BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang masalah
Tuhan
Yesus yang mengetahui bahwa Yudas akan menjual-Nya, tetapi tetap memilihnya
menjadi seorang murid. Dan pengkhianatan yang dilakukan Yudas menggenapi apa
yang telah direncanakan Allah. Bukankah ini berarti Yudas memiliki jasa
terhadap keselamatan.[1]
Pemahaman Yudas memiliki jasa terhadap karya keselamatan yang dilakukan Kristus, tetapi ia juga mengalami
kebinasaan, dan alasan Yudas dipilih menjadi seorang murid sering kali muncul
dalam pemikiran orang percaya. Pemahaman ini sering kali menjadi suatu
pertanyaan dan pertentangan yang sering muncul dalam diri orang percaya.
Yudas
Iskariot adalah salah satu dari kedua belas murid yang dipilih langsung oleh
Kristus sebagai murid-Nya untuk mendampingi Kristus selama tiga tahun setengah.
Dia dipilih menjadi seorang murid dan dipercaya sebagai bendahara tetapi ia
juga ditetapkan untuk mengalami kebinasaan. Pemiilihan Yudas membuktikan bahwa,
Yesus sendiri mengajarkan pemilihan.[2]
Yudas Iskariot
merupakan anak dari simon iskariot, ia satu-satunya murid yang berasal dari Yudea, daerah pegunungan keras
di selatan Yerusalem.[3]
Ada dugaan bahwa Yudas Iskariot seorang zelot, kaum zelot pada umumnya seperti
Barabas kaum yang suka membuat kerusuhan.[4]
Menurut kamus Alkitab Easston oak kaum zeloth adalah:
sebuah sekte Yahudi yang berasal dari Yudas orang Gaulon
(Kisah Para Rasul 5:37). Mereka menolak untuk membayar upeti kepada orang-orang
Romawi, dengan alasan bahwa ini adalah pelanggaran terhadap prinsip bahwa Allah
adalah satu-satunya raja Israel. Mereka memberontak melawan orang-orang Romawi,
tetapi segera berserakan, dan menjadi sekelompok penjahat belaka. Mereka
kemudian disebut Sicarii, dari penggunaan sica mereka, yaitu belati Romawi.[5]
Pemilihan Yudas Iskariot sebagai salah
satu rasul atau murid yang diutus dilakukan oleh Yesus sendiri (Matius
10:1-15).[6] Yudas Iskariot merupakan salah satu murid
yang diberikan kuasa dan dipersiapkan oleh Yesus untuk diutus memberitakan
kerajaan surga. Lukas 6:12 mengatakan bahwa, Yesus berdoa semalaman sebelum
menunjuk kedua belas murid, hal ini menunjukan pemilihan kedua belas Murid yang
dilakukan Kritus merupakan suatu keputusan yang sangat penting. Yesus
mengetahui siapa yang dipilihnya sebagai murid, dan siapa yang akan
kengkhianati Dia (Yoh 13:18).
Yudas dipercaya sebagai bendahara yang
mengatur keluar-masuk keuangan Mereka.[7]
teks-teks dalam Injil menunjukan bahwa Yudas terlibat dalam pelayanan bersama
dengan Yesus dan selalu bersama-sama dengan Yesus. Yudas melihat bagaimana
Tuhan Yesus melakukan mujizat-mujizat selama bersama-sama dengan mereka, ia pun
menerima pengajaran langsung dari Yesus, bahkan Yudas sendiri diberikan Kuasa
untuk melakukan mujizat dan pengusiran roh jahat (Matius 10:1). Hal ini
menunjukan bahwa tidak ada perlakuan yang berbeda yang dilakukan Yesus terhadap
para murid.
Perihal
pemilihan Yudas sebagai murid tapi juga mengalami kebinasaan dapat terlihat
dalam teks-teks Injil Yohanes 6: 64,70,71; 13:18; 17:12, dalam teks ini dapat
terlihat secara eksplisit perihal Yudas iskariot murid yang dipilih oleh
Kristus dan ditetapkan untuk binasa. Kepastian akan nasib Yudas Iskariot pun
dapat terlihat dalam Injil lainnya seperti, dalam Matius 26:24; Markus 14:21;
Lukas 22:21-22, ketiga injil ini mengatakan “celakalah orang yang menyerahkan
anak Manusia lebih baik baginya tidak dilahirkan ke dalam dunia.” Teks-teks
paralel ini tidak secara langsung menyatakan bahwa Yudas akan ditetapkan
binasa, akan tetapi kata celakalah berasal dari kata οὐαὶ merupakan kata seru yang berarti kesedihan atau penolakan atau keadaan
yang sulit dan menakutkan yang akan menimpa.[8]
Kata ouai menunjukan keadaan yang
mengerikan yang akan menimpa seseorang yang akan menyerahkan Anak manusia.
Pengidentifikasian bahwa Yudaslah yang mengkhianati Yesus, dapat terlihat dalam
Matius 26:14-16, 47-49; Markus 14:10-11, 43-45; Lukas 22:3-5, 47-38. Ketiga
teks injil sinoptik dan injil Yohanes 13:21-30 ini menuliskan bahwa Yudaslah
yang telah mengkhianati dan menyerahkan anak manusia.
Bukti
bahwa Yudas mengalami kebinasaan selain dari perkataan Yesus dapat terlihat
dari cara kematian Yudas, dimana ia mati gantung diri Matius 27:5 dan Kisah
para rasul 1:18, mengatakan bahwa Yudas mati dengan perut terbelah. Kedua hal ini mungkin terjadi apabila tali
atau dahan pohon yang dipergunakan menggantung diri putus atau patah.[9]
Dalam Kisah para Rasul 1:25 dikatakan bahwa, Yudas telah jatuh ketempat wajar
baginya.
Penekanan
akan Yudas sebagai Murid yang dipilih oleh Kristus sendiri dan juga sebagai
murid yang ditetapkan untuk binasa dapat terlihat dalam Yohanes 6: 70-71 dan
Yohanes 17:12. Yoh 6:70-71 Jawab
Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang
dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis." Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot;
sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas
murid itu.[10]
(Yoh 17:12) “Selama Aku bersama
mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau
berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari
mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa,
supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.” Teks ini secara jelas menunjukan adanya salah
satu murid yang ditentukan mengalami kebinasaan.
Yohanes
6:70-71 mengatakan bahwa Kristus sendiri yang telah memilih murid dan salah
satunya adalah Iblis, dan ayat 71 mengidentifikasikan siapa yang dimaksudkan
iblis oleh Yesus, sedangkan Yohanes 17:12 Tuhan Yesus mengatakan bahwa salah
satu dari Muridnya ditetapkan untuk binasa. kecuali dia yang telah ditetapkan
untuk binasa dengan tujuan penggenapan dari kitab suci.[11]
Kata ditetapkan untuk binasa dalam bahasa Yunani
menggunakan kata ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, dalam bentuk genetif,
sehingga kata ini berarti bahwa Anak dari kebinasaan. kata ἀπωλείας, atau kebinasaan
memiliki pengertian seorang yang
ditetapkan Tuhan untuk kesengsaraan Abadi.[12]
Pemilihan Yudas
Iskariot sebagai murid dan mengalami kebinasaan menjadi suatu persoalan di dalam
Kekristenan. Murid yang dipilih oleh Yesus sendiri dengan mendoakan
keputusan-Nya untuk mengangkatnya menjadi Murid, selalu bersama dengan Kristus,
ikut serta dalam Pelayanan Yesus, dipercaya sebagai bendahara tetapi memiliki
akhir hidup yang tragis. Hal ini mejadi pertanyaan, benarkah
Yudas Iskariot memang ditetapkan untuk binasa, atau Yudas Iskriot adalah
orang yang pada dasarnya tidak percaya dan akhirnya mengkhianti Yesus,[13]
sehingga bertanggung jawab atas
kebinasaan yang menimpa dirinya.
Pemilihan Yudas
sebagai Murid dan dtetapkan binasa tidak bisa dilepaskan dari doktrin
Predestinasi. Suatu Doktrin yang sering kali dihindari oleh gereja-gereja
meskipun dalam Alkitab terdapat pengajaran doktrin ini. Banyak orang percaya
berpendapat, bahwa Doktrin Predestinasi lebih tepat dibahas dalam kelas-kelas
Theologi, tetapi tidak untuk mimbar gereja.[14]
Oleh karena itu seringkali dihindari dalam Khotbah-Khotbah dalam gereja. Predestinasi secara singkat dapat dijelaskan
ialah, Allah memilih orang untuk diselamatkan di dalam Kristus sebelum dunia
diciptakan, dan membiarkan sebagian orang dalam kebinasaan.[15]
Ini menunjukan ada manusia yang dipilih oleh Tuhan akan tetapi ada juga yang
ditolak-Nya. Akan tetapi apakah Allah berkenan untuk menolak sebagian manusia
dan menerima sebagian manusia, sehingga ada ketetapan untuk membinasakan
sebagian manusia. Harun hadiwijono mengatakan bahwa pemilihan kekal adalah
kasih karunia Allah tetapi penolakkan merupakan
reaksi dari Allah terhadap manusia
yang menolak ketetapan Allah, dapat dikatakan bahwa kebinasaan merupakan
kesalahan manusia itu sendiri.[16].
akan tetapi manusia dengan kehendak bebasnya tidak mungkin dapat menyerahkan
diri kepada Allah, sebab orang berdosa tidak lagi dilahirkan dengan kehendak
netral melainkan memiliki kecenderungan ke arah kejahatan[17]. jika pemahaman bahwa penolakan terhadap
manusia tergantung dari manusia itu sendiri, maka dapat dikatakan kehidupan
kekal pun bukanlah suatu hal yang ditetapkan. Akan tetapi penolakan atau
ditetapkan untuk binasa bukan persoalan takdir tetapi hal perkenanan Allah, hal
yang lebih disukai dan tidak disukai Allah[18].
Dengan adanya
pemisahan dan adanya ketetapan antara orang yang akan dibinasakan dan yang akan
diselamatkan, bukan saja Allah terlihat sebagai suatu pribadi yang pilih kasih,
karena Allah memilih sebagian orang untuk diselamatan. Tetapi hal ini pun akan
menghilangkan pengekangan terbaik untuk mengekangnya kedagingan dari manusia
yaitu hukuman kekal.[19]
Pemahaman tentang
doktrin ditetapkan untuk binasa sendiri masih menjadi perdebatan-perdebatan
bagi para teolog. John Calvin mengatakan bahwa:
Tidaklah mungkin ada pemilihan jika tidak
ada penolakan; alasan dari penolakan Allah hanyalah karena ia tidak mau memberi
mereka bagian dalam warisan yang melalui Predestinasi Dia peruntuknan bagi
anak-anak-Nya. Calvin mengatakan bahwa ditetapkannya sebagian orang untuk
binasa merupakan bagian dari kedaulatan Allah, dalam Amsal 16:4 orang fasik
diciptakan untuk hari malapetaka. Allah dengan jelas menyatakan bahwa ada benda-benda kemurkaan yang disiapkan
untuk kebinasaan, dan Ia menyatakan kekayaan dan kemuliaan-Nya atas benda
–benda belas kasihan yang disiapkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya (Rm.9:22)[20].
Akan
tetapi Armenianisme tidak sepaham dengan Calvin, mereka berpandangan:
Arianisme percaya bahwa Allah tidak menghendaki
satu orang pun untuk binasa. Dalam Perjanjian lama Allah dengan jelas
menyatakan hal ini dalam Yeh 33:11 menyatakan bahwa Allah tidak berkenan pada
kematian orang fasik, melainkan berkenan pada pertobatan orang fasik, dan hal
ini diperkuat dalam perjanjian baru, rasul Petrus dalam suratnya II Pet 3:9,
menyatakan bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan berbalik
da bertobat, hal senada dikatakan oleh Paulus dalam I Tim 2:3-4, bahwa Allah
mengkhendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan
kebenaran. Secara garis besar kaum Arianisme memahami bahwa manusia mampu untuk
percaya, dan memenuhi syarat-syarat untuk keselamatan. Kaum ini mengakui bahwa
keselamatan adalah anugerah tetapi manusia berhak menolak atau menerimanya.[21]
Menurut
Armenianisme keselamatan ataupun kebinasaan manusia tergantung dari respon
manusia terhadap tawaran keselamatan yang dberikan Allah kepada setiap manusia.
Penulis lebih setuju dengan apa yang diajarkan oleh Calvin, sebab pemilihan
merupakan kedaulatan dari Allah, dan Allah telah mengetahui siapa saja
orang-orang yang memang pada akhirnya menolak Kristus dan yang akan menerima
Kristus. Jika beranggapan seperti kaum Armenian bahwa manusia dengan kehendak
bebasnya dapat menolak akan keselamatan yang ditawarkan, maka hal ini sama saja
menghilangkan kedaulatan Allah. dan jika hal ini dianggap bahwa Allah tidak
menghargai kehendak bebas dari manusia, yang Allah berikan. Perlu disadari
Kedaulatan Allah atas segala sesuatu menandakan bahwa kebebasan manusia ada di
bawah kedaulatan Allah.[22]
Ajaran ditetapkan
untuk binasa atau reprobation yang
merupakan bagian dari doktrin Predestinasi, telah menjadi suatu perdebatan
dalam gereja-gereja sampai saat ini dibandingkan dengan doktrin ditetapkan
selamat atau election. Terkhususnya berkaitan dengan kedaulatan Allah
dan tanggung jawab Manusia yang dirangkaikan dengan kebenaran dan kekudusan Allah serta keadaan manusia yang penuh dosa.[23]
Sebab itu sangat penting untuk memahami ajaran ditetapkan binasa dan pemilihan
yang Allah lakukan dengan benar. Pemilihan Yudas iskariot sebagai murid yang yang
ditetapkan untuk binasa, menggambarkan pentingnya untuk memahami doktrin pemilihan
dan predestinasi dengan tepat.
Berdasarkan dari permasalahan tentang dipilihnya Yudas Iskariot sebagai
murid yang ditetapkan binasa dan berbagai pandangan tentang doktrin
Predestinasi terkhususnya ajaran ditetapkan binasa yang beragam, penulis
mempertanyakan pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid, peranan dan tanggung
jawab Yudas dalam keselamatannya, dan bagaimana hubungannya dengan doktrin
keselamatan.
Melalui pembahasan di atas, maka
penulis merasa perlu membahas “makna pemilihan Yudas Iskariot murid yang
ditetapkan binasa dan kaitannya dengan predestinasi”, dengan tujujuan
untuk memenuhi sebagian dari persyaratan akademis guna memperoleh gelar sarjana
Teologi (S.Th) di sekolah Tinggi Providensia Adonay dan dapat memberikan pemakahaman yang benar kepada
orang percaya tentang pemilihan Yudas dan Predestinasi.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
permasalahan yang akan dibahas berkaitan dengan pemilihan Yudas yang ditetapkan
binasa. permasalahan ini secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Apakah Tujuan
pemilihan Yudas Iskariot sebagai Murid
2.
Bagaimana Peranan dan
tanggung jawab Yudas Iskariot dalam keselamatannya
3.
Apakah kaitan
pemilihan Yudas dengan doktrin Predestinasi
C.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah maka yang menjadi tujuan dari penulisan
skiripsi ini adalah:
1. Penulis memahami dengan benar tujuan pemilihan Yudas
Iskariot
2. Penulis memahami peranan dan tanggun jawab Yudas Iskriot
bagi keselamatannya. Apkah ia memang ditetapkan untuk binasa atau apakah
kebinasaannya merupakan dampak dari perbuatannya sendiri.
3. Memahami dengan benar doktrin Presdestinasi berdasarkan
tokoh Yudas Iskariot
D.
Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan menggunakan
metode penulisan deskripsi dengan kajian kepustakaan murni. Yaitu penulis
memaparkan latar belakang Yudas Iskriot serta pelayanannya dan menjelaskan
penolakan terhadap Yudas, penulis akan menjelaskan alasan Yudas dipilih menjadi
murid. Serta memperbandingkan doktrin yang diakui.
E.
Kegunaan Penulisan
1.
Bagi penulis: Dapat menambah
wawasan yang benar tentang pemilihan Yudas Iskariot murid yang ditetapkan
binasa dan kaitannya dengan doktrin Predestinasi terkhususnya doktrin ditetapkan
untuk binasa.
2.
Bagi pembaca: Dapat
memperoleh pemahaman yang benar tentang pemilihan Yudas sebagai Murid yang
ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin predestinasi sehingga tidak
memiliki konsep yang keliru terhadap pemilihan Yudas dan doktrin Predestinasi
yang berkaitan dengan kebinasaan.
- RUANG LINGKUP PENULISAN
Penulisan skripsi ini berkaitan dengan pemilihan Yudas Iskriot serta alasan
pemilihan Yesus terhadap Yudas menjadi seorang murid tetapi memiliki nasib
akhir yang mengerikan
G.
Sistematika Penulisan
BAB I: Merupakan pendahuluan, Sub pokok bahasannya
meliputi,
A. Latar Belakang Masalah,
B. Rumusan Masalah,
C. Tujuan penulisan,
D. Metode Penulisan
E. Kegunaan Penulisan
F. Sistematika Penulisan
BAB II: Penulis akan membahas tentang Yudas Iskariot dan
pandangan-pandangan ditetapkan binasa, meliputi
A. Latar belakang Yudas Iskariot
B. Berbagai Pandangan Tentang Yudas Iskariot
BAB III: Penulis akan makna membahas
pemilihan Yudas iskariot sebagai murid yang
ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin predestinasi. Hal
tersebut meliputi;
A. Pandangan Para tokoh Tentang Predestinasi berkaitan
dengan doktrin ditetapkan binasa
B. Peranan dan tanggung jawab Yudas Sebagai Murid
C. Peranan Yesus sebagai Guru dari Yudas
D. Kaitan ketetapan Yudas untuk dibinasakan dengan Doktrin
Predestinasi
BAB IV: Penulis akan membahas tentang implikasi dari
hasil kajian pustaka dari Bab III, kepada orang percaya sehingga dapat memiliki
konsep yang benar tentang pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid yang
ditetapkan binasa dan kaitannya dengan doktrin Predestinasi
BAB V: Merupakan bagian penutup yang
meliputi,
kesimpulan dan saran
BAB
II
PANDANGAN-PANDANGAN
TERHADAP YUDAS ISKARIOT
A.
LATAR BELAKANG
YUDAS ISKARIOT
Dalam
Alkitab terdapat sedikit informasi tentang latar belakang dari Yudas Iskariot.
Yudas Iskariot dalam kitab Injil biasanya dituliskan pada urutan terakhir dalam
daftar murid-murid Yesus dan disertai kesan Buruk. Menurut Yoh 6:71; 13:2,26,
diketahui ayahnya bernama Simon. Kata
Yudas merupakan ejaan dari bahasa Yunani untuk nama ibrani Yehuda yang berarti
“terpuji”[24].
The American heritage dictionary memberikan pengertian kata judas yaitu, orang
yang mengkhianati orang lain dengan kedok persahabatan.[25] Kata Iskariot berasal
dari bahasa ibrani ish qeriyot artinya orang kerioth.[26] Iskariot menunjukan bahwa
ia berasal dari daerah Iskariot-herizon di Yudea, hal ini menunjukan bahwa
Yudas satu-satunya murid yang berasal dari luar Galilea.[27]
Terdapat juga pendapat yang menyatakan
nama Iskariot menerangkan bahwa Yudas bagian dari kelompok sicarii, yaitu kelompok politik radikal.[28] Nama iskariot merujuk
pada kata yunani σικάριοι yang berarti pembunuh terlatih yang menggunakan
pisau kecil[29]. Akan tetapi pandangan Yudas Iskariot
merupakan bagian dari kelompok sicarii tidak dapat dipertahankan sebab, seorang
ahli Alkitab Reymond a Brown yang
melakukan penelitan sejarah menyatakan bahwa kelompok Sicarii muncul antara
tahun 40 sampai tahun 50 setelah kematian Yesus.[30]
Nama Iskariot dapat
dipastikan merupakan nama tambahan yang diberikan kepada Yudas untuk menyatakan
kota dari mana Yudas berasal dan juga bertujuan untuk membedakan nama Yudas
Yang mengkhianati dengan nama Yudas yang terdapat dalam Alkitab, sebab nama
Yudas merupakan nama yang cukup populer dalam yudaism, seperti Yudas anak
Yakobus (Lukas 6:16), Yudas saudara Yesus (Matius 13:55). Yudas yang disebut Barabas
seorang Kristen termuka di Yerusalem dan seorang rekan Paulus (KPR15: 22),
Yudas pemimpin revolusi (KPR 5:37).[31] Yudas yang disebut juga Tadeus
yang berarti “sipemberani”.[32] Membahas latar belakang kehidupan Yudas
iskarioth tidak bisa dilepaskan dari pelayanan Yudas iskarioth bersama kedua belas
Murid.[33]
Setiap
manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter adalah ciri atau tanda
khusus yang menunjukan adanya suatu
“kekuatan” atau “kelemahan” dalam diri
seseorang.[34] Kedua belas Murid Yesus memiliki
latar belakang yang berbeda-beda seperti
nelayan, pemungut pajak, aktivis politik dan berbagai latar belakang lainnya.[35] Karena itu para murid Kristus
memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain, Yudas Iskariot pun memiliki
karakter yang berbeda dengan murid yang
lain. Jabatannya sebagai bendahara
menunjukan bahwa Yudas bukanlah orang yang bodoh.[36] Berdasarkan Injil Yohanes
12:2-6, maka dapat disimpulkan bahwa Yudas memiliki karakter yang kurang baik.
Yudas memiliki karakter,
Dia tidak peduli dengan orang miskin. Dia adalah seorang
pria yang keras hati, terlalu dengan dirinya sendiri
sementara orang
lain yang kurang beruntung di sekitarnya tidak diperhatikannya, Dia adalah seorang
pencuri, mencuri
uang dari uang kas yang dipegangnya.[37]
Sajian
Yohanes ini menelanjangi ketamakan Yudas, Yudas hanya melihat segala sesuatu
yang dapat menambah uang kas dengan
demikikan ia dapat menambah isi kantongnya.[38] Melalui penelitian dari keempat Injil dapat
ditemukan karakter-karakter dari
Yudas Iskariot[39] yang dituliskan oleh para
penulis.
Matius 27:1-5
merupakan satu-satunya dalam kitab Injil yang menuliskan akan penyesalan Yudas
setelah ia mendengar hukuman yang diterima Yesus, dan cara kematian Yudas Iskariot.
Melalui teks ini dapat terlihat karakter Yudas yang lain dan terjadinya
perubahan yang terjadi pada diri Yudas. Perubahan karater Yudas yang sebelumnya
mencintai uang kini tidak lagi mencintai uang. Kata “mengembalikan” menggunakan
kata ἀπέστρεψεν dalam bentuk aorist aktif[40]. Bentuk aorist menyatakan
sesuatu yang pernah dilakukan atau pernah terjadi, bukan dilakukan untuk
seterusnya.[41] Kata ἀπέστρεψεν memiliki pengertian perubahan keyakinan atau perilaku yang disebabkan oleh
suatu hal.[42]
Perubahan karakter Yudas terjadi oleh karena penyesalan yang mendalam akibat
dari penghukuman yang ditimpakan kepada Yesus Kristus. Ini menunjukan adanya
perubahan dalam menyikapi harta, yang tadinya dianggap penting sekarang tidak
lagi.[43] Pengembalian uang tiga puluh
keping perak merupakan usaha terakhir Yudas untuk menebus kesalahannya dengan
berusaha membebaskan Yesus dari para Imam dan ahli Taurat. Akan tetapi usaha
yang dilakukanya sia-sia. Setelah usaha yang dilakukan sia-sia Injil matius
mencatat Yudas lalu pergi dan melakukan bunuh diri dengan menggantung dirinya.
Yudas iskariot adalah murid yang
menyerahkan Yesus kepada pihak berwenang dengan tiga puluh keping perak,
setelah mengetahui hukuman mati yang menimpa Yesus, ia pun menyesali
perbuatannya, dan mengembalikan uang yang ia terima namun ditolak oleh pihak
berwenang, Yudas menanggapi penyesalannya dengan gantung diri.[44]
Kitab-kitab Injil sepakat Yudas Iskariot mengkhianati Yesus dengan
menyerahkanya kepada para imam dan ahli Taurat yang membeli Yesus dengan tiga
puluh keping perak, akan tetapi tidak satupun dari kitab Injil yang mengatkan
mengapa Yudas mengkhianati Yesus.[45]
Banyak pendapat yang mengemukakan motivasi Yudas Iskariot dalam mengkhianati
Yesus Kristus dan teman sejawatnya, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa
motivasi Yudas mengkhianati Yesus adalah cinta Uang, Terdapat juga pendapat
yang mengatakan bahwa pengkhianatan yang Yudas lakukan bertujuan menciptakan
suatu keadaan Krisis terhadap Kristus dengan menghadapkan Kristus pada
musuh-musuh-Nya sehingga Yesus menyatakan Kemesiasan-Nya pada orang banyak.[46] Teori ini diperkuat dengan sikap
dari Yudas yang menyesal ketika apa yang direncanakannya tidak berhasil, sebab dia berpikir Mesias
tidak mungkin mati akan tetapi pemikirannya salah, Yesus di hukum mati hal
inilah yang membuatnya menyesali pengkhianatan yang dilakukannya.[47]
Alasan yang mendasari pengkhianatan Yudas terhadap Yesus Kristus menurut
Robert W Lyon dalam Enclopedia of the bible terdapat enam alasan yang mendasari
Yudas yaitu,
1.
Yudas
merupakan seorang yang patriotic. Yudas menyerahkan Yesus kepada para Imam dan
ahli taurat, oleh karena ia telah menyadari bahwa Yesus tidak berniat
mengulingkan kekaisaran Romawi dan mendirikan kerajaan Yehuda.
2.
Yudas percaya
bahwa Yesus adalah mesias, ia merencanakan penangkapan Yesus dengan harapan
untuk mendesak agar Yesus menyatakan kerajaannya.
3.
Yudas memang
orang fasik yang merencanakan pengkhiantan sejak awal ia bergabung dalam
kelompok dua belas murid.
4.
Yudas
mengkhianati Yesus oleh karena ia ditipu oleh Iblis, dan setelah menyadari hal
tersebut ia bunuh diri.
5.
Perasaan
kecewa dan dipermalukan secara keras oleh Yesus, Yudas yang awalnya murid setia
kini menjadi penentang Yesus.
6.
Tergerak oleh
keserakahannya sendiri, dan menyerah pada naluir keegoisannya ia menyerahkan
Yesus tanpa mengetahui hasol dari pengkhianatnya.[48]
Selain berbagai pandangan yang menyatakan alasan Yudas mengkhianati Yesus
yang berasal dari Injil, terdapat juga pandangan lain yang menyatakan alasan
Yudas mengkhianati Yesus yaitu seperti, sekte Kainte dan pandangan dari Injil
Yudas. Pandangan Yudas sebagai pahlawan, bukan sebagai pengkhianat dianut oleh
sekte Kainite, sebab sekte ini menganggap pengkhianatan terhadap Yesus Kristus
merupakan misi Ilahi bagi Yudas Iskariot.[49] Keberadaan sekte kainite dapat
dikendalikan setelah cardinal Irenaeus mengumukan secara resmi bahwa aliran
gnosistisme sebagai bidat.[50] Pandangan sekte kainite serupa
dengan pandangan Injil Yudas, yaitu motivasi dari Yudas menjual Yesus bukanlah
pengkhianatan tetapi membantu Yesus untuk lepas dari ragawi-Nya yang mengekang
roh-Nya.
Motivasi Yudas dalam mengkhianati Yesus merupakan suatu misteri yang masih
diperdebatkan. Pandangan Irenaeus yang dikutip oleh N.T wright dalam bukunya
judas and the gospel of jesus mengatakan. “Orang-orang lain menyatakan bahwa
Yudas sipengkhianat itu benar-benar memahami hal-hal ini , dan Yudas sendiri
yang mengetahui kebenaran itu sementara orang lain tidak.”[51] Dengan berbagai pandangan dan teori tentang
motivasi Yudas mengkhianati Yesus, maka benar yang dikatakan Irenaeus yang mengatakan bahwa, Yudas Iskariot, merupakan
orang yang mengetahui dengan pasti apa motivasi dia dalam mengkhianati Yesus,
karena itulah motivasinya menjadi suatu misteri yang masih ada sampai saat ini
B.
PANDANGAN- PANDANGAN TENTANG YUDAS ISKARIOT
1.
Yudas Iskatiot Menurut Injil Yudas
Dalam
Injil Yudas, pengkhianatan yang dilakukan Yudas dilakukan dengan penuh
kesadaran, dia melakukannnyan oleh karena Yesus yang memintanya.[52] Injil Yudas mengatakan Yesus bersabda kepada Yudas: “Engkau akan lebih besar daripada semua,
karena engkau mengorbankan wujud Manusia yang meragaiku”[53] dalam
Injil Yudas di katakan “Tandukmu telalh ditinggikan, murka telah
disulut bintang mu Nampak begitu
cemerlang dan hati mu telah […]”[54]
Injil Yudas memandang Yudas Iskariot berbeda dengan Injil-Injil
Kanonik, memandang Yudas Iskariot sebagai Murid yang dikasihi Kristus, murid
yang membebaskan Yesus dari raga jasmani yang mengekang Roh-Nya. Yudas dalam Injil Yudas dianggap sebagai
pahlawan bukan sebagai pengkhianat, Yudas bersedia menjadi pengkhiantat untuk
menyerahkan Yesus kepada para musuh Yesus, oleh karena Janji kemuliaan yang
akan diterimanya.
2.
Pandangan agama Islam tentang Yudas Iskariot
Perbedaan
Pandangan tentang Yudas Iskariot terdapat juga dalam agama islam. Dalam agama Islam
Yudas dikatakan bukan hanya dikatakan sebagai Pengkhianat tetapi sebagai murid
yang rela berkorban untuk Isa atau Yesus. Dikisahkan bahwa Yudas adalah seorang
murid yang bersedia diserupakan dengan Isa al masih. Konteks tafsiran Ibnu
katsir sebelum Isa ditangkap untuk disalibkan terjadi pada malam hari, sebelum
disalibkan Isa berkata:
“Siapakah di antara kalian yang mau diserupakan
seperti diriku? Kelak dia akan menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang pemuda yang rela
berperan sebagai Nabi Isa. Tetapi Nabi Isa memandang pemuda itu masih terlalu
hijau untuk melakukannya. Maka ia mengulangi permintaannya sebanyak dua kali
atau tiga kali. Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tiada seorang
pun yang berani maju kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa berkata, “Kalau
memang demikian, jadilah kamu seperti diriku.” Maka Allah menjadikannya mirip
seperti Nabi Isa a.s. hingga seakan-akan dia memang Nabi Isa sendiri.[55]
Tafsiran teks Ibnu katsir memang tidak menyebutkan
siapa nama murid yang diserupakan dengan isa, tetapi dalam tafsiran kementerian agama RI untuk
surat Annisa 157 mengatakan orang yang disalibkan bukan Isa tetapi salah satu
dari muridnya yaitu Yudas Iskariot.[56]
Dalam agama Islam pun terjadi perdebatan tentang Yudas
Iskariot, jika Tafsiran Ibnu katsir dan kementerian Agama memandang Yudas
sebagai pahlawan, berbeda halnya dengan tafsir Al-misbah berkaitan dengan surah
Annisa 157. teks surah Annisa 157 “berkata:
“mereka tidak membunuhnya tidak pula menyalibnya,
tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Dan sesugguhnya
orang-orang berselisih paham tentang isa, benar-benar dalam keraguan.
