Keputusannya untuk bunuh diri merupakan dampak rasa bersalah yang menghantuinya.

b.             Matthew Henry
Henry mengatkan berkaitan dengan Mrk 14:10-11, Yudas yang menjadi musuh dalam selimut bagi Kristus, bersepakat menjual Yesus.[91] Henry lebih suka menyebut Yudas sebagai Iblis yang menjelma sebagai seorang rasul yang jatuh, yang hatinya telah dikuasai Iblis. Seorang yang munafik, tampil sebagai musuh kerajaan Iblis, tetapi selama ini ia adalah Iblis. Yudas tidak terpilih untuk hidup kekal.[92] Dia tidak memiliki belas kasihan terhadap orang miskin, baginya orang miskin hanyala sekedar alat untuk mendapatkan keinginannya. Dia seorang yang tamak.[93] Peringatan yang Yesus berikan malah membuatnya semakin kukuh dalam kejahatannya bukan menginsyafinya (13:26). Iblis merasukinya untuk mengobarkan rasa rakus dalam hatinya akan upah yang diperoleh dengan tidak benar.[94] Yoh 17:12 menurut Henry, Yudas adalah orang yang ditentukan untuk binasa, sehingga ia bukanlah salah satu dari mereka yang diberikan kepada Kristus untuk dipelihara, Allah membiarkan Yudas menjerumuskan diri dalam kebinasaan.

c.              Yudas Menurut Marthin Luther
Luther adalah seorang reformator gereja yang lahir tahun 1483 di Eisleben (Jeman Timur)[95]. Teologi Luther berpusat hanya kepada Kristus (Christocentric; solus Christus). Berita tentang penebusan dan pembenaran oleh Kristus merupakan inti berita Alkitab.[96] 
Dalam komentarnya terhadap Yohanes 6:64, Luther mengatakan, Kristus mengeluh: “Ada beberapa di antara kamu yang tidak percaya.” Seolah-olah Dia berkata: Kamu mendengar kata-kata itu, dan itu adalah kata-kata yang benar.[97] Luther juga mengatakan alasan Yesus memanggil Yudas sebagai Iblis yaitu, karena Yudas juga mendengar kata-kata ini, tetapi ia tidak mengindahkannya. Tidak ada yang mengubahnya. Ia menjadi murtad. Itulah sebabnya Tuhan memanggilnya Iblis.[98]
Jadi menurut Luther, Yudas iskariot adalah seorang yang tidak percaya dari mulanya, meskipun Yudas mengetahui dan menyadari bahwa perkataan Yesus itu benar, tetapi Yudas tidak pernah mengindahkan perkataan tersebut. Tidak ada yang mengubahnya menjadi murtad. Yudas sendirilah yang telah mengeraskan hatinya, atau dapat juga dikatakan pada dasarnya Yudas tidak mempercayi Yesus, Sehingga disini dapat dilihat bahwa Yudas bertanggung jawab akan perbuatan yang dilakukannya.

d.             Yudas menurut Yohanes Calvin
Yohanes calvin lahir tahun 1509 di Noyon, Prancis utara. Tahun 1535 ia telah menyelesaikan terbitan pertama institutio.[99] Dia adalah teolog sistematis terbesar dari gerakan reformasi. Ajaran-ajarannya adalah dasar dari gereja-gereja “reformed” atau Calvinis, yang kini masih kuat di banyak bagian dunia.[100]
Calvin mengatakan, nasehat Kristus begitu jauh dari berguna untuk melunakan hati Yudas, dan membuatnya lebih baik, Yudas seorang pencuri, kebiasaannya telah membuatnya mengeras dalam kejahatan, penyebab “kebutaannya” adalah ketamakannya. Dia memiliki hati nurani yang buruk, seorang munafik yang begitu bodoh, yang tidak menyadari lukanya sendiri.[101]  Meskipun Yudas bukan dari salah satu umat pilihan Allah, dari kawanan domba Allah yang sejati, namun martabat dan jabatannya sebagai murid memberikannya penampilan seperti itu.[102]

Jadi menurut Calvin Yudas adalah seorang yang tegar tengkuk, kebiasaan buruknya telah membuatnya mengeras dalam kejahatan, munafik, dan tamak. Yudas bukanlah salah satu dari umat pilihan dan dari domba Allah yang sejati. Calvin berpandangan bahwa Yudas terpilih untuk menjadi bagian dari duabelas murid akan tetapi ia ditetapkan binasa dan bertanggung jawab atas perbuatannya yang mendatangkan kebinasaannya.





BAB III
MAKNA PEMILIHAN YUDAS DAN KAITANNYA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI

Pemilihan Yudas menjadi seorang murid dan ditetapkan binasa merupakan suatu paradoks yang sering kali sulit dijelaskan bila dikaitkan dengan Doktrin Predestinasi. Untuk memamahami hal ini maka perlu mamahami tentang doktrin Predestianasi dengan tepat.
Doktrin Predestinasi, memiliki dua arah yaitu, ditetapkan selamat (election) dan ditetapkan untuk binasa (reprobation), dan pemilihan ini berdasarkan kedaulatan Allah. Pemilihan berkaitan dengan mereka yang menuju ke surga (election) dan penolakan (reprobation) berkaitan dengan mereka yang menuju ke neraka.[103] Pemahaman doktrin predestinasi ini, menurut penulis seringkali membawa pada pemahaman Allah yang pilih kasih dan tidak adil, atau dengan kata lain pemahaman yang keliru tentang Allah. Oleh karena itu untuk memahami doktrin predestinasi secara tepat, maka perlu memahami keadaan manusia secara universal dan kedaulatan Allah secara benar.
Kebebasan dari Pemerintahan Allah, dan dapat menentukan sendiri mana yang baik dan jahat adalah cita-cita yang diinginkan Adam ketika berbuat dosa, tetapi yang didapatkannya adalah ia menjadi budak dosa.[104] Sejak Adam jatuh ke dalam dosa kejatuhannya telah mengakibatkan terpisahnya manusia dengan sang khaliknya, dan pemisahan itu adalah maut.[105] Adam berdiri di hadapan Allah mewakili kita sehingga, seperti yang Paulus katakan, ketika ia (adam) terjatuh, kita terjatuh dan tanpa bisa menghindar kita terjerat dalam akibat-akibat pemberontakannya.[106] Kejatuhan Adam dalam dosa telah mengakibatkan umat manusia telah berada dalam dosa dan menjadi budak dari dosa. Dalam Roma 5:12 Paulus menegaskan bahwa melalui ketidaktaatan Adam, dosa dan kematian menjadi kenyataan bagi semua orang.[107] kata kematian menggunakan kata θάνατος yang secara harafiah memiliki arti kematian secara fisik. Thayer memberikan pengertian kata ini ialah:
1) In the widest sense, death comprises all the miseries arising from sin, as well physical death as the loss of a life consecrated to God and blessed in him on earth, to be followed by wretchedness in the lower world, 2) the miserable state of the wicked dead in the hell.[108]

Melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia, dosa menjalar keseluruh manusia, sehingga tidak seorangpun dalam dunia ini tidak berdosa. oleh karena itu kematian menjalar pada seluruh manusia. kejatuhan Adam dalam dosa memberikan dampak bagi manusia. Setiap orang telah turut bersalah dalam Adam sehingga konsekuensinya semua dilahirkan rusak dan korup.[109] Jatuh ke dalam murka dan hukuman Allah, dan mengalami kerusakan total.[110] Karena itu manusia tidak layak untuk menghadap Allah, tidak sanggup melakukan kehendak Allah, sehingga walaupun Allah menawarkan jalan kehidupan, manusia tidak lagi sanggup menjawab panggilan-Nya sepenuhnya.[111]  Oleh karena itu untuk dapat lepas dari belenggu kebinasan manusia memerlukan Anugerah Allah Tritunggal.
Kitab Injil mengatakan bahwa, satu-satunya jalan untuk memperoleh kehidupan adalah melalui Kristus (Yoh 3:16; 14:6). Tidak seorang pun dapat datang kepada Kristus jika Allah tidak membawanya kepada Kristus (Yoh 6:65). Dan keselamatan hanya dapat diperoleh ketika percaya pada Kristus (Yoh 3:16), ketika kita beriman pada Kristus kita memperoleh keselamatan. Namun manusia berdosa tidak dapat beriman dengan kemampuannya sendiri, sebab Iman merupakan karunia dari Roh Kudus, tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. 1Ko 12:3.[112] Iman merupakan karunia dari Allah, dan  “bukan semua orang beroleh iman” (2 Tes. 3:2b).[113]  
Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan setelah Adam jatuh kedalam dosa, oleh karena kehendak bebasnya, mengakibatkan Adam terpisah dari Allah yang berarti kematian. Keberdosaan Adam menjadi jalan bagi maut untuk masuk ke dalam dunia, sehingga seluruh manusia berada dalam kebinasaan oleh karena satu orang. Di dalam Adam semua orang telah berbuat dosa, dan patut menerima Hukuman, yaitu kutuk dan kematian kekal.[114] Kejatuhan Adam mengakibatkan kerusakan total, hal ini bukan berarti hilangnya kemampuan melakukan kebaikan secara relatif,[115] akan tetapi kerusakan total menjadikan manusia tidak mampu melakukan kebaikan secara fundamental yang bisa menyenangkan hati Allah,[116] tidak ada kerinduan akan Allah sehingga tidak menginginkan Yesus Kristus.[117] Keberadaan dalam kebinasaan, membuat semua manusia tidak dapat memperoleh keselamatannya tanpa anugerah dari Allah. Anugerah merupakan pemberian dari Allah tanpa melihat apa yang ada dalam diri manusia dan apa yang telah diperbuat, semata-mata pemberian Allah, sehingga merupakan hak Allah untuk memberikan anugerah tersebut kepada siapa Dia menghendakinya. 
Maka dapat disimpulkan bahwa, Predestinasi ialah Allah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dari kebinasaan yang telah membelenggu mereka dan Allah membiarkan sebagian orang berada dalam kebinasaannya, berdasarkan kedaulatan-Nya. Ia berdaulat kepada siapa Ia memberikan kasih-Nya dan kepada siapa Ia menahan kasih-Nya. Pemilihan ditetapkan selamat atau ditetapkan binasa, bukanlah berdasarkan apa yang telah ada pada manusia itu sendiri, baik itu perbuatan maupun “iman” yang telah ada dalam diri manusia itu sendiri, tetapi berdasarkan kasih karunia-Nya. Efesus 2:8 mengatakan “sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman: itu bukan hasil usaha mu tetapi pemberian dari Allah. Maka dapat dikatakan iman yang dikarunian oleh Allah lah yang menyelamatkan, bukan iman yang telah ada dalam diri manusia.  

A.                PANDANGAN PARA TOKOH TENTANG PREDESTINASI BERKAITAN DENGAN DOKTRIN DITETAPKAN BINASA
Doktrin predestinasi merupakan doktrin yang melekat dalam ajaran kekristenan, tetapi dihindari di mimbar gereja. Predestinasi ialah keputusan Allah yang kekal yang dengannya Dia menetapkan untuk diri-Nya sendiri, apa yang menurut kehendak-Nya akan terjadi atas setiap orang.[118] Predestinasi berkaitan dengan pemilihan menurut Arthur Van Delden mengatakan:
“pemilihan adalah rencana Allah sejak semula tidak berubah-ubah, Dia memilih sejumlah orang dari segenap manusia yang telah jatuh dalam dosa, agar mereka memperoleh keselamatan di dalam Kristus. orang yang dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak dari orang lain.[119]

Selain dari Arthur, beberapa tokoh teolog besar memiliki pandangan tersendiri tentang predestinasi berkaitan dengan doktrin ditetapkan untuk binasa seperti:

1.             Pandangan Agustinus tentang Predestinasi
Augustinus adalah sang bapa gereja barat. Ia dilahirkan pada tahun 354 AD di Afrika Utara.[120] Ia adalah orang yang pertama kali mengajarkan gereja yang tidak kelihatan.[121] Ia mengatakan di dalam pra pengetahuan Allah mengetahui orang yang kelihatan di dalam gereja sebenarnya berada diluar gereja, begitu pun sebaliknya.
 Augustinus menyadari Iman merupakan kasih karunia dari Allah.  Agustinus mengatakan:
Ia percaya manusia telah berdosa “di dalam” Adam, karena itu bayipun telah berdosa, dan kecenderungan hati manusia adalah berbuat dosa. Kecenderungan inilah yang mengendalikan manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa berada dalam posisi yang menyedihkan di mana berbuat dosa itu tidak terelakan lagi, namun ia tetap melakukannya secara “bebas” atas kemauannya sendiri, karena itu manusia tetap bertanggung jawab pada tindakannya dalam arti manusia bebas melakukan apa yang ia inginkan tetapi tidak bebas menginginkan apa yang patut dilakukanya.  Akan tetapi Allah oleh rahmat-Nya Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan, kasih karunia Allah menginspirasi orang untuk berbuat baik. dan oleh pertolongan Tuhan manusia dapat bertahan sampai kesudahan dan diselamatkan. Karunia ini tidak diberikan kepada semua orang yang mulai hidup “Kristen” tetapi hanya kepada mereka yang terpilih.[122]
Kebinasaan kekal di dasarkan pada ketidak mampuan kehendak bebas manusia untuk menginginkan kebenaran dari Allah, tanpa anugerah Allah. Dan kebinasan kekal bukan berdasarkan suatu kemutlakan yang diandaikan berasal dari pra pengetahuan Allah.[123] Sedangkan keselamatan dari status keberdosaan hanya mungkin melalui anugerah, tetapi anugerah yang seluruhnya di dasarkan atas pemilihan Allah.[124]
Berdasarkan hal ini maka dapat disimpulkan bahwa Augustinus mempunyai pemahaman tidak semua orang diselamatkan. Allah dalam ketetapan-Nya telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan, dan sebagian manusia dibiarkan-Nya dalam natur keberdosaan mereka yang mendatangkan kebinasaan. Ia pun berpedapat bahwa iman yang merupakan sarana keselamatan merupakan kasih karunia dari Allah, akan tetapi kebinasaan manusia merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri. Kebinasaan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang didorong oleh kecenderungan hati mereka untuk berbuat dosa.

2.             Pandangan Martin Luther Tentang Predestinasi
Luther menempatkan doktrin pembenaran  hanya oleh iman sebagai prinsip dasar dari teologinya.[125] Ia memberikan kesaksian tegas bahwa keselamatan manusia bukan berdasarkan keyakinan orang telah berpegang kepada Allah, melainkan berdasarkan pada rahmat Allah, yang dalam belas kasihan-Nya mengangkat orang berdosa menjadi anak-Nya.[126] Manusia memperoleh keselamatan jika ia menyerahkan diri dalam iman kepada Allah yang rahmani.
Meskipun Luther tidak terlalu mementingkan Predestinasi, tetapi Luther tidak menolak Predestinasi.[127] Mengenai hal ini,  Dalam  Yohanes 6:37,  Luther mengatakan,
No matter how long you may strive for holiness, fast and pray, take offense at Me and regard Me a feel, the fact remains that he who believes in Me has this faith from the Father. It is given to him by the Father to come to Me, and he who comes to Me may eat confidently and drink deeply; for I will not east him out.” This is also the mind of Christ. He wants to say: “I see that you do not believe. And I know that if any man is to believe, it must be given him by My Father. But if My Father gives him faith, he will surely have it.[128]

Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan menurut Luther. Dia mengatakan bahwa, seberapa pun keras usaha seseorang untuk dapat datang kepada Kristus, itu merupakan suatu hal yang sia-sia sebab dengan kekuatannya sendiri tidak mungkin orang dapat datang kepada Kristus. Seseorang yang dapat datang kepada Kristus adalah orang yang dikaruniakan iman oleh Allah. Menurutnya iman yang merupakan sarana untuk dapat datang kepada Kristus, merupakan anugerah dari Allah kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Maka menurut Luther datang kepada Kristus dan mengalami keselamatan kekal semata-mata oleh karena Anugerah, bukan karena usaha dari manusia itu sendiri.



3.             Pandangan Yohanes Calvin Tentang Predestinasi
Calvin memberikan arti penting yang besar bagi predestinasi dalam kedua bentuknya yaitu, pemilihan dan reprobasi.[129]. Orang yang dipilih Tuhan ditandai-Nya dengan panggilan dan pembenaran,  tetapi orang yang ditolaknya ditutup-Nya pengetahuan tentang Dia atau pengudusan oleh Roh-Nya.[130] Dalam ajarannya ini Calvin mengatakan “sebab tidak semua orang diciptakan dalam keadaan sama; tetapi untuk yang satu ditentukan untuk kehidupan kekal, untuk yang lain hukuman Abadi. Calvin menekankan bahwa kehidupan kekal atau keselamatan diterima oleh karena iman dan merupakan karya Roh Kudus yang terpenting, maka iman adalah karunia Roh kudus.[131] Berkaitan dengan putra kebinasaan Yoh 17:12, Calvin mengatakan, menurut ungkapan ibrani, kata ini menunjuk pada seorang pria yang hancur atau dikhususkan untuk kehancuran.[132]
Calvin berpendapat Allah dalam kedaulatan-Nya telah menentukan siapa yang Dia selamatkan dan Siapa yang ditentukannya untuk binasa. ditentukan binasa berarti Allah tidak memberikan anugerah keselamatan kepada orang yang tidak dikehendakinya.

4.             Pandangan Jacobus Arminius (Armenianisme) Tentang Predestinasi
Jacobus armenius (1560-1609) lahir di Belanda, menjadi seorang pendeta jemaat di Amsterdam (1588-1603).[133] Ia mengajarkan bahwa kehendak bebas manusia  memiliki peranan dalam keselamatan manusia. Armenius menghubungkan Predestinasi dengan kemahatahuan Allah, mereka yang akan memilih Dia dan merekalah yang akan di Predestinasikan.[134] Mereka berpendapat bahwa, Allah telah melihat sebelumnya siapa yang akan percaya kepada Kristus, dan berdasarkan Prapengetahuan ini Allah menetapkan pilihannya.[135] Namun dia mengajarkan bahwa keselamatan bisa  hilang apabila kehendak bebas tidak digunakan dalam ketekunan orang percaya.[136] Menurutnya kehendak bebas manusia memampukan sesorang untuk menyangkali iman mereka dan memilih untuk berdosa.[137]
Jadi menurut Arminius, ia menolak akan pemahaman predestinasi. Menurutnya Allah memberikan anugerah keselamatan bagi setiap orang untuk percaya, namun manusia dengan kehendak bebasnya dapat memilih untuk percaya, atau pun tidak percaya, bahkan menyangkali iman mereka. Menurutnya manusia diselamatkan atau dibinasakan tergantung pada respon manusia terhadap tawaran keselamatan yang Allah berikan.

  1. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB YUDAS SEBAGAI SEORANG MURID
Pemilihan para murid seperti yang telah dibahas dalam bab sebelumnya merupakan inisiatif dari Tuhan Yesus sendiri. Kitab Injil tidak menjelaskan kapan Yudas dipanggil oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya, kemungkinan ia dipanggil pada saat mula-mula ketika Yesus memanggil orang banyak orang (Mat 4:18-22).[138] Sejak awal pemanggilan para murid, Yesus dalam Kemahatahuannya telah mengetahui mengetahui siapa dan bagaimana sifat dan karakter para murid, oleh karena itu para murid memiliki peranan dan tanggung jawabnya masing-masing termasuk Yudas Iskariot, peran dan tanggung jawabnya ialah:
  1. Bendahara
Bendahara merupakan suatu jabatan yang dipercayakan kepada seseorang dalam mengurusi atau mengelola keuangan pada suatu department atau kelompok. Menjadi seorang bendahara tidaklah mudah, orang tersebut harus dapat dipercaya dan terbukti jujur selain itu harus memiliki pemikiran yang baik dalam mengatur keuangan. Kristus dan para murid dapat dikatakan sebagai suatu kelompok, oleh karena itu mereka membutuhkan seorang bendahara. Maskipun dalam Injil tidak disebutkan bagaimana Yudas menjadi pengelola keuangan dari kelompok tersebut, apakah melalui pemilihan atau Yesus sendiri yang memilihnya. Menjadi bendahara merupakan tugas yang membutuhkan kepercayaan dari kelompoknya.
Pertama kali menjadi Murid, Yudas memiliki citra yang baik di antara para murid, memiiki pikiran wirausaha yang bagus dengan reputasi kejujuran yang baik,[139]  berkemampuan melakukan pekerjaan administratif diambil dari fakta bahwa ia dianggkat sebagai bendahara kelompok rasul.[140] Sebab hal inilah Yudas dipercaya menjadi bendahara. Jabatan Yudas sebagai bendahara dapat terlihat dalam Injil Yohanes 12:5-6 dan 13: 29,  dalam kedua teks ini dikatakan bahwa Yudas memegang uang kas (kotak uang),[141] dan bertanggung jawab untuk mengelola keuangan kelompoknya. Sebagai bendahara Yudas memiliki tanggung jawab untuk membeli apa yang diperlukan untuk perayaan dan juga memberi apa-apa kepada orang miskin. kelompok ini menerima sumber dana dari uang yang diterima Yesus dari teman-teman-Nya untuk keperluan-keperluan kelompok-Nya dan untuk dibagi antara orang miskin yang tiap hari ada bersama-Nya. Lukas 8:3 “perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” teks ini menjelaskan darimana sumber pendapatan kelompok Kristus. Yudaslah yang dipercaya untuk menyimpan dan mengelola tidak hanya persembahan dari orang-orang yang Tuhan Yesus layani tetapi juga uang dari para murid. Akan tetapi Yudas telah menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.[142]
  1. Pencuri
Salah satu Konotasi buruk yang disematkan kepada Yudas adalah seorang Pencuri. Yudas sebagai seorang yang dipercaya sebagai bendahara memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan dengan baik, kemampuannya ini digunakan untuk mencuri sehingga perbuatannnya yang sering mencuri uang dari kas tidak diketahui murid yang lain.
Yohanes 12:5-6 ketika Yudas menyesali perbuatan meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu sebagai pemborosan dan menunjukan kepeduliannya terhadap orang miskin. Tetapi Yohanes menunjukan bahwa penyesalan yang ditunjukan Yudas bukan karena ia perduli tehadap orang miskin, tetapi ia kehilangan sejumlah uang yang dapat ia gunakan untuk memperkaya dirinya sendiri.[143]  Sebab ia tidak begitu mempedulikan Yesus sehingga ia lebih menghargai keinginannya sendiri di atas yang seharusnya ia layani.[144] Perkataan Yudas tentang pemborosan bukan berdasarkan perhatian altruistik[145] terhadap orang miskin tetapi berdasarkan pada keuntungan Pribadi[146]
Yohanes 12:6 “mengatakan bahwa ia (Yudas Iskariot) adalah seorang pencuri.”  ὅτι κλέπτης ἦν. Kata pencuri berasal bentuk leksikal κλέπτης (kleptes) dalam bentuk nominative maskulin tunggal. Dalam bahasa Ibrani menggunakan kata  גַּנָּב (gannab) yang berarti mencuri atau menipu.[147] Kataגַּנָּב (gannab) adalah kata kerja yang pada dasarnya memiliki arti mengambil apa yang menjadi milik orang lain tanpa sepengetahuan atau persetujuannya.[148] Kata ini digunakan dalam perjanjian baru sebanyak enam belas kali, dalam bentuk yang berbeda dan dengan arti yang sama yaitu pencuri.[149] Yohanes 12:6 adalah satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru di mana Yudas disebut sebagai pencuri.[150] Kata κλέπτης (Kleptes) Umumnya dapat diartikan seorang penipu atau penjahat.[151] kata κλέπτης (kleptes) memiliki pengertian Seorang yang bertindak dengan akal-akalan dan kerahasiaan.[152]  Dan kata “adalah” menggunakan kata ἦν (en) yang bentuk leksikal εἰμί (eimi) dalam bentuk imperpekt orang ketiga tunggal, maka kata ἦν (en) memiliki arti dia adalah. Imperpekt berarti menunjukan suatu pekerjaan yang sedang dilakukan atau dilakuan berulang-ulang pada masa lampau.[153]
Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa Injil Yohanes 12:6 ingin mengatakan kepada para pembacanya bahwa, mencuri telah menjadi watak atau tabiat dari Yudas Iskariot. Sebab dalam bagian ini, dapat diketahui bahwa Yudas telah berulang-ulang melakukan pencurian dari uang kas yang dipercayakan kepadanya.
Matthew Henry mengatakan Yudas memiliki watak pencuri dan telah mengkhianati kepercayaan dari Yesus dan murid-murid lainnya.[154] kecintaanya terhadap uang menjadi motivasi Yudas dalam mencuri uang. Nafsu mencurinya semakin subur ketika ia melakukan pencurian kecil-kecilan dari uang kas yang dipegangnya.[155] Injil Yohanes 12:6 menyatakan bahwa Yudas Iskriot memiliki kebiasaan mencuri dan bersifat munafik. Dengan melihat kebelakang sejarah tentang Yudas, Yohanes dapat menyatakan bahwa Yudas seorang yang diam-diam ingin mengumpulkan uang untuk diri sendiri, seorang  yang egois dan tamak.[156]
Menurut penulis sikap Yudas yang dijelaskan dalam Yohanes 12:5-6 membuktikan Yudas Iskariot meskipun berada dalam lingkungan orang-orang yang benar dan melihat karakter mulia dari Kristus, hal tersebut tidak mengubah karakternya. Ketamakan dalam hatinya yang mendorong dia untuk menjadi seorang pencuri dan ia menggunakan jabatannya sebagai bendahara sebagai kesempatan untuk mencuri dari uang kas yang dipegangnnya. Oleh karena itu Yudas bertanggung jawab akan kebinasaannya sendiri sebab ia seorang pencuri. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Paulus dalam 1 Kor 6:10, Paulus menyatakan pencuri tidak mendapat bagian dalam kerajaan Surga.