Orang yang diserupakan seperti Isa adalah
Yudas yang masuk dengan kasar ke kamar tempat di mana Yesus diangkat ke surga,
maka saat itu Yudas diserupakan dengan Isa/Yesus.[57]
Dan orang-orang yang berselisih paham tentang identitas yang disalibkan adalah
kaum Nasrani dan Kaum Yahudi.
Pengangkatan Isa
tidak diketahui oleh para muridnya, sebab dilakukan pada saat semuanya
tertidur. Penyerupaan Yudas pun tidak diketahui dirinya dan para murid yang
lain, hal ini jelas dikatakan tafsir Al
Misbah, setelah Yudas diserupakan ia membangunkan murid yang lain untuk
menanyakan keberadaan gurunya, tetapi mereka menjawab bahwa Yudaslah guru itu.[58]
Orang-orang yang berselisih paham yang
dimaksudkan disini adalah, orang Yahudi yang menduga telah membunuhnya dan
kalangan nasrani yang percaya akan hal itu.[59]
Berdasarkan hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa,
terdapat pertentangan di dalam agama Islam sendiri perihal Yudas Iskariot. Akan
tetapi terdapat satu kesimpulan yang sama yaitu, bahwa Isa tidaklah mati
disalib, Isa diangkat sebelum penangkapan terjadi, dan identitas orang yang
diserupakan ialah Yudas Iskariot salah satu dari dua belas murid Isa.
3.
Pandangan Injil Barnabas terhadap Yudas.
Injil barnabas yang ditemukan di Turki diperkirakan
berusia seribu lima ratus tahun dan berbahasa Aramic. Injil ini pertama kali
dipublikasikan tahun 2012, akan tetapi telah tersimpan di museum ankara selama
dua belas tahun.[60]
Injil Barnabas memandang Yudas Iskariot hampir sama seperti Agama Islam
memandang Yudas Iskariot yaitu Yudas diserupakan dengan Yesus dan dia yang
disalibkan. Pengkisahan tentang Yudas Iskariot dalam Injil barnabas terjadi
dalam pasal 214-217, yang berisikan:
Yudas mengetahui tempat di mana Yesus dengan murid-murid, pergi kepada imam
besar, dan berkata: "Jika Anda akan memberikan apa yang dijanjikan, malam
ini akan saya berikan ke dalam tangan Yesus yang kamu cari, karena dia
sendirian dengan sebelas sahabat. " Imam besar: "Berapa banyak yang
kamu cari?" Yudas berkata, "Tiga puluh keping emas."(214)
“Ketika
para prajurit bersama dengan Yudas mendekati tempat di mana Yesus berada, Yesus
mendengar langkah kaki orang banyak. Dalam ketakutan, Yesus masuk ke sebuah
rumah. Saat itu, kesebelas murid-murid sedang tidur. Allah, yang telah melihat
kesesakan hamba-Nya, menyuruh Gabriel, Michael, Rafael dan Uriel—para
pelayan-Nya untuk mengangkat Yesus dari dunia ini. Para malaikat kudus datang
dan mengangkat Yesus melalui sebuah jendela ke arah Selatan. Mereka membawa
Yesus dan menempatkan-Nya pada surga tingkat ketiga bersama dengan kumpulan
para malaikat Allah” (215)
“Dengan tergesa-gesa Yudas masuk ke
ruangan [tempat Yesus bersembunyi sebelumnya dan] tempat Yesus diangkat oleh
para malaikat. Saat itu, murid-murid masih tertidur. Dengan perbuatan ajaib
Allah, gaya bicara dan wajah Yudas berubah menjadi seperti Yesus. Kemudian, ia
membangunkan kami dan bertanya dimanakah Guru berada. Tetapi kami menjadi
terheran-heran dan menjawab, ‘Tuhan, bukankah Anda Tuan [dan Guru] kami? Apakah
Tuan tidak mengenal kami?’
Dan
ia, sambil tersenyum, berkata, ‘Kalian bodoh, apakah kalian tidak mengenali
saya? Saya adalah Yudas Iskariot!’ Ketika ia berbicara demikian, masuklah para
prajurit dan menangkap Yudas, sebab ia begitu mirip dengan Yesus dalam segala
hal. (216)
“Para
prajurit menangkap Yudas dan mengikatnya sambil mengolok-olokinya. Sebab dengan
jujur ia membantah bahwa dirinya adalah Yesus. Yudas menjawab: ‘Aku sudah
memberitahukan kalian bahwa aku adalah Yudas Iskariot, yang telah berjanji
untuk menyerahkan kepada tanganmu Yesus orang Nazaret; dan kalian, aku tidak
tahu apa yang telah terjadi pada diri kalian sehingga kalian tetap saja bersikeras
menganggapku Yesus.’ Lalu imam besar menjawabnya: ‘Oh si penggoda yang jahat,
engkau telah mendustai seluruh Israel, bermula dari Galilea bahkan sampai ke
sini, di Yerusalem, dengan pengajaranmu dan mujizat-mujizat palsu. Apakah
sekarang engkau berusaha untuk lari dari hukuman yang setimpal dengan cara
berpura-pura menjadi gila?’ Kemudian mereka membawanya kepada seorang wali
negri. Wali negeri itu bertanya kepada Yudas: ‘Bukankah engkau tahu bahwa aku
bukanlah orang Yahudi? Tetapi para imam besar dan tua-tua kaummu telah
menyerahkan engkau ke dalam tanganku. Katakanlah yang benar kepadaku agar aku
dapat berbuat yang baik kepadamu. Sebab aku mempunyai kuasa untuk membebaskanmu
dan untuk menjatuhkan hukuman mati padamu.’ Yudas menjawab: ‘Tuan, percayalah
kepadaku, jika tuan menjatuhkan hukuman mati padaku, maka tuan telah berbuat
kesalahan besar. Sebab tuan membunuh orang yang tidak bersalah, karena aku
adalah Yudas Iskariot, bukan Yesus—si penyihir yang telah mengubah diriku
secara fisik.
Ketika
mendengar hal ini, wali negri itu terkejut sehingga ia berusaha untuk
membebaskan Yudas. Lalu wali negri keluar berkata: ‘Setidaknya, orang ini tidak
layak untuk dijatuhi hukuman mati, melainkan perlu dikasihani.’ sungguh ia
telah kehilangan akal sehatnya, dan seorang yang gila tidak layak untuk
dijatuhi hukuman mati.’
Akhirnya
para imam besar dan tua-tua Yahudi, bersama dengan para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi berteriak dengan nyaring: ‘Ia adalah Yesus orang Nazaret,
sebab kami mengenalinya. Jika ia bukanlah seorang jahat, maka kami tidak akan
menyerahkannya ke dalam tanganmu. Ia sama sekali tidak gila, melainkan jahat.
Dengan cara inilah ia berusaha untuk melarikan diri dari tangan kami. Akan
lebih berbahaya lagi jika ia sampai lepas dari hukuman ini.’
Lalu
mereka membawanya ke bukit Kalvari, tempat mereka menggantung para orang jahat,
dan disanalah mereka menyalibkan dia dengan telanjang untuk mempermalukannya.
Yudas tidak dapat melakukan apa-apa selain berseru dengan suara nyaring:
‘Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku? Sedangkan orang jahat itu [Yesus]
telah melarikan diri dan aku harus mati secara tidak adil?’ (217)[61]
Berdasarkan isi dari Injil barnabas[62]
pasal 214 sampai 217 penulis mengambil kesimpulan bahwa Injil Barnabas
memandang Yudas sebagai seorang pengkhianat yang menyerahkan Yesus kepada para
musuhNya. Namun oleh karena kuasa Tuhan rencananya gagal, justru dia sendiri
yang ditangkap dan disalibkan, karena Allah telah menyerupakan dia dengan
Yesus. Injil Barnabas menolak Kristus mati di salibkan. Kristus tidaklah mati,
tetapi dia diangkat sebelum dia ditangkap. Pemahaman Injil Barnabas sama
seperti salah satu pemahaman agama Islam tentang Yesus dan Yudas.
4.
Pandangan Injil Kanonik Terhadap Yudas Iskariot
Kitab-kitab Injil dituliskan oleh penulis berbeda dan
tujuan penulisan yang berbeda-beda tetapi, kitab Injil berfungsi sebagai biografi
Yesus.[63]
Injil-Injil kanonik secara pasti mengidentifikasikan Yudas sebagai pengkhianat
yang menyerahkan Yesus kepada musuh-musuh-Nya. Dalam Injil kanonik pun terdapat
berbagai macam pandangan terhadap Yudas Iskraiot namun tidak bertentangan
melainkan saling melengkapi.
a.
Yudas Iskarioth Menurut Injil Matius
Injil Matius
memberikan citra Yang lebih buruk kepada Yudas, sebab dialah yang meminta upah
kepada imam.[64]
Matius 26:15-16 Ia berkata” apa yang
hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepadamu?” Mereka
membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk
menyerahkan Yesus. Injil Matius
ingin menunjukan alasan Yudas
mengkhianati Yesus.[65]
Pengidentifikasian Yudas sebagai Pengkhianat terjadi pada saat perjamuan
malam dalam Matius 26:20-25 ketika Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari
murid akan menyerahkan Yesus. Injil Matius mencatat setiap murid menyebut Yesus
sebagai Tuhan (22), akan tetapi berbeda dengan Yudas, ia menyebut Yesus sebagai
rabi (25). Dalam ayat 25 secara jelas dikatakan bahwa Yudaslah yang akan
menyerahkannya.
Injil Matius adalah satu-satunya Injil yang menunjukkan penyesalan dari Yudas
yang telah menyerahkan Yesus dan menuliskan bagaimana kematian Yudas Yaitu
dengan gantung diri (Matius 27:1-10). Dalam teks ini dijelaskan bagaimana
pengakuan penyesalan Yudas yang telah menjual orang yang tidak berdosa setelah
ia mengetahui penghukuman yang akan diterima Yesus (ayat 3), kata menyesalahlah
ia (μεταμεληθεὶς) bukanlah istilah perjanjian baru yang biasa dipakai
untuk pertobatan yang mengarah pada keselamatan.[66] μεταμεληθεὶς mempunyai kata dasar metamelomai kata ini menunjukan adanya perubahan emosional yang
mengarah pada penyesalan tetapi tidak pada perobatan.[67] Pengakuan Yudas “aku telah berdosa” ἥμαρτον ( ayat 4) dalam
bentuk Aorist aktif dari kata dasar amartano.[68]
Yudas mulai menyadari akan betapa jahat
perbuatannya.[69]
Bentuk penyesalan Yudas diaplikasikan dengan usahanya untuk membatalkan hukuman
yang telah dijatuhkan kepada Yesus dengan mengakui kesalahannya di depan para
imam yang menghukum Kristus dengan mengembalikan tiga puluh keping perak kepada
para imam, akan tetapi para imam menolak, karena itu Yudas melempar uang
tersebut kedalam bait suci dan pergi
gantung diri (ayat 5). Keputusannya untuk mengembalikan tiga puluh keping perak
merupakan suatu bukti bahwa Yudas Iskariot menyesali perbuatannya tetapi tidak
sampai pada keputusan untuk bertobat.
b.
Yudas Menurut Injil
Markus
Permulaan Injil Markus telah disebutkan terjadinya pertentangan antara
Yesus dengan para imam, ahli Taurat, dan ahli-ahli Taurat (Markus 2). Pertentangan
ini memicu orang-orang Farisi untuk bersekongkol dengan orang-orang Herodian[70]
untuk membunuh Yesus. Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya
sebanyak tiga kali tentang kematian-Nya bahwa Anak manusia akan diserahkan dan
akan dibunuh dan akan bangkit pada hari ketiga (Markus 8:31; Mrk 9:31; dan Mrk
10:33-34). Dalam Mrk 8:31 Yesus
mengajarkan bahwa Anak manusia Harus (Dei) banyak menanggung pendertiaan. Kata harus menyiratkan jauh sebelumnya Tuhan
Allah sudah menetapkan hal ini bagi Anak manusia yang diutus-Nya itu.[71]
Kata dei menunjuk pada sesuatu yang
mutlak perlu dalam keseluruhan misi- Nya.[72]
Dalam Markus 9:31 dan 10:33, “Anak manusia akan diserahkan” (παραδοθήσεται), kata ini menunjukan tindakan pengkhianatan atau
menyerahkan seseorang kepada musuhnya.[73]
Dalam pemberitahuan-Nya yang ketiga (Mrk 10:32), menegaskan bahwa apa yang
pernah dberitahukan oleh-Nya akan benar-benar terjadi, waktunya sudah tiba.[74]
Ketiga pemberitahuan ini dimaksudkan untuk merubah pola pikir para murid
tentang konsep Mesias secara politik yang akan memulihkan kerajaan Israel, (Bdk
KPR 1:6) dan juga untuk mempersiapkan para murid agar siap mental.
Melalui ketiga pemberitahuan ini para murid jelas mengetahui bahwa Yesus
akan diserahkan kepada para imam dan ahli-ahli taurat untuk dianiaya dan
dibunuh oleh bangsa asing. Akan tetapi konsep berpikir kedatangan Mesias untuk
memulihkan kerajaan Israel secara politik membuat mereka tidak mengerti dan tidak
menerima apabila Guru mereka yang mereka percaya sebagai Mesias harus menderita
dan mati. Yesus sendiri memandang kematian-Nya sebagai sesuatu yang diharuskan
Allah, untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk
10:45;bdk 1 kor:15:3-4).[75]
Pengkhianatan Yudas dalam Injil Markus dilakukan setelah peristiwa Yesus diurapi
oleh perempuan berdosa (Mrk 14:3-9). Yudas sendirilah yang berinisiatif untuk
mengadakan mufakat dengan para imam. Markus 14:10-11 mengatakan bahwa Yudaslah yang
mendatangi para Imam dan menawarkan untuk menyerahkan Yesus kepada para Imam.
Melalui penawaran ini Yudas merencanakan penerimaan upah dari para imam untuk
dirinya sendiri.[76]
Penawaran ini direspon gembira dan mereka menjanjikan uang kepada Yudas, Dan Yudas
mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Perayaan Paskah terakhir Kristus dalam Markus 14:12-21 Tuhan Yesus
memberitahukan kepada para Murid bahwa salah seorang dari mereka akan
mengkhianati Yesus dengan menyerahkan-Nya. Kematian atau kepergian anak Manusia
memang akan digenapi sesuai dengan kitab suci, akan tetapi orang yang
menyerahkannya akan menerima nasib yang buruk (Mrk 14:21). Kata “celakalah”
bukanlah seruan agar Yudas bertobat, tetapi merupakan ancaman bagi orang yang
akan menyerahkan Yesus.[77]
perkataan Yesus merupakan peringatan yang mengerikan bahwa tindakan setiap
orang memiliki konsekuensi.[78]
Perjamuan paskah yang terakhir menegaskan
kembali bahwa Kematian-Nya adalah kehendak Allah. tapi juga mengecam dan
mengutuk murid yang akan mengkhianati-Nya.
Penangkapan Yesus (Mrk 14:43-52) terjadi di taman Getsemani ketika Kristus
sedang bersama para murid. Lalu datang Yudas bersama para prajurit suruhan para
imam dengan, Yudas datang dan memanggil Kristus “Rabi” lalu mencium-Nya, lalu
para prajurit menangkap-Nya. ayat 49b menegaskan bahwa penangkapan Kristus pada
malam itu harus terjadi dan merupakan penggenapan dari kitab suci.
c.