  1. Pengkhianat
Sebutan yang paling yang paling melekat terhadap Yudas Iskariot adalah seorang pengkhianat. Dalam keempat Injil setiap penyebutan nama Yudas Iskariot sering di sertai dengan sebutan pengkhianat misalkan, Matius 10:4; Markus 3:19; Lukas 6:16; dan Yohanes 6:71. Penyebutan terhadap Yudas sebagai pengkhianat merupakan dampak dari perbuatan Yudas yang menyerahkan gurunya kepada imam kepala, ahli taurat, orang farisi dan saduki yang membenci Yesus dengan tigapuluh uang perak, seharga seorang budak. Yudas Iskariot merupakan satu-satunya rasul yang tercatat perananya dimasa depan.[157]
Kata mengkhianati yang digunakan oleh Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes memiliki bentuk leksikal παραδίδωμι (paradidomi) berasal bentuk leksikal paradoi (paradoi). Yang berarti 1) to give into the hand another (untuk memberikannya ke tangan orang lain) 2) to give over into (one’s) power or use (untuk menyerakannya keatas kekuasaan (seseorang) 3) to commit (melakukan atau menyerahkan) commend (mempercayakan).[158] dan convey the idea of handing down tradition (menyampaikan gagasan untuk menjatuhkan tradisi atau membatalkan).[159] Kata ini digunakan sebanyak 119 kali dalam Injil dengan tujuan dan arti yang berbeda sesuai dengan konteksnya.[160] kata paradoi dalam KJV, dan NIV diterjemahkan dengan kata betray. Menurut kamus Oxford, betray digunakan untuk menjelaskan ketidak-setiaan seseorang, orang yang menyalah-gunakan kepercayaan, dan orang yang telah murtad atau mengkhianati imannya sendiri.[161]
Leksikon Yunani-inggris kata paradidomi memiliki arti dasar menyerahkan, memberi, mempercayakan, izinkan, dan dari tradisi lisan atau tertulis yang berarti diwariskan, meneruskan, mentrasnmisikan, berkaitan dengan mengajar.[162] Secara etimologi kata paradidomi memiliki makna yang netral, sehingga tidaklah tepat apabila kata ini diterjemahkan dengan kata pengkhianat. Akan tetapi kata παραδίδωμι yang disematkan pada diri Yudas Iskariot yang membuatnya dinilai secara negatif merupakan kasus tersendiri. Yudas “menyerahkan” Yesus oleh karena ia memang mempunyai maksud yang buruk untuk mencapai tujuan kepentingannya sendiri.[163] hal ini diperkuat oleh ketiga Injil sinoptik yang mengatakan Yudaslah yang berinisiatif mendatangi para imam untuk menyerahkan Yesus dan meminta imbalan atau mendapatkan imbalan atas penyerahan diri Kristus, Mat 26:14-16;  Mrk 14:10-11; dan Luk 22:3-6. Yudas pergi bersekongkol dengan kepala imam untuk menyerahkan Yesus kepada mereka demi uang.[164]
Dalam bab sebelumnya telah dibahas beberapa pandangan perihal motivasi Yudas mengkhianati Yesus Kristus, motivasi pertama yaitu ketamakan terhadap uang, pandangan ini diperkuat oleh pernyataan keempat Injil yang mengatakan Yudas Menerima tiga puluh keping perak, dan Injil Yohanes yang menyebutnya sebagai pencuri. Akan tetapi, pandangan ini sulit dijelaskan jika dihadapkan dengan penyesalan Yudas dalam Matius 27:3, selain itu Yudas akan lebih banyak mengambil uang dari kas yang disimpannya dengan tidak mengkhianati Yesus, dibandingkan dengan mengkhianati Yesus.[165] Apabila motivasi Yudas mengkhianati Yesus adalah ketamakan, maka uang yang diperolehnya sebanyak tigapuluh keping perak merupakan harga yang terlalu rendah. Tigapuluh keping perak adalah harga budak pada masa Musa (Kel 21:7-11),dan pada masa Asyur harga budak adalah limapuluh syikal perak (2 Raj 15:20).[166] Dari hal ini menjelaskan adanya kenaikan harga budak yang berlaku dari masa kemasa, maka dapat disimpulkan harga Yesus yang diserahkan Yudas merupakan harga di bawah standar harga budak yang berlaku pada masa itu. Karena itu motivasi ketamakan atau cinta uang yang mendasari pengkhianatan Yudas patut dipertanyakan.
Pandangan kedua adalah, Yudas sengaja menyerahkan Yesus kepada para imam dengan tujuan menciptakan krisis, sehingga dalam krisis itu Yesus akan menyatakan diri sebagai Mesias.[167] Yudas ingin tuannya memakai kuasa-Nya untuk menghancurkan musuh dan mendirikan kerajaan yang dinanti-nantikan banyak patriot Yahudi.[168] Satu-satunya kesalahan Yudas ialah kesalah-pertimbangan, dan ketika perannya sebagai pengkhianat sia-sia, membuatnya menyesal dan bunuh diri.[169] Akan tetapi pandangan ini tidak didukung secara kuat oleh Alkitab, sebab sebelum Yudas menyerahkan Yesus kepada para imam, Yesus sendiri telah mengatakan sebanyak tiga kali bahwa Ia akan diserahkan, menanggung banyak penderitaan dan dibunuh di Yerusalem. Pertama terdapat dalam Mat 16:21; Mar 8:31; Luk 9:22, kedua Mat 17:22; Mar 9:30; Luk 9:43; dan ketiga terdapat dalam Mat 20:17-19; Mar 10:32-34; Luk 18:31-34. Ketiga pemberitahuan ini diberitahukan Kristus kepada semua murid termasuk Yudas, sehingga menurut penulis pandangan penafsiran yang menyatakan menciptakan krisis tidaklah dapat diterima.
 Pandangan ketiga adalah Kekecewaan Yudas terhadap Yesus. Yudas sama seperti para murid yang lain, mengharapkan Mesias yang akan menyelamatkan mereka dengan keadilan dan di bawah berkat perlindungan Allah, akan mengalahkan bangsa-bangsa lain dan memimpin bangsa yang bertobat mendirikan kerajaan yang agung dan penuh rahmat.[170] Oleh karena itu ia mengharapkan sesuatu untuk memenuhi impiannya, yaitu menjadi “orang dalam” di kerajaan yang akan didirikan oleh Mesias.[171] Tetapi ketika penderitaan mulai menimpa Yesus, dan Yesus sendiri menolak untuk dijadikan raja, maka timbul rasa benci terhadap Yesus.[172] dan mulai berpikir mengikuti Yesus tidak memiliki keuntungan bagi dirinya. Peritiwa pengkhianatan Yudas terhadap terhadap Yesus terjadi setelah peristiwa pengurapan Yesus, di mana Tuhan Yesus secara tidak langsung menegur sikap Yudas (Mat:26:6-13; Mrk 14:3-8, dan Yoh 12:1-8). Yudas yang kehilangan kesempatan untuk memperkaya diri, mencari cara lain untuk menambah keuntungan pribadinya. Reaksi Yudas terhadap teguran Yesus adalah dengan mengkhianati-Nya.[173] Matius 26:15 menyatakan Yudas meminta imbalan untuk menyerahkan Yesus pada para musuh-Nya. akan tetapi pandangan kekecewaan Yudas terhadap Yesus sehingga menimbulkan kebenciannya terhadap Yesus akan sulit diterangkan jika diperhadapkan dengan penyesalan Yudas.[174]  Meskipun terjadi beberapa pendapat akan tetapi terdapat kesamaan bahwa motivasi Yudas mengkhianati Yesus adalah untuk kepentingannnya sendiri.  Walaupun tidak dapat pungkiri hal mementingkan diri sendiri juga ditemukan dalam diri para murid yang lain, akan tetapi persekutuan dengan Kristus mengkikis watak hal itu tetapi pada diri Yudas watak itu justru semakin kuat.[175] 
            Yohanes 6:64 dalam peristiwa murid-murid meninggalkan Yesus. Dalam teks ini Yesus mengatakan diantara kamu ada yang tidak percaya, sebab Yesus Tahu siapa  yang tidak percaya dan siapa yang akan Menyerahkan-Nya, kata tidak percaya berasal bentuk leksikal μὴ πιστεύοντες  (me pisteuontes) dalam bentuk present partisip aktiv maskulin jamak, kata partisip ini menunjukan kata yang memiliki sifat kata kerja,[176] kata ini menunjukan “ketidakpercayaan” sebagai, secara mendasar, ketidakmampuan dan penolakan untuk menerima Yesus karena siapa Dia.[177] Ada beberapa diantara orang-orang yang bersama-sama dengan Yesus yang tidak mempercayai-Nya, “termasuk Yudas.” Indikasi Yudas termasuk ada dalam bagian orang yang tidak mempercayai Yesus terdapat dalam kalimat selanjutnya, “dan siapa yang akan menyerahkan-Nya.” kata menyerahkan bentuk leksikal παραδώσων (paradoson) dalam bentuk partisip future aktif maskulin tunggal. Ini menunjukan orang yang akan mengkhianati Yesus hanya seorang diri. Terdapat juga kata kai sebagai penghubung kalimat dengan kalimat sebelumnya, yang menunjukan kalimat ini kelanjutan dari kalimat sebelumnya. Dapat disimpulkan secara tidak langsung orang yang akan mengkhianti Yesus adalah bagian dari orang-orang yang tidak mempercayai Yesus.  Dalam teks ini tidaklah disebutkan nama Yudas tetapi dalam teks selanjutnya yaitu pada Ayat 71 Yohanes secara jelas menyatakan bahwa Yudaslah yang akan menyerahkan Yesus. oleh sebab itu dalam ayat 70 Yesus menyebut Yudas adalah Iblis, karena dia akan menyerahkan Yesus.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa hanya Yudas sendirilah yang paling mengetahui motivasinya berkhiantat. Tetapi menurut penulis, berdasarkan penjabaran di atas, motivasi Yudas dalam mengkhianati Yesus adalah keuntungan Pribadi. Yudas mengikuti Yesus, karena ia mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, yang akan membawa kelepasan bagi Yehuda dari jajahan Romawi dan mendirikan kerajaan yang besar sama seperti pada zaman Daud, dan ia akan menjadi “orang dalam” sehingga dengan posisinya itu ia dapat mencari keuntungan Pribadi, tetapi ketika ia mengetahui bahwa Yesus menolak dijadikan raja, dan ia ke Yerusalem untuk mati, hal ini membuat Yudas Kecewa, dan menjadi membenci Yesus. Yudas yang mempunyai sifat cinta uang dan ditambah kebencian terhadap Yesus membuatnya tega untuk menjual Yesus seharga tiga puluh keping perah, harga budak yang paling murah pada zaman itu.
Sifat tamak dan rasa kekecewaannya terhadap Yesus menyebabkan Yudas diperalat oleh Iblis untuk mengkhianati Yesus (bdk Luk 22:3-4). Dengan menyerahkan Yesus kepada para imam dengan imbalan tiga puluh keping perak, harga yang menggambarkan bahwa Yudas kecewa terhadap Yesus dan menganggap Yesus tidaklah berharga di matanya. Dan oleh karena ia telah dikuasai Iblis, ia tidak lagi mampu bertobat.

  1. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB YESUS TERHADAP YUDAS ISKARIOT
Yesus memulai pelayanan-Nya di Galilea dengan mengumpulkan muris-murid-Nya yang pertama.[178] Murid-murid yang dipiilih inilah yang akan mendampingi Kristus dalam pelayanan-Nya selama Dia di dunia dan juga yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan-Nya dalam dunia setelah Ia naik ke surga. Penulis kitab Injil memberikan sedikit petunjuk mengenai citra-diri para rasul dan tindakan mereka.[179] Para murid memiliki tugas, dalam Markus 3:14-15, meringkaskan ada tiga tugas utama para murid, yaitu menyertai Yesus, menyampaikan berita dari Allah dan mengusir Roh-roh Jahat.[180] Karena itu mereka perlu dipersiapkan untuk tugas tersebut. Yesus sendirilah yang telah memilih keduabelas murid termasuk Yudas karena itu Yesus memiliki peran dan tanggung jawab terhadap Yudas yang berkaitan dengan keselamatannya, yaitu:

1.                  Pemilihan Yudas Iskariot
Pemilihan Yudas Iskariot oleh Kristus menjadi suatu persoalan tersendiri dalam kekristenan. Dalam kitab Injil tidak tercatat secara pasti Yesus memanggil Yudas untuk bergabung dalam pengikut-Nya.[181] Tetapi pemilihan Yudas menjadi bagian murid dilakukan oleh Yesus sendiri dan merupakan suatu keputusan yang sangat penting karena itu Tuhan Yesus berdoa semalaman terlebih dahulu sebelum memanggil keduabelas rasul (Luk 6:12-13).
Pemilihan ini terjadi dalam pelayananya di Galilea, kedua belas murid inilah yang akan selalu bersama dengan Yesus dan Yesus berencana melatih mereka untuk mempersiapkan mereka sebagai eksponen pengajaran-Nya.[182] Akan tetapi dalam Yohanes 6:70-71 Yesus mengatakan bahwa salah satu diantara keduabelas murid adalah Iblis dan yang dimaksudkan adalah Yudas Iskariot sebab pengkhinatan yang akan dilakukannya. Hal inilah yang sering menjadi pertanyaan.
Pemilihan yang dilakukan Yesus dilakukan  dalam belas kasihan dan cinta.[183] Yohanes 6:70 “jawab Yesus kepada mereka: “bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang duabelas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Kata memilih menggunakan kata ἐξελεξάμην (ezelezamen), dalam bentuk indikatif aorist medium orang pertama tunggal. Penggunaan Medium dalam bahasa Yunani menunjukan suatu kesungguhan atau dedikasi dalam tindakan,[184] dan aorist menunjukan tindakan yang dulu pernah dilakukan tetapi tidak berulang-ulang atau tindakan yang hanya sekali dilakukan.[185] Maka kata ἐξελεξάμην menunjukan bahwa Yesus sungguh-sungguh dalam memilih keduabelas murid dan dilakukan sekali. kata ἐξελεξάμην BDAG memberikan pengertian select someone/someth. for oneself, dan Thayer memberikan pengertian to pick or choose out for oneself.[186] Keduanya menyatakan bahwa Pemilihan yang dilakukan untuk atau bagi diri sendiri.
Yohanes 6:70 Tuhan Yesus tidak mengungkapkan siapa pengkhianat itu, tetapi Ia memperingatkan mereka bahwa tidak semuanya dari mereka satu pikiran.[187] Sebab dalam Kemahatahuan-Nya Yesus tahu sejak semula siapa yang percaya dan siapa yang tidak percaya kepada-Nya (bdk Yoh 6:64; Yoh 13:11). Yoh 6:71, menerangkan bahwa yang dimaksudkan adalah Yudas Iskariot, sebab dialah yang  akan menyerahkan Yesus,[188]  Maka pemilihan yang dilakukan Yesus dapat disimpulkan merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu Ia berdoa semalaman untuk menentukan keduabelas murid-Nya. Pemilihan ini bertujuan bagi Kristus sendiri, yaitu untuk menyertai-Nya, untuk memberitakan pengajaran-Nya dan juga untuk menggenapi nubuat tentang Kristus (bdk Yoh 13:18). Ini bukan berarti bahwa Yesus memang berencana mematikan Yudas.[189]
Pemilihan Yudas merupakan suatu keharusan untuk menggenapi nubuat tentang Kristus, Yoh 13:18 mengatakan Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”  Kata tetapi haruslah dalam teks Yunani menggunakan kata ἀλλ᾽ ἵνα yang berarti tetapi supaya, ini menunjukan pengkhianatan merupakan penggenapan dari kitab Suci dan karenanya merupakan bagian dari rencana Tuhan.[190] berkaitan dengan hal ini Calvin mengatakan:
kadang-kadang kaum reprobat dikaruniakan karunia Roh untuk melakukan pekerjaan Allah tetapi tidak dikaruniakan pengudusan. Ini adalah perbedaan antara anak-anak Allah dan orang-orang tidak percaya, bahwa yang pertama diselamatkan oleh Roh adopsi, sedangkan yang kedua dihancurkan oleh kedagingan mereka yang tidak dapat dikendalikan.”[191]

Pemilihan Yudas sebagai murid merupakan rencana dari Allah, dan pengkhianatan yang dilakukannya memang telah dinubuatan dalam kitab suci, akan tetapi hal ini bukan berarti Yudas terbebas dari dosa sebagai orang yang menjual Yesus, sebab pengkhianatan yang ia lakukan berdasarkan oleh kehendaknya sendiri, meskipun telah dinubuatkan. Sehingga pemilihan ini tidak perlu dikaitan dengan keselamatan, tetapi pemilihan merupakan Implikasi dari kedaulatan Allah.[192] dalam kedaualatan-Nya Allah dapat memilih siapa saja, dan dapat menggunakan kehendak Bebas manusia atau rancangan jahat  manusia untuk menggenapi rencana-Nya. 

2.                  Memperingatkan Yudas Iskariot
Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang murid telah dinubuatkan di dalam kitab suci, (bdk Maz 41:9; Zak 11:12-13), dan merupakan suatu ketetapan yang harus terjadi bahwa Kristus dikhianati oleh salah seorang yang dekat dengan-Nya (bdk Mat 26:24; Mark 14:21; Luk 22:22 dan Yoh 13:21). Akan tetapi ketetapan ini tidak melepaskan orang yang menyerahkan Yesus dari tanggung jawabnya.
Keempat injil menuliskan, Yesus secara tidak langsung memperingatkan Yudas. Dalam perjalanannya menuju Yerusalem Tuhan Yesus telah mengatakan sebanyak tiga kali bahwa Dia akan dikhianati dan akan mati di Yerusalem.  Injil Yohanes 6:64, 70-71; 13:10-11, dalam kemahatahuan-Nya Yesus mengetahui adanya murid yang tidak percaya dan yang akan mengkhianati-Nya, Dia tahu bahwa iblis akan memiliki Yudas dan menggunakan pengkhianat sebagai boneka untuk mencapai tujuan setan.[193] Dalam teks-teks ini meskipun Yesus tidak menyebutkan siapa yang dimaksud oleh-Nya akan tetapi penyebutan salah satu dari murid merupakan Iblis, tidak percaya, tidak bersih. Ini dimaksudkan untuk memperingatkan Yudas, Tetapi Yudas tidak memperhatikan peringatan itu.[194]
            Ketiga Injil Sinoptik mencatat peringatan yang secara tegas dilakukan Yesus kepada para murid dalam perjamuan terakhir Yesus dengan para murid sebelum Ia disalibkan. Yesus mengatakan bahwa “Anak manusia memang harus pergi sesuai dengan apa yang ada tertulis tentang Dia, tetapi celakalah! orang yang olehnya Anak manusia itu diserahkan”. Teks ini secara jelas memberikan pernyataan tentang ketetapan Allah dan tanggung jawab manusia.
kata Celakalah! dari kata Yunani οὐαὶ (interjction) menunjukan kesedihan atau penolakan,[195] yang dapat diterjemahkan dengan kata alas (menyatakan kesusahan) Atau woe (kesengsaraan) dalam beberapa terjemahan bahasa inggris seperti NIV, KJV, NASB dan RSV kata ini diterjemahkan dengan kata woe!,  yang memiliki pengertian kesengsaraan pada yang berdosa atau terkutuklah barang siapa yang berdosa.[196] Menurut kamus Webster kata ini digunakan untuk mengungkapkan kesedihan, penyesalan, atau kesusahan.[197]  Kata οὐαὶ mengungkapkan penyesalan Yesus. Penyesalan Yesus bukan disebabkan karena Ia harus mati, namun disebabkan oleh tindakan penghianatan Yudas yang membawa ia berdosa karena keinginannya sendiri.[198]
Sampai saat terakhir Tuhan Yesus tetap berusaha memperingatkan Yudas akan perbuatannya. Kata “apa pun  yang hendak kau perbuatlah segera, merupakan peringatan terakhir, mungkin himbauan terakhir apa yang hendak dilakukan Yudas, mengkhianati atau  setia kepada Kristus.[199] Yesus memperingatkan dan memarahi Yudas, tetapi peringatan-peringatan tersebut bukannya menginsafkan dan membawanya pada penyesalan, melainkan mendorong dia semakin jauh ke jalan kejahatan.[200] Karena itu Yudas lebih memilih untuk mengkhianati Yesus.
Pengkhianatan Yudas merupakan kejahatan besar yang nampaknya perlu untuk menggenapi rencana Allah, akan tetapi tidak membebaskan tanggung jawab Yudas.[201] kondisi seperti ini disebut kompatibilisme[202]. Artinya kedaulatan Allah yang tanpa syarat dan tanggung jawab manusia dapat sesuai.[203]  Kasus kompatibilisme dalam Alkitab dapat dilihat pada cerita Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya (bdk Kej 50:20). Maka tepatlah yang  Calvin katakan, “bukan tindakan pengkhianatan Yudas seharusnya semata-mata dikatakan pekerjaan Allah, tetapi karena Allah membalikkan pengkhianatan Yudas untuk mencapai Tujuan-Nya sendiri.”[204] Sehingga rancangan jahat dari Yudas menjadi suatu alat untuk menggenapi ketetapan Allah dalam Kristus.
Pengkhianatan Yudas menunjukan bahwa Allah berdaulat menggunakan rancangan jahat atau kehendak bebas manusia untuk tujuan-Nya. ini bukan berarti Allah memanfaatkan secara sepihak kehendak bebas manusia yang telah tercemar bagi kepentingan-Nya, tetapi menunjukan kehendak bebas manusia ada dalam kedaulatan Allah. …

D.                KAITAN KETETAPAN YUDAS YANG DI TETAPKAN BINASA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI.
Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu dari murid Kristus memang telah dinubuatkan oleh Allah, dalam kitab suci. Akan tetapi bukan berarti bahwa peristiwa itu dipicu oleh nubuatan.[205] Maka ketetapan akan adanya pengkhianatan tidak melepaskan tanggung jawab dari orang terdekat yang mengkhianati-Nya. 
  1. selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. (εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ γραφὴ πληρωθῇ). Yohanes 17:12
Yohanes pasal 17 merupakan doa syafaat Yesus. peralihan doa syafaat Yesus kepada para murid terjadi pada ayat 6.  Yohanes 17:6-8 merupakan alasan dari doa syafaat Yesus. Ia telah menyelesaikan pekerjaan-Nya seluruhnya sesuai kehendak Bapa-Nya.[206] penekanan Yesus mendoakan para murid terdapat dalam ayat 9, kata berdoa diulang sebanyak dua kali, Kristus berdoa untuk para murid dan juga pemberitaan para murid. Penjabaran doa Kristus untuk para murid terdapat dalam ayat 11 sampai 26.
Isi dari doa Tuhan Yesus bagi para murid secara keseluruhan dapat disimpulkan ialah pemeliharaan Allah bagi para murid. Akan tetapi dalam ayat 12 terdapat pengecualian bagi salah satu murid.
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.(Yoh17:12)

Dalam teks ini terdapat kata ἐτήρουν bentuk leksikal threw dalam bentuk imperpekt indikatif aktif orang pertama tunggal. Imperpek indikatif aktif menunjukan suatu kegiatan sedang dilakukan atau dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lampau.[207] NIV, KJV dan RSV menggunakan kata kept. Maka kata ini dapat diartikan sudah menjaga atau telah menjaga. Kata threw memiliki arti, perhatian penuh, menunjukan kepemilikan,[208] mempertahankan, berjaga-jaga. Kata ἐτήρουν dapat diartikan Aku telah menjaga. Maka kata ἐτήρουν memiliki pengertian Kristus telah sungguh-sungguh menjaga para murid.
            Selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Bagian ini menunjukan bahwa salah satu murid Kristus memang telah ditetapkan binasa, mengajarkan predestinasi yang berkaitan dengan kebinasaan. Dalam bahasa Yunani menggunakan kata εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ γραφὴ πληρωθῇ.  Kata εἰ μὴ merupakan konjuksi. Kata ini berarti tidak kalau, dalam terjemahan Bahasa inggris KJV, dan NASB menggunakan kata but, NIV menggunakan kata except.  Dan dalam terjemahan ITB mmenggunakan kata selain. kata εἰ μὴ yang merupakan kalimat intrasitif menunjukan adanya perbedaan yang ada terjadi pada pada induk kalimat dan anak kalimat. Kata εἰ μὴ menunjukan adanya penekanan akhir yang berbeda antara murid yang memang akan selamat, dan murid yang tidak akan selamat.
εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ γραφὴ πληρωθῇ. Dalam bentuk kasus nomitatif orang pertama tunggal maskulin, disertai dengan kasus genetif orang pertama tunggal feminim. Nominatif menunjukan subyek, dan genetif menunjukan kepemilikan.[209] υἱὸς berarti anak, dan ἀπωλείας dari leksikal apwleia artinya  Perishing (binasa), ruin (kejatuhan, kehancuran), destruction (rusak atau binasa), kata ini bersifat pasif,[210] maka arti kata ini anak dari kebinasaan. Terjemahan NIV, dan NAS menggunakan kata son of perdition (anak kebinasaan) dan NIV menerjemahkan doomed to destruction (menghukum untuk kehancuran) kata ἀπωλείας, menujukan nasib akhir yang telah ditentukan dari murid yang tidak termasuk dalam bagian yang dipelihara oleh Kristus.  BDAG Lexicon memberikan pengertian Those destined to destruction (ditakdirkan untuk dihancurkan), hal ini sejalan dengan Thayer dalam Thayer Lexicon yang memberi pengertian a man doomed to eternal misery (seorang yang ditakdirkan untuk kesengsaraan kekal).
Meskipun dalam teks ini tidak menyebutkan secara jelas siapa murid yang dimaksudkan, akan tetapi banyak bukti dalam Injil yang mengarah kepada Yudas Iskariot adalah murid yang dimaksud.  Matthew Henry mengatakan “dia adalah orang yang ditentukan untuk binasa, sehingga bukanlah salah satu dari mereka yang diberikan kepada Kristus untuk dipelihara, dia adalah anak dari siperusak, berasal dari sijahat.”[211] Collin G. kruse mengatakan ‘son of destuction’  can denonete either person’s character or destiny or both. The reference is to Judas Iskariot, who did not remain loyal and who had already gone out to betray Jesus.[212] sedangkan Merril C tenney  mengatakan:
Except Judas "the one doomed to destruction" this Semitic phrase denotes phrase denoted an abandoned character, one utterly lost and given over to evil. the language does not imply that Judas was a helpless victim who was destined to perdition against his will. rather, it implies that having made his decision, he had passed the point of no return; and, by so doing, he carried out what the scriptures had indicated would happen.”[213]

Perihal teks ini John Calvin mengatakan:
Judas is excepted, and not without reason; for, though he was not one of the elect and of the true flock of God, yet the dignity of his office gave him the appearance of it. that the Scripture might be fulfilled. But it would be a most unfounded argument if anyone were to infer from this, that the revolt of Judas ought to be ascribed to God rather than to himself; because the prediction laid him under a necessity.[214] 
           
            Yudas memang dipilih oleh Yesus sendiri untuk menjadi murid, akan tetapi ia tidak termasuk orang pilihan yang akan diselamatkan, bukan karena Kristus tidak memberinya kesempatan tetapi karena kehendak bebasnya, ia menolak kesempatan tersebut. Penulis setuju dengan Tenney yang mengatakan, Yoh 17:12 tidak menunjukan Yudas, sebagai orang yang tidak berdaya yang ditakdirkan untuk dihancurkan oleh karena kehendaknya, melainkan Karena Yudas telah melewatkan kesempatan dengan melakukan pengkhianatan dan dengan melakukannya ia telah melakukan apa yang ditulis kitab suci.[215] Begitupun dengan pandangan Calvin yang mengatakan bahwa, pemilihan Yudas menjadi salah satu murid Kristus agar kitab suci digenapi tetapi, bukan berarti pengkhianatan Yudas berasal dari Allah agar nubuatan digenapi,[216] Melainkan ia Berkhianat berdasarkan k einginannya sendiri.