Yudas Menurut Injil
Lukas
Permulaan Injil Lukas berbeda dengan
Injil-Injil lainnya, Injil Lukas menuliskan siapa yang menjadi tujuan dari
penulisannnya yaitu Teofilus. Penulisan Injil Lukas dilakukan dengan
penyelidikan secara sekasama (Luk 1:1-4). Pendahuluan ini memberikan
keterangann yang dapat dipercaya dokter Lukas pasti telah mengumpulkan bahan,
menyadur dan menelitinya sebelum dia bukukan.[79]
Peristiwa Yesus dicobai Iblis di
padang gurun (Luk 4:1-13) mengatakan setelah Yesus berhasil melewati pencobaan
dikatakan bahwa Iblis undur dari Yesus dan menunggu waktu yang tepat. Peristiwa
pengkhianatan Yudas diceritakan pasal 22:3-6. Lukas 22: 3 menyatakan bahwa
Iblis telah datang kembali dan melakukan serangan yang menentukan atas Yesus.[80]
Injil Lukas mengatakan hal yang berbeda mengenai pengkhianatan yang dilakukan
Yudas dibandingkan Injil Matius dan Markus. Injil Lukas menenjelaskan bahwa
Pengkianatan Yudas Iskariot dilakukan oleh karena ia dirasuki oleh Iblis.
Peristiwa Yudas dirasuki Iblis tidak terjadi begitu saja, keaktifan bekerja
Iblis dalam peristiwa-peristiwa minggu sebelumnya tidak bisa diabaikan.[81]
Peristiwa Yudas yang dirasuki oleh Iblis menunjukan bahwa Iblis menunggu waktu
yang tepat untuk dia kembali (bdk Luk 4:13).
Injil Lukas memberikan stigma yang
lebih buruk dibandingkan kedua Injil sipnoptik lainnya mengenai alasan Yudas
iskariot mengkhianati Yesus. Injil Matius dan Markus memberitahukan penyebab
Yudas mengkhianati Yesus adalah ketamakannya terhadap uang. Berbeda dengan
Injli Lukas, menurut Lukas penyebab Yudas menjadi pengkhianat adalah tidak
hanya faktor Ketamakannya tapi juga Yudas membiarkan dirinya dirasuki oleh
Iblis, sehingga ia menjual gurunya.
d.
Yudas Iskariot
menurut Injil Yohanes
Pengkidentifiksian Injil Yohanes terhadap Yudas Iskariot sama seperti
ketiga Injil sinoptik yaitu, seorang pengkhianat, Yoh 6:71. Akan tetapi Injil
Yohanes mengidentifikasikan karakter Yudas Isakariot, lebih mendetail dibandingkan
ketiga Injil sinoptik. Yohanes secara langsung menyebutkan Yudas sebagai Iblis,
Yoh 6:70-71, dikatakan Yesus yang memilih mereka dan salah satu dari para murid
adalah Iblis (70), dan yang dimaksudkan adalah Yudas (71). Alasan Yudas disebut
Iblis adalah karena ia menyerahkan Yesus. Pemilihan yang Yesus lakukan tidak
merujuk pada tujuan kekal Allah.[82]
Selain sebagai
pengkhianat Injil Yohanes mengdeskritkan Yudas Iskariot sebagai seorang yang
munafik dan pencuri, Yohanes, 12:5-6 mengatakan:
"Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus
dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin? Hal itu dikatakannya bukan karena ia
memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang
pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”
Teks ini menunjukan kemunafikan Yudas Iskarioth, dia menggunakan orang
miskin dan pemborosan sebagai alasan untuk kepentingannya sendiri. Yudas adalah
seorang bendahara, dan Injil Yohanes menyatakan bahwa Yudas adalah orang yang
sudah terbiasa mencuri dari uang kas yang dipercayakan kepadanya. kata mencuri
di ayat ini menggunakan kata κλέπτης (Kleptes),[83] dalam konteks budaya
bahasa Yunani tidak sekedar diartikan sebagai seorang yang mencuri, melainkan seseorang
yang mengambil barang-barang dengan cara diam-diam dan tidak menggunakan
kekerasan.[84]
Yudas Iskriot dalam Injil Yohanes di gambarkan sebagai seorang yang terbiasa
mencuri dan mencari keuntungan sendiri.
Peristiwa
pembasuhan kaki para murid oleh Yesus, (Yoh 13:1-18), semakin menambah kesan
negatif terhadap Yudas. dalam ayat 10, Yesus mengatakan mereka telah bersih,
namun tidak semua. Ayat 11a “sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.”
Teks narasi ini menyatakan bahwa Yesuslah yang memilih mereka dan Dia tahu
bahwa pengkhianatan harus terjadi sebagai penggenapan akan kitab suci (Yoh
13:18). Kutipan “telah mengangkat tumit terhadap aku” bukan hanya meneguhkan
apa yang akan dilakukan Yudas telah dinubuatkan tapi juga mengungkapkan sifat
licik dan tidak setia dari perbuatannya.[85]
Yohanes
13:21-30, pada waktu perjamuan malam terakhir Yesus kembali memberitahukan
salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya (21). Dalam bagian ini pun Yohanes
mengungkapkan alasan lain dari Yudas mengapa ia sampai mengkhianati Kristus,
yaitu ia dirasuki Iblis (28), Kristus tahu bahwa Iblis telah merasuki Yudas
sepenuhnya, jadi Ia membiarkannya, sebab telah berbagai cara Ia lakukan untuk
mengisafkan Yudas.[86]
Penekanan Yudas bukan bagian dari para
murid ditegaskan dalam Yoh 17:12, di dalam doa Yesus sendiri sebelum adegan
penangkapan terjadi. Ungkapan “ditetapkan
binasa” adalah ungkapan yang
menunjukan bahwa Yudas Iskariot benat-benar hilang.[87]
Peristiwa
penangkapan Yesus dalam Injil Yohanes sedikit berbeda dengan Injil-Injil
sinoptik, dalam Injil Yohanes tidak disebutkan Yudas Iskariot menyerahkan Yesus
dengan sebuah ciuman. Injl Yohanes menuliskan Yudas hanya menunjukan tempat
Yesus berada. Dan Yesus sendirilah yang
mengakui bahwa Dialah yang mereka cari, bukan ditunjuk oleh Yudas dengan sebuah
ciuman. Injil Yohanes adalah satu-satunya yang memberikan petunjuk sebelum
pengkhianatan Yudas bahwa, ada sesuatu yang salah secara moral dengan Yudas.[88]
5.
Pandangan Para Tokoh Tentang Yudas Iskariot
Yudas iskariot,
seorang murid Kristus yang menjadi pengkhinat, telah menjadi sosok yang banyak
diperdebatkan. Beberapa tokoh pun memiliki pandangan yang tersendiri mengenai
Yudas diantaranya,
a.
Wiliam Hendriksen
Dia
mengatakan Yudas sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, ia
merupakan alat Iblis, ia seolah-seolah setuju dengan Yesus, orang yang egois,
orang yang digunakan Iblis mengkhanati Yesus.[89]
penyesalan yang dialami Yudas tidak memberikannya perubahan mendasar tetapi
perasaan bersalah dan takut apa yang mungkin terjadi pada masa dimasa depan,
membuatnya mengambil keputusan bunuh diri.[90]
Jadi
menurut William sikap Yudas iskriot merupakan celah untuk Iblis memperalatnya.
Penyesalan yang dialaminya hanya sampai pada kesadaran pada perbuatannya yang
salah tetepi tidak membawanya pada pertobatan. Keputusannya untuk bunuh diri
merupakan dampak rasa bersalah yang menghantuinya.
b.
Matthew Henry
Henry mengatkan berkaitan dengan Mrk 14:10-11, Yudas yang menjadi musuh
dalam selimut bagi Kristus, bersepakat menjual Yesus.[91]
Henry
lebih suka menyebut Yudas sebagai Iblis yang menjelma sebagai seorang rasul
yang jatuh, yang hatinya telah dikuasai Iblis. Seorang yang munafik, tampil
sebagai musuh kerajaan Iblis, tetapi selama ini ia adalah Iblis. Yudas tidak
terpilih untuk hidup kekal.[92]
Dia tidak memiliki belas kasihan terhadap orang miskin, baginya orang miskin
hanyala sekedar alat untuk mendapatkan keinginannya. Dia seorang yang tamak.[93]
Peringatan yang Yesus berikan malah membuatnya semakin kukuh dalam kejahatannya
bukan menginsyafinya (13:26). Iblis merasukinya untuk mengobarkan rasa rakus
dalam hatinya akan upah yang diperoleh dengan tidak benar.[94]
Yoh 17:12 menurut Henry, Yudas adalah orang yang ditentukan untuk binasa,
sehingga ia bukanlah salah satu dari mereka yang diberikan kepada Kristus untuk
dipelihara, Allah membiarkan Yudas menjerumuskan diri dalam kebinasaan.
c.
Yudas Menurut Marthin Luther
Luther
adalah seorang reformator gereja yang lahir tahun 1483 di Eisleben (Jeman
Timur)[95].
Teologi Luther berpusat hanya kepada Kristus (Christocentric; solus Christus).
Berita tentang penebusan dan pembenaran oleh Kristus merupakan inti berita
Alkitab.[96]
Dalam
komentarnya terhadap Yohanes 6:64, Luther mengatakan, Kristus mengeluh: “Ada
beberapa di antara kamu yang tidak percaya.” Seolah-olah Dia berkata: Kamu
mendengar kata-kata itu, dan itu adalah kata-kata yang benar.[97]
Luther juga mengatakan alasan Yesus memanggil Yudas sebagai Iblis yaitu, karena
Yudas juga mendengar kata-kata ini, tetapi ia tidak mengindahkannya. Tidak ada
yang mengubahnya. Ia menjadi murtad. Itulah sebabnya Tuhan memanggilnya Iblis.[98]
Jadi
menurut Luther, Yudas iskariot adalah seorang yang tidak percaya dari mulanya,
meskipun Yudas mengetahui dan menyadari bahwa perkataan Yesus itu benar, tetapi
Yudas tidak pernah mengindahkan perkataan tersebut. Tidak ada yang mengubahnya
menjadi murtad. Yudas sendirilah yang telah mengeraskan hatinya, atau dapat juga
dikatakan pada dasarnya Yudas tidak mempercayi Yesus, Sehingga disini dapat
dilihat bahwa Yudas bertanggung jawab akan perbuatan yang dilakukannya.
d.
Yudas menurut Yohanes Calvin
Yohanes
calvin lahir tahun 1509 di Noyon, Prancis utara. Tahun 1535 ia telah
menyelesaikan terbitan pertama institutio.[99]
Dia adalah teolog sistematis terbesar dari gerakan reformasi.
Ajaran-ajarannya adalah dasar dari gereja-gereja “reformed” atau Calvinis, yang
kini masih kuat di banyak bagian dunia.[100]
Calvin
mengatakan, nasehat Kristus begitu jauh dari berguna untuk melunakan hati
Yudas, dan membuatnya lebih baik, Yudas seorang pencuri, kebiasaannya telah
membuatnya mengeras dalam kejahatan, penyebab “kebutaannya” adalah
ketamakannya. Dia memiliki hati nurani yang buruk, seorang munafik yang begitu
bodoh, yang tidak menyadari lukanya sendiri.[101] Meskipun Yudas bukan dari salah satu umat
pilihan Allah, dari kawanan domba Allah yang sejati, namun martabat dan
jabatannya sebagai murid memberikannya penampilan seperti itu.[102]
Jadi
menurut Calvin Yudas adalah seorang yang tegar tengkuk, kebiasaan buruknya
telah membuatnya mengeras dalam kejahatan, munafik, dan tamak. Yudas bukanlah
salah satu dari umat pilihan dan dari domba Allah yang sejati. Calvin
berpandangan bahwa Yudas terpilih untuk menjadi bagian dari duabelas murid akan
tetapi ia ditetapkan binasa dan bertanggung jawab atas perbuatannya yang
mendatangkan kebinasaannya.
BAB
III
MAKNA
PEMILIHAN YUDAS DAN KAITANNYA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI
Pemilihan Yudas menjadi seorang murid dan ditetapkan binasa merupakan suatu
paradoks yang sering kali sulit dijelaskan bila dikaitkan dengan Doktrin
Predestinasi. Untuk memamahami hal ini maka perlu mamahami tentang doktrin
Predestianasi dengan tepat.
Doktrin Predestinasi, memiliki dua arah yaitu, ditetapkan selamat (election) dan ditetapkan untuk binasa (reprobation), dan pemilihan ini
berdasarkan kedaulatan Allah. Pemilihan berkaitan dengan mereka yang menuju ke
surga (election) dan penolakan (reprobation) berkaitan dengan mereka
yang menuju ke neraka.[103]
Pemahaman doktrin predestinasi ini, menurut penulis seringkali membawa pada
pemahaman Allah yang pilih kasih dan tidak adil, atau dengan kata lain
pemahaman yang keliru tentang Allah. Oleh karena itu untuk memahami doktrin
predestinasi secara tepat, maka perlu memahami keadaan manusia secara universal
dan kedaulatan Allah secara benar.
Kebebasan dari Pemerintahan Allah, dan dapat menentukan sendiri mana yang
baik dan jahat adalah cita-cita yang diinginkan Adam ketika berbuat dosa,
tetapi yang didapatkannya adalah ia menjadi budak dosa.[104]
Sejak Adam jatuh ke dalam dosa kejatuhannya telah mengakibatkan terpisahnya
manusia dengan sang khaliknya, dan pemisahan itu adalah maut.[105]
Adam berdiri di hadapan Allah mewakili kita sehingga, seperti yang Paulus
katakan, ketika ia (adam) terjatuh, kita terjatuh dan tanpa bisa menghindar
kita terjerat dalam akibat-akibat pemberontakannya.[106]
Kejatuhan Adam dalam dosa telah mengakibatkan umat manusia telah berada dalam
dosa dan menjadi budak dari dosa. Dalam Roma 5:12 Paulus menegaskan bahwa
melalui ketidaktaatan Adam, dosa dan kematian menjadi kenyataan bagi semua
orang.[107]
kata kematian menggunakan kata θάνατος yang secara harafiah memiliki arti kematian secara fisik.
Thayer memberikan pengertian kata ini ialah:
1) In the
widest sense, death comprises all the miseries arising from sin, as well
physical death as the loss of a life consecrated to God and blessed in him on
earth, to be followed by wretchedness in the lower world, 2) the miserable
state of the wicked dead in the hell.[108]
Melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia, dosa menjalar keseluruh manusia,
sehingga tidak seorangpun dalam dunia ini tidak berdosa. oleh karena itu
kematian menjalar pada seluruh manusia. kejatuhan Adam dalam dosa memberikan
dampak bagi manusia. Setiap orang telah turut bersalah dalam Adam sehingga
konsekuensinya semua dilahirkan rusak dan korup.[109]
Jatuh ke dalam murka dan hukuman Allah, dan mengalami kerusakan total.[110]
Karena itu manusia tidak layak untuk menghadap Allah, tidak sanggup melakukan
kehendak Allah, sehingga walaupun Allah menawarkan jalan kehidupan, manusia
tidak lagi sanggup menjawab panggilan-Nya sepenuhnya.[111] Oleh karena itu untuk dapat lepas dari
belenggu kebinasan manusia memerlukan Anugerah Allah Tritunggal.
Kitab Injil mengatakan bahwa, satu-satunya jalan untuk memperoleh kehidupan
adalah melalui Kristus (Yoh 3:16; 14:6). Tidak seorang pun dapat datang kepada
Kristus jika Allah tidak membawanya kepada Kristus (Yoh 6:65). Dan keselamatan
hanya dapat diperoleh ketika percaya
pada Kristus (Yoh 3:16), ketika kita beriman pada Kristus kita memperoleh
keselamatan. Namun manusia berdosa tidak dapat beriman dengan kemampuannya
sendiri, sebab Iman merupakan karunia dari Roh Kudus, tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain
oleh Roh Kudus. 1Ko 12:3.[112]
Iman merupakan karunia dari Allah,
dan “bukan semua orang beroleh iman” (2
Tes. 3:2b).[113]
Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan setelah Adam jatuh kedalam dosa, oleh
karena kehendak bebasnya, mengakibatkan Adam terpisah dari Allah yang berarti
kematian. Keberdosaan Adam menjadi jalan bagi maut untuk masuk ke dalam dunia,
sehingga seluruh manusia berada dalam kebinasaan oleh karena satu orang. Di
dalam Adam semua orang telah berbuat dosa, dan patut menerima Hukuman, yaitu
kutuk dan kematian kekal.[114]
Kejatuhan Adam mengakibatkan kerusakan total, hal ini bukan berarti hilangnya
kemampuan melakukan kebaikan secara relatif,[115]
akan tetapi kerusakan total menjadikan manusia tidak mampu melakukan kebaikan
secara fundamental yang bisa menyenangkan hati Allah,[116]
tidak ada kerinduan akan Allah sehingga tidak menginginkan Yesus Kristus.[117]
Keberadaan dalam kebinasaan, membuat semua manusia tidak dapat memperoleh
keselamatannya tanpa anugerah dari Allah. Anugerah merupakan pemberian dari
Allah tanpa melihat apa yang ada dalam diri manusia dan apa yang telah
diperbuat, semata-mata pemberian Allah, sehingga merupakan hak Allah untuk memberikan
anugerah tersebut kepada siapa Dia menghendakinya.
Maka dapat disimpulkan bahwa, Predestinasi ialah Allah memilih sebagian
orang untuk diselamatkan dari kebinasaan yang telah membelenggu mereka dan
Allah membiarkan sebagian orang berada dalam kebinasaannya, berdasarkan
kedaulatan-Nya. Ia berdaulat kepada siapa Ia memberikan kasih-Nya dan kepada
siapa Ia menahan kasih-Nya. Pemilihan ditetapkan selamat atau ditetapkan
binasa, bukanlah berdasarkan apa yang telah ada pada manusia itu sendiri, baik
itu perbuatan maupun “iman” yang telah ada dalam diri manusia itu sendiri,
tetapi berdasarkan kasih karunia-Nya. Efesus 2:8 mengatakan “sebab karena kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman: itu bukan hasil usaha mu tetapi pemberian
dari Allah. Maka dapat dikatakan iman yang dikarunian oleh Allah lah yang
menyelamatkan, bukan iman yang telah ada dalam diri manusia.
A.
PANDANGAN PARA TOKOH
TENTANG PREDESTINASI BERKAITAN DENGAN DOKTRIN DITETAPKAN BINASA
Doktrin predestinasi merupakan doktrin yang melekat dalam ajaran
kekristenan, tetapi dihindari di mimbar gereja. Predestinasi ialah keputusan
Allah yang kekal yang dengannya Dia menetapkan untuk diri-Nya sendiri, apa yang
menurut kehendak-Nya akan terjadi atas setiap orang.[118]
Predestinasi berkaitan dengan pemilihan menurut Arthur Van Delden mengatakan:
“pemilihan adalah rencana Allah sejak semula tidak
berubah-ubah, Dia memilih sejumlah orang dari segenap manusia yang telah jatuh
dalam dosa, agar mereka memperoleh keselamatan di dalam Kristus. orang yang
dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak dari orang lain.[119]
Selain dari Arthur, beberapa tokoh teolog besar memiliki pandangan tersendiri
tentang predestinasi berkaitan dengan doktrin ditetapkan untuk binasa seperti:
1.
Pandangan Agustinus
tentang Predestinasi
Augustinus adalah sang bapa gereja barat. Ia dilahirkan
pada tahun 354 AD di Afrika Utara.[120]
Ia adalah orang yang pertama kali mengajarkan gereja yang tidak kelihatan.[121]
Ia mengatakan di dalam pra pengetahuan Allah mengetahui orang yang kelihatan di
dalam gereja sebenarnya berada diluar gereja, begitu pun sebaliknya.
Augustinus
menyadari Iman merupakan kasih karunia dari Allah. Agustinus mengatakan:
Ia percaya
manusia telah berdosa “di dalam” Adam, karena itu bayipun telah berdosa, dan
kecenderungan hati manusia adalah berbuat dosa. Kecenderungan inilah yang
mengendalikan manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa berada dalam posisi
yang menyedihkan di mana berbuat dosa itu tidak terelakan lagi, namun ia tetap
melakukannya secara “bebas” atas kemauannya sendiri, karena itu manusia tetap
bertanggung jawab pada tindakannya dalam arti manusia bebas melakukan apa yang
ia inginkan tetapi tidak bebas
menginginkan apa yang patut dilakukanya. Akan
tetapi Allah oleh rahmat-Nya Allah telah memilih sebagian orang untuk
diselamatkan, kasih karunia Allah menginspirasi orang untuk berbuat baik. dan
oleh pertolongan Tuhan manusia dapat bertahan sampai kesudahan dan
diselamatkan. Karunia ini tidak diberikan kepada semua orang yang mulai hidup “Kristen” tetapi hanya kepada mereka yang
terpilih.[122]
Kebinasaan kekal di dasarkan pada ketidak mampuan kehendak bebas manusia
untuk menginginkan kebenaran dari Allah, tanpa anugerah Allah. Dan kebinasan
kekal bukan berdasarkan suatu kemutlakan yang diandaikan berasal dari pra
pengetahuan Allah.[123]
Sedangkan keselamatan dari status keberdosaan hanya mungkin melalui anugerah,
tetapi anugerah yang seluruhnya di dasarkan atas pemilihan Allah.[124]
Berdasarkan hal ini maka dapat disimpulkan bahwa Augustinus mempunyai
pemahaman tidak semua orang diselamatkan. Allah dalam ketetapan-Nya telah
memilih sebagian orang untuk diselamatkan, dan sebagian manusia dibiarkan-Nya
dalam natur keberdosaan mereka yang mendatangkan kebinasaan. Ia pun berpedapat
bahwa iman yang merupakan sarana keselamatan merupakan kasih karunia dari
Allah, akan tetapi kebinasaan manusia merupakan tanggung jawab manusia itu
sendiri. Kebinasaan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang didorong oleh
kecenderungan hati mereka untuk berbuat dosa.
2.
Pandangan Martin Luther
Tentang Predestinasi
Luther menempatkan doktrin pembenaran
hanya oleh iman sebagai prinsip dasar dari teologinya.[125]
Ia memberikan kesaksian tegas bahwa keselamatan manusia bukan berdasarkan
keyakinan orang telah berpegang kepada Allah, melainkan berdasarkan pada rahmat
Allah, yang dalam belas kasihan-Nya mengangkat orang berdosa menjadi anak-Nya.[126]
Manusia memperoleh keselamatan jika ia menyerahkan diri dalam iman kepada Allah
yang rahmani.
Meskipun Luther tidak terlalu mementingkan Predestinasi, tetapi Luther
tidak menolak Predestinasi.[127]
Mengenai hal ini, Dalam Yohanes 6:37,
Luther mengatakan,
No matter how
long you may strive for holiness, fast and pray, take offense at Me and regard
Me a feel, the fact remains that he who believes in Me has this faith from the
Father. It is given to him by the Father to come to Me, and he who comes to Me
may eat confidently and drink deeply; for I will not east him out.” This is
also the mind of Christ. He wants to say: “I see that you do not believe. And I
know that if any man is to believe, it must be given him by My Father. But if
My Father gives him faith, he will surely have it.[128]
Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan menurut Luther. Dia mengatakan bahwa,
seberapa pun keras usaha seseorang untuk dapat datang kepada Kristus, itu
merupakan suatu hal yang sia-sia sebab dengan kekuatannya sendiri tidak mungkin
orang dapat datang kepada Kristus. Seseorang yang dapat datang kepada Kristus
adalah orang yang dikaruniakan iman oleh Allah. Menurutnya iman yang merupakan
sarana untuk dapat datang kepada Kristus, merupakan anugerah dari Allah kepada
manusia yang dikehendaki-Nya. Maka menurut Luther datang kepada Kristus dan
mengalami keselamatan kekal semata-mata oleh karena Anugerah, bukan karena usaha
dari manusia itu sendiri.
3.
Pandangan Yohanes
Calvin Tentang Predestinasi
Calvin memberikan arti penting yang besar bagi predestinasi dalam kedua
bentuknya yaitu, pemilihan dan reprobasi.[129].
Orang yang dipilih Tuhan ditandai-Nya dengan panggilan dan pembenaran, tetapi orang yang ditolaknya ditutup-Nya
pengetahuan tentang Dia atau pengudusan oleh Roh-Nya.[130]
Dalam ajarannya ini Calvin mengatakan “sebab tidak semua orang diciptakan dalam
keadaan sama; tetapi untuk yang satu ditentukan untuk kehidupan kekal, untuk
yang lain hukuman Abadi. Calvin menekankan bahwa kehidupan kekal atau
keselamatan diterima oleh karena iman dan merupakan karya Roh Kudus yang
terpenting, maka iman adalah karunia Roh kudus.[131]
Berkaitan dengan putra kebinasaan Yoh
17:12, Calvin mengatakan, menurut ungkapan ibrani, kata ini menunjuk pada
seorang pria yang hancur atau dikhususkan untuk kehancuran.[132]
Calvin berpendapat Allah dalam kedaulatan-Nya telah menentukan siapa yang
Dia selamatkan dan Siapa yang ditentukannya untuk binasa. ditentukan binasa
berarti Allah tidak memberikan anugerah keselamatan kepada orang yang tidak
dikehendakinya.
4.
Pandangan Jacobus
Arminius (Armenianisme) Tentang Predestinasi
Jacobus armenius (1560-1609) lahir di Belanda, menjadi seorang pendeta
jemaat di Amsterdam (1588-1603).[133]
Ia mengajarkan bahwa kehendak bebas manusia
memiliki peranan dalam keselamatan manusia. Armenius menghubungkan
Predestinasi dengan kemahatahuan Allah, mereka yang akan memilih Dia dan
merekalah yang akan di Predestinasikan.[134]
Mereka berpendapat bahwa, Allah telah melihat sebelumnya siapa yang akan
percaya kepada Kristus, dan berdasarkan Prapengetahuan ini Allah menetapkan
pilihannya.[135]
Namun dia mengajarkan bahwa keselamatan bisa
hilang apabila kehendak bebas tidak digunakan dalam ketekunan orang
percaya.[136]
Menurutnya kehendak bebas manusia memampukan sesorang untuk menyangkali iman
mereka dan memilih untuk berdosa.[137]
Jadi menurut Arminius, ia menolak akan pemahaman predestinasi. Menurutnya
Allah memberikan anugerah keselamatan bagi setiap orang untuk percaya, namun
manusia dengan kehendak bebasnya dapat memilih untuk percaya, atau pun tidak
percaya, bahkan menyangkali iman mereka. Menurutnya manusia diselamatkan atau
dibinasakan tergantung pada respon manusia terhadap tawaran keselamatan yang
Allah berikan.
- PERAN
DAN TANGGUNG JAWAB YUDAS SEBAGAI SEORANG MURID
Pemilihan
para murid seperti yang telah dibahas dalam bab sebelumnya merupakan inisiatif
dari Tuhan Yesus sendiri. Kitab Injil tidak
menjelaskan kapan Yudas dipanggil oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya, kemungkinan
ia dipanggil pada saat mula-mula ketika Yesus memanggil orang banyak orang (Mat
4:18-22).[138] Sejak
awal pemanggilan para murid, Yesus dalam Kemahatahuannya telah mengetahui
mengetahui siapa dan bagaimana sifat dan karakter para murid, oleh karena itu
para murid memiliki peranan dan tanggung jawabnya masing-masing termasuk Yudas
Iskariot, peran dan tanggung jawabnya ialah:
- Bendahara
Bendahara
merupakan suatu jabatan yang dipercayakan kepada seseorang dalam mengurusi atau
mengelola keuangan pada suatu department atau kelompok. Menjadi seorang
bendahara tidaklah mudah, orang tersebut harus dapat dipercaya dan terbukti
jujur selain itu harus memiliki pemikiran yang baik dalam mengatur keuangan.
Kristus dan para murid dapat dikatakan sebagai suatu kelompok, oleh karena itu
mereka membutuhkan seorang bendahara. Maskipun dalam Injil tidak disebutkan
bagaimana Yudas menjadi pengelola keuangan dari kelompok tersebut, apakah
melalui pemilihan atau Yesus sendiri yang memilihnya. Menjadi bendahara
merupakan tugas yang membutuhkan kepercayaan dari kelompoknya.
Pertama kali menjadi Murid, Yudas memiliki citra yang
baik di antara para murid, memiiki pikiran wirausaha yang bagus dengan reputasi
kejujuran yang baik,[139] berkemampuan melakukan pekerjaan
administratif diambil dari fakta bahwa ia dianggkat sebagai bendahara kelompok
rasul.[140]
Sebab hal inilah Yudas dipercaya menjadi bendahara. Jabatan Yudas sebagai
bendahara dapat terlihat dalam Injil Yohanes 12:5-6 dan 13: 29, dalam kedua teks ini dikatakan bahwa Yudas
memegang uang kas (kotak uang),[141]
dan bertanggung jawab untuk mengelola keuangan kelompoknya. Sebagai bendahara
Yudas memiliki tanggung jawab untuk membeli apa yang diperlukan untuk perayaan
dan juga memberi apa-apa kepada orang miskin. kelompok ini menerima sumber dana
dari uang yang diterima Yesus dari teman-teman-Nya untuk keperluan-keperluan
kelompok-Nya dan untuk dibagi antara orang miskin yang tiap hari ada
bersama-Nya. Lukas 8:3 “perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan
kekayaan mereka” teks ini menjelaskan darimana sumber pendapatan kelompok
Kristus. Yudaslah yang dipercaya untuk menyimpan dan mengelola tidak hanya
persembahan dari orang-orang yang Tuhan Yesus layani tetapi juga uang dari para
murid. Akan tetapi Yudas telah menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri
sendiri.[142]
- Pencuri
Salah satu Konotasi buruk yang disematkan kepada Yudas
adalah seorang Pencuri. Yudas sebagai seorang yang dipercaya sebagai bendahara
memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan dengan baik, kemampuannya ini digunakan
untuk mencuri sehingga perbuatannnya yang sering mencuri uang dari kas tidak
diketahui murid yang lain.
Yohanes 12:5-6 ketika Yudas menyesali perbuatan meminyaki
kaki Yesus dengan minyak narwastu sebagai pemborosan dan menunjukan
kepeduliannya terhadap orang miskin. Tetapi Yohanes menunjukan bahwa penyesalan
yang ditunjukan Yudas bukan karena ia perduli tehadap orang miskin, tetapi ia
kehilangan sejumlah uang yang dapat ia gunakan untuk memperkaya dirinya
sendiri.[143] Sebab ia tidak begitu mempedulikan Yesus
sehingga ia lebih menghargai keinginannya sendiri di atas yang seharusnya ia
layani.[144]
Perkataan Yudas tentang pemborosan bukan berdasarkan perhatian altruistik[145]
terhadap orang miskin tetapi berdasarkan pada keuntungan Pribadi[146]
Yohanes 12:6 “mengatakan bahwa ia (Yudas Iskariot) adalah
seorang pencuri.” ὅτι κλέπτης ἦν. Kata pencuri berasal bentuk leksikal κλέπτης (kleptes) dalam bentuk nominative maskulin tunggal.