  1. Menyesal (μεταμεληθεὶς)  Mat 27:3
Injil Matius adalah satu-satunya Injil yang mengkisahkan akan penyesalan Yudas, dan bagaimana ia mati. Dalam Matius 27: 1-10, dikisahkan setelah Yudas mendengar bahwa Yesus akan dihukum mati, ia menyesal[217] dan berusaha membebaskan Yesus dengan menyerahkan kembali uang tiga puluh keping perak kepada para imam, tetapi usahanya sia-sia, dan Yudas mengambil keputusan bunuh diri.
Kata menyesal dalam teks ini adalah μεταμεληθεὶς dengan bentuk nomitatif aorist pasif dalam bentuk leksikal, μεταμέλομαι yang artinya menyesal.[218] Kata μεταμέλομαι sinonim dengan kata μετανοέω, namun terpadat perbedaan arti antara kedua kata ini, kata yang pertama hanya mengungkapkan perubahan emosional atau pikiran, tetapi yang kedua mengarah pada perubahan pilihan.[219] ini juga berarti Suatu perasaan penyesalan yang mengharapkan hal yang telah terjadi dapat dibatalkan.[220] Atau perubahan kesadaran yang tidak begitu banyak akan perbuatannya.[221] Penggunaan kata μετανοέω, ini menunjukan bahwa, penyesalan Yudas yang diakibatkan oleh kesadaran bahwa perbuatannya menyerahkan Yesus telah membawa Yesus pada kematian adalah kesalahan besar. Akan tetapi penyesalan Yudas tidak sampai pada pertobatannya. Tindakan Yudas yang mengembalikkan tigapuluh keping perak kepada para imam merupakan bentuk peyesalannya akan tetapi, referensi disini bukanlah pertobatan tetapi oleh penyesalan.[222]
Dorongan rasa bersalah yang begitu kuat, membuat Yudas berusaha untuk membatalkan penghukuman yang telah diputuskan terhadap Yesus. Ia mengakui kebersalahannya dihadapan para imam yang menghukum Yesus dan mengembalikan uang tiga puluh keping perak kepada mereka, dengan harapan hukuman Yesus dapat dibatalkan. Tetapi para imam tidak memperdulikan Yudas, jawaban “apa urusan kami dengan itu?” dari imam kepada Yudas menunjukkan ketidak pedulian imam, bagi mereka perasaan bersalah adalah urusan Yudas sendiri, Yudas hanyalah alat untuk memperoleh tujuan mereka.[223] Yudas yang telah berusaha namun gagal menjadi semakin dihantui rasa bersalah, dan mengambil keputusan bunuh diri.
Iblis, yang telah memakai Yudas untuk mengkhianati Tuhan Yesus (Bdk Luk 22:7; Yoh 13:27), memberikan upahnya kepada Yudas dengan mendorongnya kepada pembinasaannya sendiri.[224] Kematian Yudas dengan cara gantung diri dalam  Mat 27: 5, dan kondisi mayatnya yang mengerikan dengan perut terbelah dan isi perutnya keluar semua dalam KPR 1:18. Menunjukan secara tidak langsung akan nasib tragis yang menimpa Yudas, oleh karena perbuatannya sendiri. selain itu penekanan Yudas mengalami kebinasaan terdapat dalam KPR 1:25, Petrus mengatakan bahwa, Yudas telah pergi ketempat yang wajar baginya. Dalam hal ini Petrus ingin mengatakan bahwa Yudas telah meninggalkan perannya dan “pergi ketempatnya” sebuah referensi  yang menunjuk penghukuman kekal.[225]  Menurut C. K. Barrett, kata tempat (τόπον) dalam teks ini merujuk kepada pengkhianatan atau kosekuensinya.[226]
            Pemilihan menjadikan murid dan pemberian keselamatan merupakan kedaulatan dari Allah. Menurut penulis Injil Yohanes 6:70; 17:12, memberikan suatu pemahaman bahwa pemilihan menjadi murid dan pemilihan untuk tidak binasa adalah dua hal yang berbeda tetapi keduanya ada dalam kedaulatan Allah. pemilihan Yudas ditetapkannya ia menjadi binasa ada dalam kedaulatan Allah untuk menggenapi perkataan-Nya, akan tetapi Yudas menjadi binasa merupakan tanggung jawabnya sendiri sebab ia pada dasarnya tidak percaya kepada Kristus.
BAB IV
IMPLIKASI PEMILIHAN YUDAS ISKARIOT DAN KAITANNYA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI BAGI ORANG PERCAYA.

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis akan membahas atau menjelaskan implikasi pemilihan Yudas Iskriot dan kaitannya dengan doktrin Prededestinasi bagi orang percaya, dari hasil penelitian pustaka pada Bab III. Perhatian Khusus akan diberikan kepada pembahasan Pemilihan Allah bagi orang Kristen dan kaitannya dengan Predestinasi. Hal ini menjadi sangat perlu menjadi perhatian bagi orang percaya agar tidak salah memahami pemilihan Allah dalam menjadikan orang “Kristen” dan kaitanya dengan ketetapan akhir bagi orang Kristen.

  1. Ketetapan pemilihan
Pemilihan Ilahi adalah Allah memilih sejumlah orang untuk masuk sorga, yang lain tidak dipilih dan akan masuk ke neraka.[227]  Oliver Buswell mengatakan bahwa, penetapan Allah adalah maksud  Allah yang kekal sesuai kehendak-Nya, yaitu untuk kemuliaan-Nya sendiri, Ia telah menetapkan apa saja yang akan datang.[228] Pemilihan adalah alat yang Allah gunakan untuk melaksanakan (merealisisasikan) kehedak-Nya.[229]
Karena itu Allah berdaulat memilih siapa saja untuk merealisasikan kehendak-Nya, dan Allah pun berdaulat memilih siapa yang akan memperoleh kehidupan kekal dan siapa yang tidak akan memperolehnya.  Ketetapan pemilihan Allah dalam kasus Yudas menurut penulis dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu,
  1. Pemilihan Menjadi Pengikut Kristus
Yudas Iskariot menjadi murid Yesus bukanlah berdasarkan keingiannya sendiri, tetapi Yesuslah yang memilihnya. Yesus tidak akan memilih Yudas seandainya tidak meperlihatkan perhatian yang besar terhadap diri dan pekerjaan-Nya.[230] Dalam Kemahatahuan-Nya Yesus tahu siapa sebenarnya Yudas, Ia mengetahui Yudas adalah seorang yang tamak, yang mengikuti Yesus bukan karena ia “percaya” kepada-Nya, tetapi ia mempunyai motivasi dalam mengikuti Yesus yaitu, untuk mencapai keuntungan Pribadi.
            Pemanggilan atau pemilihan Yudas Iskariot menjadi bagian dari kedua belas murid merupakan kedaulatan atau inisiatif dari Kristus. Di dalam Injil tidak satupun disebutkan hal-hal yang menyebabkan para murid layak menjadi murid, karena itu Pemilihan Murid merupakan inisiatif dari Yesus sendiri. Injil Yohanes 6:70 a mengatakan, “Bukankah Aku sendiri Yang telah memilih kalian kedua belas rasul ini?” Hal ini merupakan suatu pertanyaan-retoris, yang mengharapkan jawaban, ya benar.[231]  Kata Yunani Οὐκ ἐγὼ (oux ego) yang berarti bukankah Aku, kata Οὐκ (oux) dari leksikal ou yang berarti bukankah, kata ini jika digabungkan dengan kata kerja, akan memberikan pengertian apa yang dilakukan oleh kata kerja hanya dilakukan oleh subyek.[232] Subyek dalam kalimat ini yaitu ἐγὼ (ego), yang menunjuk pada Yesus. Kata memilih dari kata ἐξελεξάμην (ezelezamen) dari leksikal ἐκλέγω (eklego) dalam bentuk aorist medium orang pertama tunggal, dalam bentuk kata kerja. kata ἐξελεξάμην memiliki pengertian satu pekerjaan yang telah dilakukan dan hanya sekali saja. Kata ἐξελεξάμην berarti juga memilih satu diantara banyak pilihan.[233] Kata ἐξελεξάμην merujuk pada pekerjaan yang dilakukan oleh subyek.  Maka dapat dikatakan, pemilihan menjadi murid Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi sekali saja dan berdasarkan atas kedaulatan-Nya
Menurut penulis kalimat bukankah Aku sendiri yang memilih yang merupakan pertanyaan retoris dari Kristus bagi para murid, merupakan suatu pertanyaan penegasan yang menegaskan bahwa, pemilihan menjadi murid merupakan kedaulatan dari Kristus sendiri. Pemilihan yang semata-mata karena kedaulatan-Nya, bukan melihat apa yang ada dari para murid. Dapat disimpulkan bahwa Yesus memilih satu dari antara banyak pilihan, meskipun memiliki kriteria untuk dipilih akan tetapi, pemilihan untuk menjadi murid Kristus mutlak kedaulatan dari Allah.      
Pemilihan merupakan kedaulatan dari Yesus terdapat juga dalam Yohanes 15:16, dalam konteks perintah saling mengasihi. Dalam ayat ini kata ganti aku (ἐγὼ) dan kamu (ὑμεῖς), menekankan bahwa soal menjadi murid Yesus pada hakikatnya adalah berdasarkan pilihan Tuhan, bukan hanya keputusan pribadi-pribadi yang bersangkutan.[234]  Pemilihan para murid oleh Kristus bukanlah tanpa tujuan. Mereka dipilih dengan tujuan agar mereka berbuah. Ini adalah pemilihan khusus, yang membawa para murid pada tugas pemberitaan Injil, dan ini merupakan anugerah bukan karena jasa mereka,[235] atau karena mereka lebih bijak atau lebih baik akibatnya membuat pilihan yang tepat, tetapi semata-mata karena Yesus memilihnya.[236]

  1. Terpilih menjadi murid tetapi tidak mengalami keselamatan
Pengajaran pemilihan ditetapkan menjadi murid Kristus mudah dterima oleh orang percaya, akan tetapi pemilihan ditetapkan untuk selamat atau ditetapkan binasa yang disebut dengan Predestinasi sering kali menjadi perdebatan dalam kekristenan. Predestinasi jika dimengerti sebagai fatalisme akan membawa kepada pemahaman, di mana manusia dianggap boneka Allah, sehingga melihat Allah sebagai Pribadi yang kejam, yang sewenang-wenang.[237] Karena itu penting memahami pengajaran ini dengan benar.
Menjadi murid Kristus, bukanlah karena apa yang ada dalam diri manusia tetapi semata-mata karena inisiatif Yesus. Pemilihan-Nya merupakan cara untuk merealisasikan kehendak Allah agar terjadi. Akan tetapi perlu disadari pemilihan menjadi murid, bukan berarti secara otomatis terpilih untuk menikmati keselamatan yang telah Allah sediakan. Pemilihan menjadi murid dan pemilihan keselamatan merupakan kedua hal yang berbeda namun keduanya ada dalam kedaulatan Allah.
            Dari kasus Yudas Iskariot kita dapat melihat suatu kebenaran pengajaran Alkitab tentang pemilihan, yaitu bahwa dipilih menjadi pengikut Kristus bukan berarti terpilih untuk memperoleh keselamatan. Perbedaan adanya pemilihan menjadi murid Kristus tetapi juga tidak terpilih memperoleh keselamatan terjadi dalam kasus Yudas, ditegaskan dalam Injil Yohanes 6:64,70; 13:10,18. Injil Yohanes mengatakan dengan lebih jelas dibandingkan dengan injil-injil sinoptik tentang tidak dipilihnya Yudas. Dalam pemilihan para murid dikatakan bahwa, Yesus mengetahui sejak awal kepercayaan para murid, dan ia tahu terdapat satu murid yang tidak percaya kepada-Nya.
 kepastian adanya murid yang tidak mendapatkan keselamatan secara jelas dinyatakan dalam Yoh 17:12. Kepastian akan kebinasaan Yudas, juga diperkuat dengan bagaimana dia mengalami kematian, di dalam Mat 27: 4-5; dan Kis 1:25. Yohanes 17:12 dalam doa syafaat Yesus bagi murid-murid-Nya, Yesus tidak membiarkan murid-murid-Nya binasa terkecuali seorang yang merupakan anak kebinasaan. Mat 27: 4-5 Penyesalan Yudas karena telah menjual Yesus tidak membawa dia para pertobatan akan tetapi justru membawa dia pada keberdosaan yang lebih jauh lagi yaitu, keputusanya untuk bunuh diri.
            Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa ketetapan adanya murid yang ditolak, bukan berarti Allah telah menentukan kebinasaan murid tersebut, akan tetapi penolakan yang Allah lakukan terhadap Yudas dilakukan berdasarkan perbuatan yang dilakukan oleh Yudas. Yudas ditolak bukan karena saja ia mengkhianati Yesus, tetapi juga dia tidak percaya kepada Kristus, sehingga ia tidak mengalami perubahan karakter dan pola pandang tentang Yesus. Ketidak percayaan membuat Yudas menolak segala kesempatan dan peringatan yang diberikan kepadanya dan membiarkan dirinya diperalat oleh Iblis. Maka dapat dikatakan penolakan terhadap Yudas adalah, reaksi Allah terhadap kesalahan dan pertentangan manusia.[238]  Menurut penulis ketidak percayaan Yudas kepada Kristus merupakan penyebab utama dari kebinasaan yang di alami Yudas.

  1. Implikasinya pemilhan Yudas Iskariot
a.       Implikasinya bagi orang percaya atau jemaat
Stepen tong mengatakan bahwa, Yudas memiliki banyak kebahagiaan yang sangat dirindukan oleh orang percaya, ia dilahirkan sezaman dengan Kristus, suatu kerinduan yang dirindukan oleh nabi-nabi dalam perjanjian lama dan juga orang percaya zaman ini. Memiliki lingkungan yang menyenangkan, ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik, Mendapatkan pengajaran secara langsung dan pribadi dari guru yang teragung sepanjang sejarah. Memperoleh panggilan dari Tuhan yang Maha mulia. Mendapatkan pelatihan dari Tuhan sendiri. Ia mengatakan Yudas seharusnya menjadi seorang rasul yang luar biasa. Akan tetapi justru ia mengalami nasib yang buruk.[239]

KebahagiaanYudas merupakan suatu anugerah yang sangat dirindukan oleh setiap orang percaya. akan tetapi Yudas memiliki nasib yang sangat buruk yang menimpanya menjadi suatu pertanyaan bagi orang percaya. 
Melalui kasus Yudas, orang percaya perlu menyadari bahwa, seseorang menjadi pelayan Kristus, tidak berarti ia termasuk kaum pilihan Allah, yang tidak akan mengalami kebinasaan. Menjadi pelayan atau hamba Allah merupakan pemilihan Allah bagi orang yang ia kehendaki, Yudas dipilih menjadi murid yang hanya merupakan suatu jabatan semata.
 Pemilihan seperti Yudas dapat terjadi juga pada hamba-hamba Tuhan yang melayani orang percaya pada masa kini. Orang percaya masa kini perlu menyadari bahwa, meskipun ada orang yang terpilih menjadi hamba Tuhan diberikan karunia-karunia rohani yang menyertainya, belum tentu ia terpilih untuk mengalami berkat keselamatan. Perlu disadari hamba Tuhan merupakan suatu jabatan gerejawi yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada siapa saja Dikehendaki-Nya. Dia memilih seseorang untuk menggenapi rencana-Nya bagi keselamatan orang-orang yang telah ditentukan-Nya sejak semula. Hal ini berarti Allah dapat menggunakan siapa saja untuk menggenapi rencana-Nya termasuk kaum reprobate.  Menurut penulis yang terpenting bagi orang percaya adalah mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang menjadi hamba Tuhan, selama itu berasal dari Firman Tuhan dan merupakan kebenaran ilahi. Dalam menanggapi hal ini orang percaya perlu mengingat dan mengaplikasika perkataan Tuhan Yesus tentang  ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, dalam Matius 23:3. perlu disadari, bagaimanapun “hamba Tuhan” adalah orang yang dipiih oleh Allah secara langsung untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan,  meskipun ada yang tidak melakukannya, sudah menjadi kewajiban bagi orang percaya untuk mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan.
b.      Implikasinya bagi Hamba Tuhan
Dari pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid yang juga mengalami kebinasaan. Seorang hamba Tuhan dapat belajar akan suatu hal yaitu, hamba Tuhan perlu menyadari bahwa menjadi pelayan Tuhan merupakan kedaulatan dari Allah. Ketika seseorang memutuskan diri menajdi seorang hamba Tuhan, Allah mengetahui apa motivasi orang tersebut menjadi hamba Tuhan, dan apa yang akan ia lakukan ketika mengikut Kristus. Allah bisa saja membatalkan keinginan seseorang yang bermotivasi buruk ketika ingin menjadi hamba Tuhan, akan tetapi Allah pun berdaulat untuk tetap menjadikannya seorang hamba Tuhan. Pemilihan Allah menjadikan seseorang menjadi hamba Tuhan perlu disadari bahwa, hal ini tidak berkaitan dengan pemilihan keselamatan, pemilihan-Nya berkaitan dengan merealisasikan rencana Allah sejak kekekalam bagi keselamatan umat pilihan-Nya. Maka dapat disimpulkan bahwa, Allah berdaulat memakai siapa saja untuk merealisasikan rencana-Nya temasuk dari kaum yang di binasakan.
Dari apa yang dialami dan yang dilakukan oleh Yudas, seorang mahasiswa teologi dapat mengambil pelajaran penting mengenai pemanggilan-Nya sebagai seorang hamba Tuhan. Sama seperti Yudas, seorang mahasiswa Teologi dipanggil oleh Tuhan, dikelilingi oleh lingkungan yang baik, mendapatkan pelatihan dan pelajaran yang terbaik dan diperlengkapi untuk pelayanan. Akan tetapi jika kesemuanya itu tidak membawa pada perubahan yang signifikan terhadap karakter dan sifat dari seorang mahasiswa teologi, bahkan membawa kepada suatu sikap yang lebih buruk dari sebelum ia masuk sekolah teologi, maka ia perlu mengintropeksi diri mengenai motivasinya menjadi hamba Tuhan, sehingga dapat menyadari sedini mungkin adanya kecenderungan memanfaatkan Kristus untuk kepentingan pribadi yang bisa saja terdapat pada mahasiswa teologi.
c.       Implikasinya bagi kaum Reprobat (Tidak dipilih)
Predestinasi merupakan bagian dari penetapan Allah sejak semula. Predestinasi atau pemilihan ilahi terdiri dari dua bagian: pemilihan  (election) dan penolakan/reprobasi.[240] Pemahaman predestinasi sering kali membawa pada pemahaman yang keliru, yang menganggap Allah pilih kasih dan kejam. Menurut penulis lebih mudah menerima Allah sebagai Allah yang maha kasih, yang menganugerahkan keselamatan bagi manusia dibandingkan, Allah yang sejak semula telah menetapkan adanya manusia tidak diselamatkan, bahkan, Calvin katakan mencegah untuk memperolehnya.[241] Penolakan Allah terhadap manusia yang tidak dipiihnya, memang telah ditetapkan sejak semula, akan tetapi tidak berarti melepaskan dari tanggung jawab dari manusia uang mengalami penolakan Allah. sebab penolakan adalah reaksi Allah dari kehendak bebas manusia yang telah rusak yang menolak dan menentang Allah.
Melalui kasus Yudas Iskariot, dapat mengambil suatu pelajaran penting tentang kaum reprobate. Yudas mewakili keseluruhan manusia secara keseluruhan, yaitu manusia sebenarnya telah mengalami kerusakan total, yang meskipun diberikan kesempatan terbaik, tetapi tanpa adanya anugerah dari Tuhan tidak akan mengalami pertobatan. Dari kisah Yudas Iskariot mengajarkan bahwa, Allah mengasihi kaum Reprobat, hal tersebut terbukti dari beberapa kali Kristus memperingati Yudas dan memberikan kesempatan baginya, akan tetapi Yudas menolaknya. Jika pada hari kiamat nanti ada manusia yang mengatakan “Aku tidak diselamatkan karena aku tidak mendapat kesempatan” Tuhan akan mengatakan “Yudas, jawab!”.
            Pemilihan dan pemanggilan Yudas membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi, dan adil. Penetapan Allah terhadap orang yang tidak dipilih bukan karena Allah tidak “mengasihi”, tetapi Allah tidak mengkaruniakan iman kepada mereka sehingga mereka tidak dapat percaya kepada Kristus. tanpa kepercayaan kepada Yesus manusia tidak mungkin akan datang kepada Allah, dan tidak mungkin mendapat keselamatan.







BAB V
Kesimpulan dan Saran.

A.    KESIMPULAN
Berbagai pandangan telah ada mengenai pemilihan Yudas Iskriot menjadi seorang murid, tetapi juga mengalami kebinasaan kekal yang dikaitkan dengan doktrin predestinasi. Yudas iskariot adalah sosok yang kontroversial di dalam agama Kekristenan, ia seorang salah satu dari kedua belas murid yang dipilih langsung oleh Kristus, akan tetapi ia mengambil keputusan untuk menyerahkan Yesus kepada para musuh-Nya. Motivasi dari Yudas dalam mengkhianati Yesus tidak dijelaskan secara jelas oleh Injil, sehinga terdapat pendangan yang berbeda-beda mengenati motivasi Yudas dalam mengkhianati Yesus, ada pandangan yang mengatakan motivasi Yudas adalah rasa nasionalisya yang tinggi, Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa, Yudas kecewa terhadap Yesus, ia menjadi murid Yesus Karena ia ingin menjadi bagaian dari pemerintahan yang akan didirikan oleh Yesus di Israel, akan tetapi pemberitahuan tentang kematian  Yesus membuatnya kecewa.  Pandangan yang ketiga ialah cinta uang. Yudas yang merasa kehilangan kesempatan menambah pundi-pundi pribadi ketika perempuan mengurapi Kristus dengan minyak narwastu yang mahal, ia berusaha mencari pengganti dengan menjual Yesus kepada para musuh-Nya. Namun dari ketiga pandangan ini dapat disimpulkkan bahwa motivasi Yudas menjual Yesus adalah sikap Yudas yang mementingkan diri sendiri, seorang yang cinta Uang, tamak, yang memandang Yesus sebagai alat yang dapat memenuhi keinginan pribadinya. 
Pemilihan Yudas menjadi seorang Murid Kristus membuktikan bahwa Yesus berdaulat untuk menentukan siapa saja yang ia pilih menjadi murid-Nya. Yesus dalam kemahatahuan-Nya tentu tahu apa yang menjadi motivasi Yudas Iskariot dan para murid yang lain menjadi murid-Nya. jika melihat dari  motivasi Yudas ataupun para murid Yesus bisa saja tidak memilih mereka menjadi para murid, akan tetapi dalam pemilihan-Nya, Yesus melihat kepada pekerjaaan dan rangcangan Allah yang harus digenapi di dalam Dia. Pemilihan Yudas membuktikan bahwa tidak ada satupun alasan yang dapat dilihat dalam diri manusia bahwa manusia layak dipilih oleh Allah untuk menjadi alat-Nya. pemilihan Yudas juga mengajarkan bahwa, pemiilihan menjadi alat Tuhan tidak berarti terpilih sebagai umat Allah, akan tetapi keduanya ada dalam kedaulatan Allah. 
Pemilihan Yudas sebagai seorang murid selain membuktian bahwa Allah berdaulat memilih dan menolak seseorang menurut kehendak-Nya, tetapi juga sekaligus membuktikan kasih Allah kepada semua orang. pemiliihan Yudas menjawab pandangan yang menolak predsetinasi, pandangan yang mengatakan bahwa, orang yang telah ditetapkan binasa tidak memiliki kesempatan dalam mengenal Allah, dan tidak dikasihi oleh Allah. Pemilihan Yudas membuktikan Allah tetap memberikan kesempatan kepada orang yang ditolak. Hal ini juga menegaskan bahwa, orang yang telah ditolak oleh Allah tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya, sebab mereka menolak Allah, dan berbuat melawan Allah dilakukan berdasarkan kehendak bebasnya, bukan telah ditentukan oleh Allah. 
Pemilihan Yudas membuktikan bahwa kehendak bebas manusia berada di dalam kedaulatan Allah. Allah berdaulat menggunakan kehendak bebas manusia yang merancangkan  hal-hal yang buruk menjadi suatu kejadian yang dapat menggenapi rencana-Nya yang telah ia tetapkan. Tanpa melepaskan tanggung jawab dari orang tersebut.
B.     SARAN
Pemahaman akan pemilihan Yudas Iskariot menjadi seorang murid Kristus sering kali membawa pada kesalah pahaman tentang pemilihan dan Predestinasi. Memahami pemilihan Yudas merupakan hal yang penting dalam memahami predestinasi terkhususnya bagi orang percaya. perlu disadari oleh orang percaya pemilihan menjadi seorang murid berbeda dengan pemilihan ditetapkan selamat oleh Allah, meskipun keduanya ada dalam kedaulatan Allah. Pemilihan Yudas juga membuktian bahwa Allah berdaulat menggunakan siapa saja untuk menjadi alat-Nya.
 Penulis memberikan saran kepada setiap pembaca maupun orang percaya untuk memahami doktrin Predestinasi dengan tepat sehingga mempunyai sikap yang benar, tentang doktrin Predestinasi, dan sikap yang tepat terhadap hamba Tuhan yang tidak menjadi teladan untuk tetap mendengarkan ajaran-Nya selama ajaran tersebut berasal dari kebenaran Firman Allah. selain itu orang percaya perlu intropeksi diri sendiri terhadap sikap dan  karakter selama mengikut Yesus, orang percaya haruslah mengalami perubahan karakter dan moral serta pengudusan diri secara terus-menerus, jangan sampai kedekatan kita dengan Kristus justru membawa kita semakin buruk, sama seperti yang Yudas alami.
           