Dalam bahasa Ibrani menggunakan kata גַּנָּב (gannab) yang berarti
mencuri atau menipu.[147]
Kataגַּנָּב (gannab) adalah kata kerja yang pada
dasarnya memiliki arti mengambil apa yang menjadi milik orang lain tanpa
sepengetahuan atau persetujuannya.[148]
Kata ini digunakan dalam perjanjian baru sebanyak enam belas kali, dalam bentuk
yang berbeda dan dengan arti yang sama yaitu pencuri.[149]
Yohanes 12:6 adalah satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru di mana Yudas
disebut sebagai pencuri.[150]
Kata κλέπτης (Kleptes) Umumnya
dapat diartikan seorang penipu atau penjahat.[151]
kata κλέπτης (kleptes) memiliki pengertian Seorang yang bertindak
dengan akal-akalan dan kerahasiaan.[152] Dan kata “adalah” menggunakan kata ἦν (en) yang bentuk leksikal εἰμί (eimi)
dalam bentuk imperpekt orang ketiga tunggal, maka kata ἦν (en) memiliki arti
dia adalah. Imperpekt berarti menunjukan suatu pekerjaan yang sedang dilakukan
atau dilakuan berulang-ulang pada masa lampau.[153]
Berdasarkan
hal ini dapat disimpulkan bahwa Injil Yohanes 12:6 ingin mengatakan kepada para
pembacanya bahwa, mencuri telah menjadi watak atau tabiat dari Yudas Iskariot.
Sebab dalam bagian ini, dapat diketahui bahwa Yudas telah berulang-ulang
melakukan pencurian dari uang kas yang dipercayakan kepadanya.
Matthew
Henry mengatakan Yudas memiliki watak pencuri dan telah mengkhianati
kepercayaan dari Yesus dan murid-murid lainnya.[154]
kecintaanya terhadap uang menjadi motivasi Yudas dalam mencuri uang. Nafsu
mencurinya semakin subur ketika ia melakukan pencurian kecil-kecilan dari uang
kas yang dipegangnya.[155]
Injil Yohanes 12:6 menyatakan bahwa Yudas Iskriot memiliki kebiasaan mencuri
dan bersifat munafik. Dengan melihat kebelakang sejarah tentang Yudas, Yohanes
dapat menyatakan bahwa Yudas seorang yang diam-diam ingin mengumpulkan uang
untuk diri sendiri, seorang yang egois
dan tamak.[156]
Menurut
penulis sikap Yudas yang dijelaskan dalam Yohanes 12:5-6 membuktikan Yudas
Iskariot meskipun berada dalam lingkungan orang-orang yang benar dan melihat
karakter mulia dari Kristus, hal tersebut tidak mengubah karakternya. Ketamakan
dalam hatinya yang mendorong dia untuk menjadi seorang pencuri dan ia
menggunakan jabatannya sebagai bendahara sebagai kesempatan untuk mencuri dari
uang kas yang dipegangnnya. Oleh karena itu Yudas bertanggung jawab akan
kebinasaannya sendiri sebab ia seorang pencuri. Hal ini diperkuat oleh
pernyataan Paulus dalam 1 Kor 6:10, Paulus menyatakan pencuri tidak mendapat
bagian dalam kerajaan Surga.
- Pengkhianat
Sebutan
yang paling yang paling melekat terhadap Yudas Iskariot adalah seorang
pengkhianat. Dalam keempat Injil setiap penyebutan nama Yudas Iskariot sering
di sertai dengan sebutan pengkhianat misalkan, Matius 10:4; Markus 3:19; Lukas
6:16; dan Yohanes 6:71. Penyebutan terhadap Yudas sebagai pengkhianat merupakan
dampak dari perbuatan Yudas yang menyerahkan gurunya kepada imam kepala, ahli
taurat, orang farisi dan saduki yang membenci Yesus dengan tigapuluh uang
perak, seharga seorang budak. Yudas Iskariot merupakan satu-satunya rasul yang
tercatat perananya dimasa depan.[157]
Kata mengkhianati
yang digunakan oleh Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes memiliki bentuk
leksikal παραδίδωμι (paradidomi) berasal bentuk leksikal paradoi (paradoi). Yang berarti 1) to
give into the hand another (untuk memberikannya ke tangan orang lain) 2) to
give over into (one’s) power or use (untuk menyerakannya keatas kekuasaan
(seseorang) 3) to commit (melakukan atau menyerahkan) commend (mempercayakan).[158] dan convey the idea of
handing down tradition (menyampaikan gagasan untuk menjatuhkan tradisi atau
membatalkan).[159]
Kata ini digunakan sebanyak 119 kali dalam Injil dengan tujuan dan arti yang
berbeda sesuai dengan konteksnya.[160] kata paradoi dalam KJV,
dan NIV diterjemahkan dengan kata betray.
Menurut
kamus Oxford, betray digunakan untuk menjelaskan ketidak-setiaan
seseorang, orang yang menyalah-gunakan kepercayaan, dan orang yang telah
murtad atau mengkhianati imannya sendiri.[161]
Leksikon Yunani-inggris kata paradidomi memiliki
arti dasar menyerahkan, memberi, mempercayakan, izinkan, dan dari tradisi lisan
atau tertulis yang berarti diwariskan, meneruskan, mentrasnmisikan, berkaitan
dengan mengajar.[162] Secara etimologi kata
paradidomi memiliki makna yang netral, sehingga tidaklah tepat apabila kata ini
diterjemahkan dengan kata pengkhianat. Akan tetapi kata παραδίδωμι yang disematkan pada diri
Yudas Iskariot yang membuatnya dinilai secara negatif merupakan kasus
tersendiri. Yudas “menyerahkan” Yesus oleh karena ia memang mempunyai maksud
yang buruk untuk mencapai tujuan kepentingannya sendiri.[163] hal ini diperkuat oleh
ketiga Injil sinoptik yang mengatakan Yudaslah yang berinisiatif mendatangi
para imam untuk menyerahkan Yesus dan meminta imbalan atau mendapatkan imbalan
atas penyerahan diri Kristus, Mat 26:14-16;
Mrk 14:10-11; dan Luk 22:3-6. Yudas pergi bersekongkol dengan kepala
imam untuk menyerahkan Yesus kepada mereka demi uang.[164]
Dalam bab sebelumnya telah dibahas beberapa
pandangan perihal motivasi Yudas mengkhianati Yesus Kristus, motivasi pertama
yaitu ketamakan terhadap uang, pandangan ini diperkuat oleh pernyataan keempat
Injil yang mengatakan Yudas Menerima tiga puluh keping perak, dan Injil Yohanes
yang menyebutnya sebagai pencuri. Akan tetapi, pandangan ini sulit dijelaskan
jika dihadapkan dengan penyesalan Yudas dalam Matius 27:3, selain itu Yudas
akan lebih banyak mengambil uang dari kas yang disimpannya dengan tidak
mengkhianati Yesus, dibandingkan dengan mengkhianati Yesus.[165] Apabila motivasi Yudas
mengkhianati Yesus adalah ketamakan, maka uang yang diperolehnya sebanyak
tigapuluh keping perak merupakan harga yang terlalu rendah. Tigapuluh keping
perak adalah harga budak pada masa Musa (Kel 21:7-11),dan pada masa Asyur harga
budak adalah limapuluh syikal perak (2 Raj 15:20).[166] Dari hal ini menjelaskan
adanya kenaikan harga budak yang berlaku dari masa kemasa, maka dapat
disimpulkan harga Yesus yang diserahkan Yudas merupakan harga di bawah standar
harga budak yang berlaku pada masa itu. Karena itu motivasi ketamakan atau
cinta uang yang mendasari pengkhianatan Yudas patut dipertanyakan.
Pandangan kedua adalah, Yudas sengaja menyerahkan
Yesus kepada para imam dengan tujuan menciptakan krisis, sehingga dalam krisis
itu Yesus akan menyatakan diri sebagai Mesias.[167] Yudas ingin tuannya
memakai kuasa-Nya untuk menghancurkan musuh dan mendirikan kerajaan yang
dinanti-nantikan banyak patriot Yahudi.[168] Satu-satunya kesalahan
Yudas ialah kesalah-pertimbangan, dan ketika perannya sebagai pengkhianat
sia-sia, membuatnya menyesal dan bunuh diri.[169] Akan tetapi pandangan ini
tidak didukung secara kuat oleh Alkitab, sebab sebelum Yudas menyerahkan Yesus
kepada para imam, Yesus sendiri telah mengatakan sebanyak tiga kali bahwa Ia
akan diserahkan, menanggung banyak penderitaan dan dibunuh di Yerusalem.
Pertama terdapat dalam Mat 16:21; Mar 8:31; Luk 9:22, kedua Mat 17:22; Mar
9:30; Luk 9:43; dan ketiga terdapat dalam Mat 20:17-19; Mar 10:32-34; Luk
18:31-34. Ketiga pemberitahuan ini diberitahukan Kristus kepada semua murid
termasuk Yudas, sehingga menurut penulis pandangan penafsiran yang menyatakan
menciptakan krisis tidaklah dapat diterima.
Pandangan
ketiga adalah Kekecewaan Yudas terhadap Yesus. Yudas sama seperti para murid
yang lain, mengharapkan Mesias yang akan menyelamatkan mereka dengan keadilan
dan di bawah berkat perlindungan Allah, akan mengalahkan bangsa-bangsa lain dan
memimpin bangsa yang bertobat mendirikan kerajaan yang agung dan penuh rahmat.[170] Oleh karena itu ia
mengharapkan sesuatu untuk memenuhi impiannya, yaitu menjadi “orang dalam” di
kerajaan yang akan didirikan oleh Mesias.[171] Tetapi ketika penderitaan
mulai menimpa Yesus, dan Yesus sendiri menolak untuk dijadikan raja, maka
timbul rasa benci terhadap Yesus.[172] dan mulai berpikir
mengikuti Yesus tidak memiliki keuntungan bagi dirinya. Peritiwa pengkhianatan
Yudas terhadap terhadap Yesus terjadi setelah peristiwa pengurapan Yesus, di
mana Tuhan Yesus secara tidak langsung menegur sikap Yudas (Mat:26:6-13; Mrk
14:3-8, dan Yoh 12:1-8). Yudas yang kehilangan kesempatan untuk memperkaya
diri, mencari cara lain untuk menambah keuntungan pribadinya. Reaksi Yudas terhadap
teguran Yesus adalah dengan mengkhianati-Nya.[173] Matius 26:15 menyatakan
Yudas meminta imbalan untuk menyerahkan Yesus pada para musuh-Nya. akan tetapi
pandangan kekecewaan Yudas terhadap Yesus sehingga menimbulkan kebenciannya
terhadap Yesus akan sulit diterangkan jika diperhadapkan dengan penyesalan
Yudas.[174] Meskipun terjadi beberapa pendapat akan
tetapi terdapat kesamaan bahwa motivasi Yudas mengkhianati Yesus adalah untuk
kepentingannnya sendiri. Walaupun tidak
dapat pungkiri hal mementingkan diri sendiri juga ditemukan dalam diri para
murid yang lain, akan tetapi persekutuan dengan Kristus mengkikis watak hal itu
tetapi pada diri Yudas watak itu justru semakin kuat.[175]
Yohanes 6:64 dalam
peristiwa murid-murid meninggalkan Yesus. Dalam teks ini Yesus mengatakan
diantara kamu ada yang tidak percaya, sebab Yesus Tahu siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan
Menyerahkan-Nya, kata tidak percaya berasal bentuk leksikal μὴ πιστεύοντες (me pisteuontes)
dalam bentuk present partisip aktiv maskulin jamak, kata partisip ini
menunjukan kata yang memiliki sifat kata kerja,[176]
kata ini menunjukan “ketidakpercayaan” sebagai, secara mendasar, ketidakmampuan
dan penolakan untuk menerima Yesus karena siapa Dia.[177]
Ada beberapa diantara orang-orang yang bersama-sama dengan Yesus yang tidak
mempercayai-Nya, “termasuk Yudas.” Indikasi Yudas termasuk ada dalam bagian
orang yang tidak mempercayai Yesus terdapat dalam kalimat selanjutnya, “dan
siapa yang akan menyerahkan-Nya.” kata menyerahkan bentuk leksikal παραδώσων (paradoson) dalam bentuk partisip future aktif maskulin
tunggal. Ini menunjukan orang yang akan mengkhianati Yesus hanya seorang diri.
Terdapat juga kata kai sebagai penghubung kalimat
dengan kalimat sebelumnya, yang menunjukan kalimat ini kelanjutan dari kalimat
sebelumnya. Dapat disimpulkan secara tidak langsung orang yang akan mengkhianti
Yesus adalah bagian dari orang-orang yang tidak mempercayai Yesus. Dalam teks ini tidaklah disebutkan nama Yudas
tetapi dalam teks selanjutnya yaitu pada Ayat 71 Yohanes secara jelas
menyatakan bahwa Yudaslah yang akan menyerahkan Yesus. oleh sebab itu dalam
ayat 70 Yesus menyebut Yudas adalah Iblis, karena dia akan menyerahkan Yesus.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa hanya Yudas
sendirilah yang paling mengetahui motivasinya berkhiantat. Tetapi menurut
penulis, berdasarkan penjabaran di atas, motivasi Yudas dalam mengkhianati
Yesus adalah keuntungan Pribadi. Yudas mengikuti Yesus, karena ia mengetahui
bahwa Yesus adalah Mesias, yang akan membawa kelepasan bagi Yehuda dari jajahan
Romawi dan mendirikan kerajaan yang besar sama seperti pada zaman Daud, dan ia
akan menjadi “orang dalam” sehingga dengan posisinya itu ia dapat mencari
keuntungan Pribadi, tetapi ketika ia mengetahui bahwa Yesus menolak dijadikan
raja, dan ia ke Yerusalem untuk mati, hal ini membuat Yudas Kecewa, dan menjadi
membenci Yesus. Yudas yang mempunyai sifat cinta uang dan ditambah kebencian
terhadap Yesus membuatnya tega untuk menjual Yesus seharga tiga puluh keping
perah, harga budak yang paling murah pada zaman itu.
Sifat tamak dan rasa kekecewaannya terhadap Yesus
menyebabkan Yudas diperalat oleh Iblis untuk mengkhianati Yesus (bdk Luk
22:3-4). Dengan menyerahkan Yesus kepada para imam dengan imbalan tiga puluh
keping perak, harga yang menggambarkan bahwa Yudas kecewa terhadap Yesus dan
menganggap Yesus tidaklah berharga di matanya. Dan oleh karena ia telah
dikuasai Iblis, ia tidak lagi mampu bertobat.
- PERAN DAN TANGGUNG JAWAB YESUS TERHADAP
YUDAS ISKARIOT
Yesus memulai pelayanan-Nya di Galilea dengan
mengumpulkan muris-murid-Nya yang pertama.[178] Murid-murid yang dipiilih
inilah yang akan mendampingi Kristus dalam pelayanan-Nya selama Dia di dunia
dan juga yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan-Nya dalam dunia setelah
Ia naik ke surga. Penulis kitab Injil memberikan sedikit petunjuk mengenai
citra-diri para rasul dan tindakan mereka.[179] Para murid memiliki
tugas, dalam Markus 3:14-15, meringkaskan ada tiga tugas utama para murid,
yaitu menyertai Yesus, menyampaikan berita dari Allah dan mengusir Roh-roh
Jahat.[180]
Karena itu mereka perlu dipersiapkan untuk tugas tersebut. Yesus sendirilah
yang telah memilih keduabelas murid termasuk Yudas karena itu Yesus memiliki
peran dan tanggung jawab terhadap Yudas yang berkaitan dengan keselamatannya,
yaitu:
1.