[1] Stephen Tong, kebahagiaan Yudas, (Surabaya:Momentum,2013), Hal. 15
[2] Sinclair B. Ferguson, kehidupan Kristen sebuah pengantar doctrinal, (Surabaya: Momentum, 2011) Hal. 154
[3] Herbert Krosney, The lost gospel, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006) Hal.46
[4] John Drane, Memahami Perjanjian  Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012) Hal.44
[5] Libronic, Easton’s Bible Dictionary, ebook
[7] http://www.gys.or.id// seri tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di askes 09-02-19
[8] Bible works v.9
[9] Stepen M. Miller, Tokoh dan Tempat dalam Alkitab,(Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2017) hal, 566.
[10] Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes suatu  tafsiran teologis, (Malang: Momentum, 2012), hal  601

[12] Thayer, Bibleworks v.09
[13] http://www.gys.or.id// seri tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di askes 09-02-19
[14] Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, (Surabaya: Momentum, 2016) Hal.27
[15] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), Hal.294
[16] Hadiwijono, Iman Kristen, Hal 297
[17] Arthur W. Pink, The Sovereignty Of God, terj the Boen Giok (Surabaya: Momentum, 2005), Hal. 128
[18] Hadiwijono, Iman Kristen, Hal 298
[19] Arth W. Pink, Jaminan Kekal (USA: Baker Book House, 1996), hal 25
[20] Yohanes Calvin, Instutio,Terj Winarsih, dkk  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal 200-204
[21] Milliard J. Erikson, Teologi Kristen vol 3, (Malang: Gandum Mas, 2012), 117-119
[22] R.C. Sproul, kaum pilihan Allah, (Malang: SAAT,1995), Hal. 21
[23] Henry C Thieessen, Teologi Sisitematika,(Malang: Gandum Mas 2015), hal. 393
[24] Yosep Suitela, Peranan Yudas Iskariot Sebagai Suatu Paradoks Dalam Sejarah Keselamatan, Skripsi (Batu: Providensia, 2009) Hal. 30
[25] https://Www.Ahdictionary.Com/Word/Search.Html?Q=Judas, Diakses 19-02-19
[26] K Lake, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,1995) Hal. 634
[28] Donald Judd, Emcyclopedia Of Knowledge 10 (USA: Grolier Incorporated), Page. 405
[29] Http://Www.Gys.Or.Id// Seri Tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di Askes 09-02-19
[30] Http://Www.Gys.Or.Id// Seri Tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di Askes 09-02-19
[32] Suitela, Peranan Yudas Isariot Sebagai Suatu Paradoks Dalam Sejarah Keselamatan,  Hal 30.
[33] Ibid 31.
[34] Ratih Zimmer Gandasetiawan, Mendesain Karakter Anak Melalui Sensomotorik, (Jakrata: Libri,2011)  Hal. 16
[38] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 Hal.
[39] Suitela, Peranan Yudas, Hal 32
[40] Bible Works 9
[41] J.W,Wenham, Bahasa Yunani Koine, Diterj, Lyne Newel, (Malang: SAAT, 1987), Hal. 77
[42] Bible Works Lexicon
[44] Donald Judd, Encyclopedia Of Knowledge 10. Hal 405
[45] Harry A Hollet, Clarence E. Macartney, Dua Belas Murid Tuhan Ditambah Paulus (Malang: Gandum Mas 1998) Hal 103
[46] Ibid, 104
[47] Ibid 104
[48] Donald K. Campbell,Encylopedia Of The Bible Vol.2 (Michigan: Barker Book House,1995) Page.  1239.
[50] Paulus Daun, Bidat Kristen Dari Masa Ke Masa, (Manado: Yayasan Daun  Family,1999) Hal. 64
[51] N.T Wright, Menjawab Injil Yudas, (Yogyakarta: Gradien Book,2006) Hal 24.
[52] Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, Gregor Wurst, The Gospel Of Judas (Jakarta: Gandum Mas, 2006) Hal. Xxiv
[53] Herbert Krosney, The Lost Gospel (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006) Hal.41
Kata Yang Meragaiku Secara Harafiah  Berarti “Yang Mengandungku” Atau “Yang Membawaku”      (Koptik Dari Yunani Etrphoreiemmoel) Yudas Diperintahkan Oleh Yesus Untuk Membantu Dia Mengurbankan Jasadnya (Si Manusia) Yang Menjaketi Atau Mengandung Diri Sejati Yesus  Yang Bersifat Rohani.
[54] Ibid Hal 37
Bart D Ehrman Dalam Komentarnya Tentang Injil Yudas Yang Di Suning Oleh Kasser, Meyer, Dan Wurst Mengatakan Bahwa Baris-Baris Puitus Ini Menggambarkan Bagaiman Yudas Dipersiapkan Untuk Melakukan Pengkhianatan Yang Bernilai Penyelamatan Itu Bdk Ayat-Ayat Dari Mazmur.
[57] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Hal 801
[58] Ibid 801
Injl Barnabas Yang Berada Diturki Diperkirakan Berusia Seribu Lima Ratus Tahun Dituliskan Dengan Tinta Berwarna Emas, Injil Barnabas Ini Lebih Tua Dari Dua Injil Barnabas Yang Sebelumnya Ditemukan. Dua Injil Barnabas Sebelumnya Berbahasa Italia Dan Spanyol.
[62] Terdapat Perbedaan Yang Sangat Besar Antara Injil Barnabas Dengan Injil-Injil Kanonik. Jika Ditinjau Dari Isinyapun Tidak Berhubungan Antara Surat Barnabas Dengan Injil Barnabas. Surat Barnabas Mengakui Ke- Allahan Yesus, Dan Bahkan Menekankan Kasih Karunia Oleh Kristus Yang Mengatasi Hukum Taurat, Sehingga Menolak Hukum Sunat. Injil Barnabas (Atau Lebih Tepat Disebut Sebagai Surat/ Homili Barnabas) Telah Dikenal Pada Sekitar Abad Ke 2 Di Gereja Alexandria, Karena Diperkirakan Memang Dituliskan Oleh Seseorang Dari Jemaat Alexandria. Tidak Ada TulIsan Lain Dari Para Bapa Gereja Abad- Abad Awal Yang Mengkonfirmasi Bahwa Surat Tersebut Benar- Benar Dituliskan Oleh Barnabas, Sehingga Siapa Pengarang Surat Ini Dan Kepada Siapa Surat Ini Dituliskan Secara Khusus Tidak Diketahui Dengan Pasti. Http://Www.Katolisitas.Org/Surat-Barnabas-Dan-Tentang-Mani/ Di Akses 09-03-19
[63] David K. Lowery, A Biblical Theology Of The New Testament, Diterjemahkan Oleh Paulus Adiwijaya. (Malang: Gandum Mas, 2011), Hal, 17
[64] Suitela, Peranan Yudas, Hal.36
[65] William Hendriksen, New Testament Commentary  Matthew, (Michigan: Barker Academic,2007) Page. 901
[66] Charles F. Pfeiffer, Evertt F. Harrison, The  Wycliffe Bible Commentary, ( Malang: Gandum Mas, 2013) Hal.160
[67]  Thayer’s greek lexicon, Bible works 8
[68] Kata  ἥμαρτον Ini Menunjukan Adanya Penyesalan Atas Perbuatan Yang Telah Dilakukan, Atau Menyesal Karena Kerusakan Moral Yang Ada Pada Diri Sendiri, Penyesalan Oleh Karena Dosa Orang Yang Tidak Bersalah (Lexicon BDAG)
[69] Leon Morris, Injil Matius. (Surabaya: Momentum, 2016), 708
[70]  Orang Herodian adalah orang yang mengabdi di dalam kerajaan Herodes, pendukung raja Herodes dan Keluarganya. Mereka menyatukan kebudayaan Yunani dan ajaran agama Yahudi menjadi satu partai, dan mengaku bahwa kerajaan Mesias telah digenapi dalam kerajaan Herodes. Ketika Tuhan Yesus dibumi, dan firan keajaan rohani yang diberitakan-Nya bertentangan dengan kepentingan dan otoritas mereka, mereka bersukutu dengan orang-orang farisi mereka-reka untuk membunuh Yesus, (Lukas Tjandra, latar belakang Perjanjian Baru II, (Malang: SAAT,1997), Hal.53
[71] Robert G. Bratcher, Eugene A. Nilda, Pedoman Penafsiran Alkitab Injil Markus, (Jakarta: LAI, 2014) Hal.326
[72] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), Hal.55
[73] Bratcher,  Nilda, Injil Markus, Hal 32
[74] Jakob Van Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011) Hal. 360
[75] Suitella, Peranan Yudas, Hal.39
[76] Mattew Henry, Tafsiran Injil Lukas, Diterjemahkan Lanny Murtihardjana, Paul Rajoe, Goat Chiu, (Surabaya: Momentum, 2015) Hal 317
[77] Van Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus. Hal. 526
[78] David K. Lowery,  A Biblical Theology, page.75
[79] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab Injil Lukas, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), Hal. 3
[80] Ibiid, Hal 517
[81] William Hendriksen, New Testament Commentary The Gospel Of Luke, (Michigan: Baker Book House, Tanpa Tahun Terbit. Hal, 955
[82] John Calvin, Calvin Commentary Vol.17 Harmony Of John 1-11, Transled Bya William Pringle, (Michigan: Baker Book House, 1996) Page. 280
[83] Bible Works 9
[84] Swanson, J. (1997). Dictionary Of Biblical Languages With Semantic Domains : Hebrew (Old
Testament) (Electronic Ed.). Oak Harbor: Logos Research Systems, Inc. Dikutip Oleh Http://Www.Gys.Or.Id/Seri-Tokoh-Alkitab/Yudas-Iskariot, Di Askes 09-02-19
[85] Ridderbos, Injil Yohanes,Hal 508
[86] Matthew Henry, Tafsiran Injil Yohanes 12-21, ( Surabaya: Momentum, 2010), Hal.960
[87] William Hendriksen, The News Testament Commentary John, (Usa: The Banner Of Truth Trust,1982), Hal 358
[88] Ian Barclay, Discovering John’s Gospel, (Leicester: Crossway Book,1998) Hal.133
[89] Wiliam Hendriksen, New Testament Commentary, (Michigan: Baker Academic, 2007) Hal. 454
[90] Ibid 943
[91] Matthew Henry, Matthew Henry’s Commentary Matthew to John, (USA: Hendricson publisher, 1998) Page 442
[92] Matthew Henry, Tafsiran Injil Yohanes 1-11, ( Surabaya: Momentum, 2010), Hal.432
[93] Matthew Henry, Tafsiran Injil Yohanes 12-21, ( Surabaya: Momentum, 2010), Hal.845
[94] Ibid 958
[95] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) Hal. 130
[96]  Carl S Meyer, “Lutheranism”, Dalam: J.D Douglas (Ed), Op. Cit H.613, Di Kutip Oleh  Dietrich Khul, Antara Iman Dan Rasio Sejarah Gereja, Jilid 3, (Malang: YPPII, 1996), Hal 31.
[97] Luther Works Volume 23, Sermon On The Gospel Of St. John Chapter 6-8, Editor Jaroslav Pelikan, Daniel E Poellot, Traslate By: Martin H Betram, (Saint Louist: Concordia Publishing House, 1959),  Hal 178, Ebook-Libronix
[98] Ibiid 196
[99] Lane, Runtut Pijar. Hal 147
[100] Ibiid 148
[101] John Calvin, Calvin Commentary Vol XVII, John 1-11. Hal 280-281
[102] Ibiib, Vol XVIII, Hal 176
[103] Palmer, Calvinisme. 29
[104] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarrta: BPK Gunung Mulia, 2007) Hal 240
[105] David. Ndoen. Skripsi: Pengertian Di Dalam Adam Semua Manusia Berdosa dan Di Dalam Kristus Semua Dibenarkan, (Batu:STT I-3) hal 12
[106] James Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman Kristen, diterj: Lanna Wahyuni, (Surabaya: Momentum, 2015) Hal 227-228.
[107] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran,diter: Connie Item-Corputty, ( Jakarta: Gunung Mulia, 2011) Hal.148
[108] Thayer greek Lexicon, Bible works 09
[109] Ndoen, Di dalam Kristus Semua Dibenarkan, hal. 32
[110] G.I. Williamson, pengakuan Iman Westminester, (Surabaya: Momentum, 2017) Hal. 81
[111] Milner, mengenali Kebenaran, Hal.149
[112] Anthony A. Hoekma, Diselamatkan Oleh Anugerah, (Surabaya: Momentum, 2010) Hal. 37
[113] Pink, The Sovereignty,
[114] Van delden, jangan memegahkan diri, Hal.32
[115]  Edwin H. Palmer, lima pokok calvinisme, (Surabaya: Momentum,2016) Hal. 4
[116]  Ibiid, Hal 8
[117] Ibiid Hal.13
[118] Calvin, Institutio, Hal. 195
[119] Arthur Van Delden, Jangan Ada Orang Yang Memegahkan Diri, (- :perkantas,2017) Hal.63
[120] Enns, Moody Hand Book, hal. 43
[121] Lane, Runtut Pijar, Hal. 42
[122] Lane, Runtut Pijar, Hal. 43
[123] Limwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Di Terj. Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012) Hal. 238
[124]  Bernhard Lohse, Pengantar sejarah Dogmatika Krisnten, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011) Hal. 142
[125] Jonathan Lowijaya, Hukum Taurat Dan Injil Menurut Martin Luther-Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No.1 (Jakarta: STTA, 2006) Hal.83
[126] W.J. Kooiman, Marthin Luther, Diterj. P.S. Naipospos, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), Hal.157
[127] Cristian De Jong, Apa Itu Calvinisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1998) Hal.63
[128] Luther, M. (1999, C1959). Vol. 23: Luther's Works, Vol. 23  : Sermons On The Gospel Of St. John: Chapters 6-8 (J. J. Pelikan, H. C. Oswald & H. T. Lehmann, Ed.). Luther's Works (23:47). Saint Louis: Concordia Publishing House. Ebook Libronix.
[129] Francois Wendel, Calvin, Asal-Usul Dan Perkembangan Pemikiran Religius, Diterj, Ichwei G Dkk. (Surabaya: Momentum: 2010), Hal 297.
[130] Calvin, Istitutio, Hal 196.
[131] Ibid , Hal 133
[132] John Calvin’s, Calvin Commentaries, Vol XIII, Hal ,176
[133] Paul Enns, The Moddy Handbook Of Theology, Diterj, Rahmiati Tanudjaja, (Malang :SAAT, 2010) Hal 121
[134] Ibid, Hal. 129
[135]  Palmer, Calvinisme, hal 31
[136] Paul Enns, The Moddy Handbook. Hal. 133
[137] Ibid, Hal. 135
[138] J.L. Packer, Merril C. Tenney, William White, Jr, Ensiklopedi Fakta Alkitab, Bible Almanac-2 (Malang:  Gandum Mas, 2014) Hal. 1100
[139] Ray C. Stedman, Rahasia Roh Kudus, (Kupang: Karya Guna Offset, 1996) Hal.25dpe
[140] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, (Malang: Gandum Mas, 2001) Hal, 98
[141]  “Kas” Γλωσσόκομον Memiliki Pengertian Kotak Uang Atau Tas Uang, Sebuah Kotak Kecil Yang Kegunaanya Untuk Menyimpan Uang, (Bdk, Thayer Lexicon Bibleworks 9) Kotak Tempat Tuhan Yesus Dan Para Murid Yang Lain Menyimpan Uang Mereka.
[142] Merrill C. Tenney, john, In NIV Bible Comentary Vol.2 Newstestament, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1994) Hal.337
[143] Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu Tafsiran Theologis, Diterj, Lanna Wahyuni ( Surabaya: Momentum, 2012) Hal. 452
[144] Samuel M. Ngewa, The Gospel of John, (Nairobi: Evangel Publishing House, 2003) Hal. 226
[145] Altruistic adalah suatu sikap yang banyak mengutamakan kepentingan orang lain diatas. kepentingannya sendiri, rela menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan: individu yang lebih religious.
[146] F.F. Bruce, The Gospel of John, (Michigan: WM.B. Eerdmans Publlishing Co, 1983), hal 257
[147]  D.L. Baker &  A.A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani-Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal.18
[148] TWOT Lexicon, Bible works 9
[149] Barclay M. Newman Jr. kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru, Diterj John Miller, Gerry van Klinken, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015) Hal.93
[150] D. A Carson, The Gospel according to John  (Leicester, England;  Grand Rapids, Mich.: Inter-Varsity Press;  W.B. Eerdmans. 1991) Page 429, Libronix, ebook
[151] LSJ, Lexicon, Bible works 9
[152] Gerhard Kittel, Theological Dictionary of the New Testament, Voll III, (Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1982) Hal.754
[153] Wenham, koine, hal. 35
[154] Matthew Henry's commentary on the whole Bible: Complete and unabridged Vol I (Peabody: Hendrickson. 1996), Libronix, ebook
[155] Stalker, Masa hidup Yesus, hal. 98
[156] Walvoord, J. F., Zuck, R. B., & Dallas Theological Seminary. (1983-c1985). Komentar pengetahuan Alkitab: Eksposisi tulIsan suci (2: 316). Wheaton, IL: Victor Books.
[157] Davies, W. D., & Allison, D. C. A critical and exegetical commentary on the Gospel according to Saint Matthew (London; New York: T&T Clark International, 2004). Page.156. Libronix
[158]  Thayer Greek Lexicon, Bibleworks 8
[159] K.Wegenast, Dictionary Of Newstetamen Theology V. 3 paradidomi,, Editor: colin brown. (Michigan: Regency, 1986) Page.773
[160] EDNT Dictionary, Bibleworks 9.
[161] Swannell, Julia (1986). The Little Oxford Dictionary of Current English 6th edition. Clarendon Press,
Oxford, hal. 47 dan 601. Di kutip oleh Pdt. ChinAun quek, dkk dalam seri tokoh Alkitab 1, Yudas Iskariot Rasul yang Kehilangan jatidirinya, ( Jakarta: Gereja Yesus Sejati) www.gys.or.id
[162] Arndt, W., Gingrich, F. W., Danker, F. W., & Bauer, W. A Greek-English Lexicon of the New Testament and other early Christian literature: A translation and adaption of the fourth revised and augmented edition of Walter Bauer's Griechisch-Deutsches Worterbuch Zu den Schrift en des Neuen Testaments und der ubrigen urchristlichen Literatur (Chicago: University of Chicago Pres, 1979).Page 615 libronix
[163] Suitela, peranan Yudas, hal 91.
[164] Marry Ann Beavis, Mark, (Michigan: Baker Academic, 2011) Page 211
[165]  Hollet, Macartney, Duabelas Murid Yesus, Hal 105.
[166] W.W buckland, Budak, Encyklopedia Alkitab Masaa KIni Jilid 1, (Jakarta: YKBK, 2000), Hal 198-199
[167] Hollet, Macartney, Duabelas Murid Yesus, Hal 104
[168] Leon Morris, Tafsiran Matius, diterj, Hendry Onkowidjojo, (Surabaya: Momentum, 2016), Hal. 93
[169] Op.cit. Hollet, Macartney, Duabelas Murid Yesus, Hal 104
[170] Tjandra, Perjanjian Baru, Hal 73.
[171]  Stedman. Rahasia Roh Kudus, Hal. 27
[172] Banvick, Sejarah Kerajaan Allah 2, Hal.548
[173] Donald W. Burdick, Markus, The Wyclife Bible Comentary Vol.3, ( Malang: Gandum Mas,2013) Hal. 252
[174] Hollet & macartney, 12 Murid Tuhan, Hal.103
[175] Stalker, sengsara Yesus, hal. 90
[176] Ruth Schäfer, Belajar Bahasa Yunani Koine, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011), Hal. 212
[177] Ridderbos, Yohanes, Hal 266.
[178] France, Yesus sang radikal, Hal 46.
[179] Jl. Packer, Merrrill C. Tenney, William White, Jr, Dunia perjanjian Baru, (Surabaya:Yakin, 1993) Hal. 147
[180]  France, Yesus sang radikal, Hal 50.

[181] Packer, Dunia Perjanjian, hal. 155
[182] H.D.M. Spence, Joseps S. Exell, The Pulpit Commentary Vol 16, Mark & Luke, (Michigan: Eerdmans,1980),page.  141.
[183]  Albert Barnes, Barnes’ Notes on the New testamen, (Michigan: Kregel Publication,1980) page 299
[184] Olla Tuluan, Pemakaian kasus-Kasus Yunani, dikutip dalam https://juanms49.wordpress.com/2013/11/03/pemakaian-kasus-kasus-yunani-pdt-ola-tulluan-phd-14/ diakses 18-04-19
[185] Wenhamm, Koine, hal 77
[186]  Bible works v 09
[187] bernard, J. H. A, Critical And Exegetical Commentary On The Gospel According To St. John. Paged Continuously. Ed. A. H. McNeile, (New York: C. Scribner' Sons, 1929). Page. 223
[188] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian baru 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1996) Hal. 264
[189] Stephen Tong, kebahagiaan Yudas, (Surabaya: Momentum,2013) Hal.15
[190] Beauford H. Bryant & Mark. S Krause The College Press NIV Commentary John, (Missouri: College Press Publishing Company,1998), No Page. Libronix
[191]  Calvins, calvin Comentary.
[192] D.A Carson, Doktrin Yang Sulit Mengenai Kasih Allah, (Surabaya: Momentum, 2007) hal.55      
[194] James M. Stalker, sengsara Tuhan Yesus, (Jakarta: YKBK,2008) hal 91
[195]  Thayer Lexicon, Bible wors V 09
[196]  Kamus 2.04, kamus elektronik
[197]  Merriam-Webster's collegiate dictionary, 10th ed. (U.S.A.: Merriam-Webster,1996). Libronix
[198]  Suitela Skripsi: paradoks Dalam Keselamatan sejarah, hal. 95
[199] Hollet & Macartney, 12 murid Tuhan, Hal. 109
[200] Ibid, hal.108
[201] JAMES R. EDWARDS, The Gospel according to MARK, (Leicester: Eerdmans; Apollos, 2002), Page 424
[202]  Kompatibilisme adalah pandangan bahwa kehendak bebas dan determinisme merupakan gagasan yang tidak bertentangan, dan meyakini keduanya pada waktu yang bersamaan bukan merupakan ketidakonsistanan logika,
[203] Carson. Doktrin Yang Sulit, hal. 55
[204] Calvin, commentaries vol. xvII, page 200
[205] Henry, Yohanes 12-21, Hal 1183
[206] Ridderbos, Injil Yohanes, Hal. 598

[207] Wenham, koine, Hal. 35
[208] Thayer,lexcikon, Bible works V.9
[209] Wenham, koine. Hal.9
[210] Joseph H. Thayer, Thayer’s Greek-English Lexicon of the New Testament, (USA: Hendrikson Publishers, 2012), Page 70.
[211] Henry, Yohanes 12-21, hal 1182
[212] Colin G. Kruse, Tyndale New Testament Commentaries Vol 4 John (USA: IVP Academic, 2008), Page 337-338
[213] Merril C. tenney, NIV Bible Commentary Vol.2 New testament, Editor Kenneth L. Barker & John R. Kohlenberger III (Michigan: Zondervan Publishing House, 2002) Page. 357
[214]Calvin, Calvin's Commentaries Vol. XVIII, Page 176
[215] Merrill C. Tenney, Loc. Cit. NIV Bible commentary Vol 2. Hal. 357
[216] Calvin, Loc. Cit. Calvin's Commentaries Vol. XVIII, Page 176

[217] Jika seandainya  motivasi Yudas adalah mendorong Yesus untuk memerdekakan Yahudi, maka penyesalannya didasari karena kesadarannya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi, dan jika didasari mau memperoleh sesuatu dari hal ini, maka ia menyadari perbuatannya mendatangkan kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan kecil yang ia peroleh: Leon Moris, Injil Matius, (Surabaya: Momentum,2016), Hal.708
[218] Newman, kamus Yunani, hal.106
[219] Thayer lexicon, Bible works 9
[220] BDAG lexicon, Bible works 9
[221] EDNT Dictionary, Bible works 9
[222] Gerhard Kittel, Gerhard Friedrich, Theological Dictionary of the New Testament Vol, (Michigian: Eerdmans Publishing Company, no Years), Page 626, libronix
[223] Morris, Matius, hal. 709
[224] James M. Stalker, sengsara Tuha Yesus, (Jakarta: YKBK,2008) hal. 93
[225] Dennis Gaertner, The College Pres NIV Commentary ACT, (Missiouri: Colege Press Publishing Company,1995), no page, Libronix
[226] C.K Barret, A Critical and Exegetical Commentary on the Acts of the Apostles, Vol I (Edinburgh: T&T Clark,2004) Page 104, libronix
[227] Palmer, Lima Pokok, Hal. 29
[228] James Oliver Buswell, A Systematic Theology Of The Cristian Religion (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1981),134, dikutip oleh Lotnatigor Sihombing, Buku Ajar Teologi Sistamtika, (Jakarta: STT Amanat Agung,2016), Hal.207
[229] J.L.Ch. Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2012), Hal. 71
[230] Stalker, sengsara Tuhan, hal. 90
[231] Newman dan Nilda, injil Yohanes , Hal.239
[232] Thayer,  Bible Works V.9
[233] Thayer,  BW 9
[234] Barcla M. Newman, Eugene A. Nilda, Pedoman Penafsiran Alkitab Injil Yohanes, (Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, LAI, 2014) Hal.561
[235] Calvin, Calvins Comentaries Page
[236] D. A, Carson, The Gospel according to John, (Leicester, England; Grand Rapids, Mich.: Inter-Varsity Press;  W.B. Eerdmans.1991) Page 523, Libronix
[237] R.C Sproul, Kaum Pilihan Allah, (Malang: SAAT, 1995) Hal.2
[238] Harun, iman Kristen, hal.297
[239] Tong, kebahagiaan Yudas, Hal.5-16
[240] Palmer, Calvinisme, Hal.29
[241] Calvin, Institutio, Hal.193