Pemilihan Yudas Iskariot
Pemilihan Yudas Iskariot oleh Kristus menjadi
suatu persoalan tersendiri dalam kekristenan. Dalam kitab Injil tidak tercatat
secara pasti Yesus memanggil Yudas untuk bergabung dalam pengikut-Nya.[181] Tetapi pemilihan Yudas
menjadi bagian murid dilakukan oleh Yesus sendiri dan merupakan suatu keputusan
yang sangat penting karena itu Tuhan Yesus berdoa semalaman terlebih dahulu
sebelum memanggil keduabelas rasul (Luk 6:12-13).
Pemilihan ini terjadi dalam pelayananya di
Galilea, kedua belas murid inilah yang akan selalu bersama dengan Yesus dan
Yesus berencana melatih mereka untuk mempersiapkan mereka sebagai eksponen
pengajaran-Nya.[182] Akan tetapi dalam Yohanes
6:70-71 Yesus mengatakan bahwa salah satu diantara keduabelas murid adalah
Iblis dan yang dimaksudkan adalah Yudas Iskariot sebab pengkhinatan yang akan
dilakukannya. Hal inilah yang sering menjadi pertanyaan.
Pemilihan yang dilakukan Yesus dilakukan
dalam belas kasihan dan cinta.[183]
Yohanes 6:70 “jawab Yesus
kepada mereka: “bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang duabelas ini?
Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Kata memilih menggunakan kata ἐξελεξάμην (ezelezamen), dalam bentuk indikatif aorist medium orang
pertama tunggal. Penggunaan Medium dalam bahasa Yunani menunjukan suatu
kesungguhan atau dedikasi dalam tindakan,[184]
dan aorist menunjukan tindakan yang dulu pernah dilakukan tetapi tidak
berulang-ulang atau tindakan yang hanya sekali dilakukan.[185]
Maka kata ἐξελεξάμην menunjukan bahwa Yesus sungguh-sungguh dalam memilih
keduabelas murid dan dilakukan sekali. kata
ἐξελεξάμην BDAG memberikan pengertian
select someone/someth. for oneself,
dan Thayer
memberikan pengertian to pick or choose out for oneself.[186]
Keduanya menyatakan bahwa
Pemilihan yang dilakukan untuk atau bagi diri sendiri.
Yohanes 6:70 Tuhan Yesus tidak mengungkapkan
siapa pengkhianat itu, tetapi Ia memperingatkan mereka bahwa tidak semuanya
dari mereka satu pikiran.[187]
Sebab dalam Kemahatahuan-Nya Yesus tahu sejak semula siapa yang percaya dan
siapa yang tidak percaya kepada-Nya (bdk Yoh 6:64; Yoh 13:11). Yoh 6:71,
menerangkan bahwa yang dimaksudkan adalah Yudas Iskariot, sebab dialah
yang akan menyerahkan Yesus,[188] Maka pemilihan yang dilakukan Yesus dapat
disimpulkan merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu Ia berdoa
semalaman untuk menentukan keduabelas murid-Nya. Pemilihan ini bertujuan bagi
Kristus sendiri, yaitu untuk menyertai-Nya, untuk memberitakan pengajaran-Nya
dan juga untuk menggenapi nubuat tentang Kristus (bdk Yoh 13:18). Ini bukan berarti
bahwa Yesus memang berencana mematikan Yudas.[189]
Pemilihan Yudas merupakan suatu keharusan untuk
menggenapi nubuat tentang Kristus, Yoh 13:18 mengatakan “Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap
nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.” Kata tetapi haruslah dalam teks Yunani
menggunakan kata ἀλλ᾽ ἵνα yang berarti tetapi supaya, ini menunjukan pengkhianatan merupakan penggenapan
dari kitab Suci dan karenanya merupakan bagian dari rencana Tuhan.[190] berkaitan dengan hal ini Calvin
mengatakan:
“kadang-kadang kaum
reprobat dikaruniakan karunia Roh untuk melakukan pekerjaan Allah tetapi tidak
dikaruniakan pengudusan. Ini adalah perbedaan antara anak-anak Allah dan
orang-orang tidak percaya, bahwa yang pertama diselamatkan oleh Roh adopsi,
sedangkan yang kedua dihancurkan oleh kedagingan mereka yang tidak dapat
dikendalikan.”[191]
Pemilihan Yudas sebagai murid merupakan rencana
dari Allah, dan pengkhianatan yang dilakukannya memang telah dinubuatan dalam
kitab suci, akan tetapi hal ini bukan berarti Yudas terbebas dari dosa sebagai
orang yang menjual Yesus, sebab pengkhianatan yang ia lakukan berdasarkan oleh
kehendaknya sendiri, meskipun telah dinubuatkan. Sehingga pemilihan ini tidak
perlu dikaitan dengan keselamatan, tetapi pemilihan merupakan Implikasi dari
kedaulatan Allah.[192]
dalam kedaualatan-Nya Allah dapat memilih siapa saja, dan dapat menggunakan
kehendak Bebas manusia atau rancangan jahat
manusia untuk menggenapi rencana-Nya.
2.
Memperingatkan Yudas Iskariot
Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang
murid telah dinubuatkan di dalam kitab suci, (bdk Maz 41:9; Zak 11:12-13), dan
merupakan suatu ketetapan yang harus terjadi bahwa Kristus dikhianati oleh
salah seorang yang dekat dengan-Nya (bdk Mat 26:24; Mark 14:21; Luk 22:22 dan
Yoh 13:21). Akan tetapi ketetapan ini tidak melepaskan orang yang menyerahkan
Yesus dari tanggung jawabnya.
Keempat injil menuliskan, Yesus secara tidak
langsung memperingatkan Yudas. Dalam perjalanannya menuju Yerusalem Tuhan Yesus
telah mengatakan sebanyak tiga kali bahwa Dia akan dikhianati dan akan mati di
Yerusalem. Injil Yohanes 6:64, 70-71;
13:10-11, dalam kemahatahuan-Nya Yesus mengetahui adanya murid yang tidak
percaya dan yang akan mengkhianati-Nya, Dia tahu bahwa iblis akan memiliki
Yudas dan menggunakan pengkhianat sebagai boneka untuk mencapai tujuan setan.[193]
Dalam teks-teks ini meskipun Yesus tidak menyebutkan siapa yang dimaksud
oleh-Nya akan tetapi penyebutan salah satu dari murid merupakan Iblis, tidak
percaya, tidak bersih. Ini dimaksudkan untuk memperingatkan Yudas, Tetapi
Yudas tidak memperhatikan peringatan itu.[194]
Ketiga Injil Sinoptik mencatat peringatan yang secara
tegas dilakukan Yesus kepada para murid dalam perjamuan terakhir Yesus dengan
para murid sebelum Ia disalibkan. Yesus mengatakan bahwa “Anak manusia memang
harus pergi sesuai dengan apa yang ada tertulis tentang Dia, tetapi celakalah!
orang yang olehnya Anak manusia itu diserahkan”. Teks ini secara jelas
memberikan pernyataan tentang ketetapan Allah dan tanggung jawab manusia.
kata Celakalah! dari kata Yunani οὐαὶ (interjction) menunjukan kesedihan atau penolakan,[195]
yang dapat diterjemahkan dengan kata alas
(menyatakan kesusahan) Atau woe (kesengsaraan)
dalam beberapa terjemahan bahasa inggris seperti NIV, KJV, NASB dan RSV kata
ini diterjemahkan dengan kata woe!, yang memiliki pengertian kesengsaraan pada
yang berdosa atau terkutuklah barang siapa yang berdosa.[196]
Menurut kamus Webster kata ini digunakan untuk mengungkapkan kesedihan,
penyesalan, atau kesusahan.[197] Kata οὐαὶ mengungkapkan
penyesalan Yesus. Penyesalan Yesus bukan disebabkan karena Ia harus mati, namun
disebabkan oleh tindakan penghianatan Yudas yang membawa ia berdosa karena
keinginannya sendiri.[198]
Sampai saat terakhir Tuhan Yesus tetap berusaha memperingatkan Yudas akan
perbuatannya. Kata “apa pun yang hendak
kau perbuatlah segera, merupakan peringatan terakhir, mungkin himbauan terakhir
apa yang hendak dilakukan Yudas, mengkhianati atau setia kepada Kristus.[199]
Yesus memperingatkan dan memarahi Yudas, tetapi peringatan-peringatan tersebut
bukannya menginsafkan dan membawanya pada penyesalan, melainkan mendorong dia
semakin jauh ke jalan kejahatan.[200]
Karena itu Yudas lebih memilih untuk mengkhianati Yesus.
Pengkhianatan Yudas merupakan kejahatan besar yang nampaknya perlu untuk
menggenapi rencana Allah, akan tetapi tidak membebaskan tanggung jawab Yudas.[201]
kondisi seperti ini disebut kompatibilisme[202].
Artinya kedaulatan Allah yang tanpa syarat dan tanggung jawab manusia dapat
sesuai.[203] Kasus kompatibilisme dalam Alkitab dapat
dilihat pada cerita Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya (bdk Kej 50:20).
Maka tepatlah yang Calvin katakan,
“bukan tindakan pengkhianatan Yudas seharusnya semata-mata dikatakan pekerjaan
Allah, tetapi karena Allah membalikkan pengkhianatan Yudas untuk mencapai
Tujuan-Nya sendiri.”[204]
Sehingga rancangan jahat dari Yudas menjadi suatu alat untuk menggenapi
ketetapan Allah dalam Kristus.
Pengkhianatan Yudas menunjukan bahwa Allah berdaulat menggunakan rancangan
jahat atau kehendak bebas manusia untuk tujuan-Nya. ini bukan berarti Allah
memanfaatkan secara sepihak kehendak bebas manusia yang telah tercemar bagi
kepentingan-Nya, tetapi menunjukan kehendak bebas manusia ada dalam kedaulatan
Allah. …
D.
KAITAN KETETAPAN
YUDAS YANG DI TETAPKAN BINASA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI.
Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu dari murid Kristus memang
telah dinubuatkan oleh Allah, dalam kitab suci. Akan tetapi bukan berarti bahwa
peristiwa itu dipicu oleh nubuatan.[205]
Maka ketetapan akan adanya pengkhianatan tidak melepaskan tanggung jawab dari
orang terdekat yang mengkhianati-Nya.
- selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk
binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. (εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ γραφὴ πληρωθῇ). Yohanes
17:12
Yohanes pasal 17 merupakan doa syafaat Yesus. peralihan doa syafaat Yesus
kepada para murid terjadi pada ayat 6.
Yohanes 17:6-8 merupakan alasan dari doa syafaat Yesus. Ia telah
menyelesaikan pekerjaan-Nya seluruhnya sesuai kehendak Bapa-Nya.[206]
penekanan Yesus mendoakan para murid terdapat dalam ayat 9, kata berdoa diulang
sebanyak dua kali, Kristus berdoa untuk para murid dan juga pemberitaan para
murid. Penjabaran doa Kristus untuk para murid terdapat dalam ayat 11 sampai
26.
Isi dari doa Tuhan Yesus bagi para murid secara
keseluruhan dapat disimpulkan ialah pemeliharaan Allah bagi para murid. Akan
tetapi dalam ayat 12 terdapat pengecualian bagi salah satu murid.
“Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara
mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku
telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain
dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis
dalam Kitab Suci.(Yoh17:12)
Dalam teks ini terdapat kata ἐτήρουν bentuk leksikal
threw dalam bentuk imperpekt indikatif aktif orang pertama tunggal. Imperpek
indikatif aktif menunjukan suatu kegiatan sedang dilakukan atau dilakukan
berulang-ulang dalam waktu yang lampau.[207]
NIV, KJV dan RSV menggunakan kata kept. Maka kata ini dapat diartikan sudah menjaga atau telah menjaga. Kata threw memiliki arti, perhatian penuh,
menunjukan kepemilikan,[208]
mempertahankan, berjaga-jaga. Kata ἐτήρουν dapat diartikan
Aku telah menjaga. Maka kata ἐτήρουν memiliki
pengertian Kristus telah sungguh-sungguh menjaga para murid.
Selain
dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis
dalam Kitab Suci. Bagian ini menunjukan bahwa salah satu murid Kristus
memang telah ditetapkan binasa, mengajarkan predestinasi yang berkaitan dengan
kebinasaan. Dalam bahasa Yunani menggunakan kata εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ
γραφὴ πληρωθῇ.
Kata εἰ μὴ merupakan konjuksi. Kata ini
berarti tidak kalau, dalam terjemahan
Bahasa inggris KJV, dan NASB menggunakan kata but, NIV menggunakan kata except. Dan dalam terjemahan ITB mmenggunakan kata
selain. kata εἰ μὴ yang merupakan kalimat
intrasitif menunjukan adanya perbedaan yang ada terjadi pada pada induk kalimat
dan anak kalimat. Kata εἰ μὴ menunjukan adanya penekanan
akhir yang berbeda antara murid yang memang akan selamat, dan murid yang tidak
akan selamat.
εἰ μὴ ὁ υἱὸς τῆς ἀπωλείας, ἵνα ἡ
γραφὴ πληρωθῇ. Dalam bentuk kasus nomitatif
orang pertama tunggal maskulin, disertai dengan kasus genetif orang pertama
tunggal feminim. Nominatif menunjukan subyek, dan genetif menunjukan
kepemilikan.[209] υἱὸς berarti anak, dan ἀπωλείας dari leksikal apwleia artinya Perishing (binasa), ruin (kejatuhan,
kehancuran), destruction (rusak atau binasa), kata ini bersifat pasif,[210]
maka arti kata ini anak dari kebinasaan. Terjemahan NIV, dan NAS menggunakan
kata son of perdition (anak
kebinasaan) dan NIV menerjemahkan doomed
to destruction (menghukum untuk kehancuran) kata ἀπωλείας, menujukan nasib akhir yang telah ditentukan dari murid
yang tidak termasuk dalam bagian yang dipelihara oleh Kristus. BDAG Lexicon memberikan pengertian Those destined to destruction (ditakdirkan
untuk dihancurkan), hal ini sejalan
dengan Thayer dalam Thayer Lexicon yang memberi pengertian a man doomed to eternal misery (seorang yang ditakdirkan untuk
kesengsaraan kekal).
Meskipun dalam teks ini tidak menyebutkan secara jelas
siapa murid yang dimaksudkan, akan tetapi banyak bukti dalam Injil yang
mengarah kepada Yudas Iskariot adalah murid yang dimaksud. Matthew Henry mengatakan “dia adalah orang
yang ditentukan untuk binasa, sehingga bukanlah salah satu dari mereka yang
diberikan kepada Kristus untuk dipelihara, dia adalah anak dari siperusak,
berasal dari sijahat.”[211]
Collin G. kruse mengatakan ‘son of destuction’
can denonete either person’s character or destiny or both. The reference
is to Judas Iskariot, who did not remain loyal and who had already gone out to
betray Jesus.[212]
sedangkan Merril C tenney mengatakan:
Except Judas "the one doomed to destruction"
this Semitic phrase denotes phrase denoted an abandoned character, one utterly
lost and given over to evil. the language does not imply that Judas was a
helpless victim who was destined to perdition against his will. rather, it
implies that having made his decision, he had passed the point of no return;
and, by so doing, he carried out what the scriptures had indicated would
happen.”[213]
Perihal teks ini John Calvin mengatakan:
Judas is excepted, and not without reason; for, though he was not
one of the elect and of the true flock of God, yet the dignity of his office
gave him the appearance of it. that the
Scripture might be fulfilled. But it would be a most unfounded argument if
anyone were to infer from this, that the revolt of Judas ought to be ascribed
to God rather than to himself; because the prediction laid him under a
necessity.[214]
Yudas
memang dipilih oleh Yesus sendiri untuk menjadi murid, akan tetapi ia tidak
termasuk orang pilihan yang akan diselamatkan, bukan karena Kristus tidak
memberinya kesempatan tetapi karena kehendak bebasnya, ia menolak kesempatan
tersebut. Penulis setuju dengan Tenney yang mengatakan, Yoh 17:12 tidak
menunjukan Yudas, sebagai orang yang tidak berdaya yang ditakdirkan untuk
dihancurkan oleh karena kehendaknya, melainkan Karena Yudas telah melewatkan
kesempatan dengan melakukan pengkhianatan dan dengan melakukannya ia telah
melakukan apa yang ditulis kitab suci.[215]
Begitupun dengan pandangan Calvin yang mengatakan bahwa, pemilihan Yudas
menjadi salah satu murid Kristus agar kitab suci digenapi tetapi, bukan berarti
pengkhianatan Yudas berasal dari Allah agar nubuatan digenapi,[216]
Melainkan ia Berkhianat berdasarkan k einginannya sendiri.
- Menyesal (μεταμεληθεὶς) Mat 27:3
Injil Matius adalah satu-satunya
Injil yang mengkisahkan akan penyesalan Yudas, dan bagaimana ia mati. Dalam
Matius 27: 1-10, dikisahkan setelah Yudas mendengar bahwa Yesus akan dihukum
mati, ia menyesal[217]
dan berusaha membebaskan Yesus dengan menyerahkan kembali uang tiga puluh
keping perak kepada para imam, tetapi usahanya sia-sia, dan Yudas mengambil
keputusan bunuh diri.
Kata menyesal dalam teks ini adalah μεταμεληθεὶς dengan bentuk nomitatif aorist pasif
dalam bentuk leksikal, μεταμέλομαι yang artinya menyesal.[218] Kata μεταμέλομαι sinonim dengan kata μετανοέω, namun terpadat perbedaan arti antara kedua kata ini,
kata yang pertama hanya mengungkapkan perubahan emosional atau pikiran, tetapi
yang kedua mengarah pada perubahan pilihan.[219]
ini juga berarti Suatu perasaan penyesalan yang mengharapkan hal yang telah
terjadi dapat dibatalkan.[220]
Atau perubahan kesadaran yang tidak begitu banyak akan perbuatannya.[221]
Penggunaan kata μετανοέω, ini menunjukan bahwa,
penyesalan Yudas yang diakibatkan oleh kesadaran bahwa perbuatannya menyerahkan
Yesus telah membawa Yesus pada kematian adalah kesalahan besar. Akan tetapi
penyesalan Yudas tidak sampai pada pertobatannya. Tindakan Yudas yang
mengembalikkan tigapuluh keping perak kepada para imam merupakan bentuk
peyesalannya akan tetapi, referensi disini bukanlah pertobatan tetapi oleh
penyesalan.[222]
Dorongan rasa bersalah yang begitu kuat, membuat Yudas
berusaha untuk membatalkan penghukuman yang telah diputuskan terhadap Yesus. Ia
mengakui kebersalahannya dihadapan para imam yang menghukum Yesus dan
mengembalikan uang tiga puluh keping perak kepada mereka, dengan harapan
hukuman Yesus dapat dibatalkan. Tetapi para imam tidak memperdulikan Yudas,
jawaban “apa urusan kami dengan itu?” dari
imam kepada Yudas menunjukkan ketidak pedulian imam, bagi mereka perasaan
bersalah adalah urusan Yudas sendiri, Yudas hanyalah alat untuk memperoleh
tujuan mereka.[223]
Yudas yang telah berusaha namun gagal menjadi semakin dihantui rasa bersalah,
dan mengambil keputusan bunuh diri.
Iblis, yang telah memakai Yudas untuk mengkhianati Tuhan
Yesus (Bdk Luk 22:7; Yoh 13:27), memberikan upahnya kepada Yudas dengan
mendorongnya kepada pembinasaannya sendiri.[224]
Kematian Yudas dengan cara gantung diri dalam
Mat 27: 5, dan kondisi mayatnya yang mengerikan dengan perut terbelah
dan isi perutnya keluar semua dalam KPR 1:18. Menunjukan secara tidak langsung
akan nasib tragis yang menimpa Yudas, oleh karena perbuatannya sendiri. selain
itu penekanan Yudas mengalami kebinasaan terdapat dalam KPR 1:25, Petrus
mengatakan bahwa, Yudas telah pergi ketempat yang wajar baginya. Dalam hal ini
Petrus ingin mengatakan bahwa Yudas telah meninggalkan perannya dan “pergi
ketempatnya” sebuah referensi yang
menunjuk penghukuman kekal.[225] Menurut C. K. Barrett, kata
tempat (τόπον) dalam teks ini merujuk kepada
pengkhianatan atau kosekuensinya.[226]
Pemilihan menjadikan murid dan
pemberian keselamatan merupakan kedaulatan dari Allah. Menurut penulis Injil
Yohanes 6:70; 17:12, memberikan suatu pemahaman bahwa pemilihan menjadi murid
dan pemilihan untuk tidak binasa adalah dua hal yang berbeda tetapi keduanya
ada dalam kedaulatan Allah. pemilihan Yudas ditetapkannya ia menjadi binasa ada
dalam kedaulatan Allah untuk menggenapi perkataan-Nya, akan tetapi Yudas
menjadi binasa merupakan tanggung jawabnya sendiri sebab ia pada dasarnya tidak
percaya kepada Kristus.
BAB
IV
IMPLIKASI
PEMILIHAN YUDAS ISKARIOT DAN KAITANNYA DENGAN DOKTRIN PREDESTINASI BAGI ORANG
PERCAYA.
Berdasarkan pembahasan
yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis akan membahas atau
menjelaskan implikasi pemilihan Yudas Iskriot dan kaitannya dengan doktrin
Prededestinasi bagi orang percaya, dari hasil penelitian pustaka pada Bab III.
Perhatian Khusus akan diberikan kepada pembahasan Pemilihan Allah bagi orang
Kristen dan kaitannya dengan Predestinasi. Hal ini menjadi sangat perlu menjadi
perhatian bagi orang percaya agar tidak salah memahami pemilihan Allah dalam
menjadikan orang “Kristen” dan
kaitanya dengan ketetapan akhir bagi orang Kristen.
- Ketetapan
pemilihan
Pemilihan
Ilahi adalah Allah memilih sejumlah orang untuk masuk sorga, yang lain tidak
dipilih dan akan masuk ke neraka.[227] Oliver Buswell mengatakan bahwa, penetapan
Allah adalah maksud Allah yang kekal
sesuai kehendak-Nya, yaitu untuk kemuliaan-Nya sendiri, Ia telah menetapkan apa
saja yang akan datang.[228]
Pemilihan adalah alat yang Allah gunakan untuk melaksanakan (merealisisasikan)
kehedak-Nya.[229]
Karena
itu Allah berdaulat memilih siapa saja untuk merealisasikan kehendak-Nya, dan
Allah pun berdaulat memilih siapa yang akan memperoleh kehidupan kekal dan
siapa yang tidak akan memperolehnya.
Ketetapan pemilihan Allah dalam kasus Yudas menurut penulis dapat dibedakan
menjadi dua bagian yaitu,
- Pemilihan
Menjadi Pengikut Kristus
Yudas
Iskariot menjadi murid Yesus bukanlah berdasarkan keingiannya sendiri, tetapi
Yesuslah yang memilihnya. Yesus tidak akan memilih Yudas seandainya tidak
meperlihatkan perhatian yang besar terhadap diri dan pekerjaan-Nya.[230]
Dalam Kemahatahuan-Nya Yesus tahu siapa sebenarnya Yudas, Ia mengetahui Yudas
adalah seorang yang tamak, yang mengikuti Yesus bukan karena ia “percaya”
kepada-Nya, tetapi ia mempunyai motivasi dalam mengikuti Yesus yaitu, untuk
mencapai keuntungan Pribadi.
Pemanggilan atau pemilihan Yudas
Iskariot menjadi bagian dari kedua belas murid merupakan kedaulatan atau
inisiatif dari Kristus. Di dalam Injil tidak satupun disebutkan hal-hal yang
menyebabkan para murid layak menjadi murid, karena itu Pemilihan Murid
merupakan inisiatif dari Yesus sendiri. Injil Yohanes 6:70 a mengatakan, “Bukankah Aku sendiri Yang telah memilih
kalian kedua belas rasul ini?” Hal ini merupakan suatu pertanyaan-retoris,
yang mengharapkan jawaban, ya benar.[231]
Kata Yunani Οὐκ ἐγὼ (oux ego) yang berarti bukankah Aku, kata Οὐκ (oux) dari leksikal ou yang berarti bukankah,
kata ini jika digabungkan dengan kata kerja, akan memberikan pengertian apa
yang dilakukan oleh kata kerja hanya dilakukan oleh subyek.[232]
Subyek dalam kalimat ini yaitu ἐγὼ (ego), yang menunjuk
pada Yesus. Kata memilih dari kata ἐξελεξάμην (ezelezamen) dari leksikal ἐκλέγω (eklego) dalam bentuk
aorist medium orang pertama tunggal, dalam bentuk kata kerja. kata ἐξελεξάμην memiliki pengertian satu
pekerjaan yang telah dilakukan dan hanya sekali saja. Kata ἐξελεξάμην berarti juga memilih satu
diantara banyak pilihan.[233] Kata ἐξελεξάμην merujuk pada pekerjaan yang dilakukan oleh subyek. Maka
dapat dikatakan, pemilihan menjadi murid Kristus merupakan suatu peristiwa yang
terjadi sekali saja dan berdasarkan atas kedaulatan-Nya
Menurut penulis kalimat bukankah Aku sendiri yang memilih yang merupakan pertanyaan retoris
dari Kristus bagi para murid, merupakan suatu pertanyaan penegasan yang
menegaskan bahwa, pemilihan menjadi murid merupakan kedaulatan dari Kristus
sendiri. Pemilihan yang semata-mata karena kedaulatan-Nya, bukan melihat apa
yang ada dari para murid. Dapat disimpulkan bahwa Yesus memilih satu dari
antara banyak pilihan, meskipun memiliki kriteria untuk dipilih akan tetapi,
pemilihan untuk menjadi murid Kristus mutlak kedaulatan dari Allah.
Pemilihan merupakan kedaulatan dari Yesus terdapat juga
dalam Yohanes 15:16, dalam konteks perintah saling mengasihi. Dalam ayat ini
kata ganti aku (ἐγὼ) dan kamu (ὑμεῖς), menekankan bahwa soal menjadi murid Yesus pada hakikatnya
adalah berdasarkan pilihan Tuhan, bukan hanya keputusan pribadi-pribadi yang
bersangkutan.[234] Pemilihan para murid oleh Kristus bukanlah
tanpa tujuan. Mereka dipilih dengan tujuan agar mereka berbuah. Ini adalah
pemilihan khusus, yang membawa para murid pada tugas pemberitaan Injil, dan ini
merupakan anugerah bukan karena jasa mereka,[235]
atau karena mereka lebih bijak atau lebih baik akibatnya membuat pilihan yang
tepat, tetapi semata-mata karena Yesus memilihnya.[236]
- Terpilih
menjadi murid tetapi tidak mengalami keselamatan
Pengajaran pemilihan ditetapkan menjadi murid Kristus
mudah dterima oleh orang percaya, akan tetapi pemilihan ditetapkan untuk
selamat atau ditetapkan binasa yang disebut dengan Predestinasi sering kali
menjadi perdebatan dalam kekristenan. Predestinasi jika dimengerti sebagai
fatalisme akan membawa kepada pemahaman, di mana manusia dianggap boneka Allah,
sehingga melihat Allah sebagai Pribadi yang kejam, yang sewenang-wenang.[237]
Karena itu penting memahami pengajaran ini dengan benar.
Menjadi murid Kristus, bukanlah karena apa yang ada dalam
diri manusia tetapi semata-mata karena inisiatif Yesus. Pemilihan-Nya merupakan
cara untuk merealisasikan kehendak Allah agar terjadi. Akan tetapi perlu
disadari pemilihan menjadi murid, bukan berarti secara otomatis terpilih untuk
menikmati keselamatan yang telah Allah sediakan. Pemilihan menjadi murid dan
pemilihan keselamatan merupakan kedua hal yang berbeda namun keduanya ada dalam
kedaulatan Allah.
Dari
kasus Yudas Iskariot kita dapat melihat suatu kebenaran pengajaran Alkitab
tentang pemilihan, yaitu bahwa dipilih menjadi pengikut Kristus bukan berarti
terpilih untuk memperoleh keselamatan. Perbedaan adanya pemilihan menjadi murid
Kristus tetapi juga tidak terpilih memperoleh keselamatan terjadi dalam kasus
Yudas, ditegaskan dalam Injil Yohanes 6:64,70; 13:10,18. Injil Yohanes
mengatakan dengan lebih jelas dibandingkan dengan injil-injil sinoptik tentang
tidak dipilihnya Yudas. Dalam pemilihan para murid dikatakan bahwa, Yesus
mengetahui sejak awal kepercayaan para murid, dan ia tahu terdapat satu murid
yang tidak percaya kepada-Nya.
kepastian adanya
murid yang tidak mendapatkan keselamatan secara jelas dinyatakan dalam Yoh
17:12. Kepastian akan kebinasaan Yudas, juga diperkuat dengan bagaimana dia
mengalami kematian, di dalam Mat 27: 4-5; dan Kis 1:25. Yohanes 17:12 dalam doa
syafaat Yesus bagi murid-murid-Nya, Yesus tidak membiarkan murid-murid-Nya
binasa terkecuali seorang yang merupakan anak kebinasaan. Mat 27: 4-5
Penyesalan Yudas karena telah menjual Yesus tidak membawa dia para pertobatan
akan tetapi justru membawa dia pada keberdosaan yang lebih jauh lagi yaitu,
keputusanya untuk bunuh diri.
Telah
dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa ketetapan adanya murid yang ditolak, bukan
berarti Allah telah menentukan kebinasaan murid tersebut, akan tetapi penolakan
yang Allah lakukan terhadap Yudas dilakukan berdasarkan perbuatan yang
dilakukan oleh Yudas. Yudas ditolak bukan karena saja ia mengkhianati Yesus,
tetapi juga dia tidak percaya kepada Kristus, sehingga ia tidak mengalami
perubahan karakter dan pola pandang tentang Yesus. Ketidak percayaan membuat
Yudas menolak segala kesempatan dan peringatan yang diberikan kepadanya dan
membiarkan dirinya diperalat oleh Iblis. Maka dapat dikatakan penolakan
terhadap Yudas adalah, reaksi Allah terhadap kesalahan dan pertentangan
manusia.[238] Menurut penulis ketidak percayaan Yudas
kepada Kristus merupakan penyebab utama dari kebinasaan yang di alami Yudas.
- Implikasinya pemilhan Yudas Iskariot
a.
Implikasinya bagi
orang percaya atau jemaat
Stepen tong mengatakan bahwa, Yudas memiliki banyak
kebahagiaan yang sangat dirindukan oleh orang percaya, ia dilahirkan sezaman
dengan Kristus, suatu kerinduan yang dirindukan oleh nabi-nabi dalam perjanjian
lama dan juga orang percaya zaman ini. Memiliki lingkungan yang menyenangkan,
ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik, Mendapatkan pengajaran secara
langsung dan pribadi dari guru yang teragung sepanjang sejarah. Memperoleh
panggilan dari Tuhan yang Maha mulia. Mendapatkan pelatihan dari Tuhan sendiri.
Ia mengatakan Yudas seharusnya menjadi seorang rasul yang luar biasa. Akan
tetapi justru ia mengalami nasib yang buruk.[239]
KebahagiaanYudas merupakan suatu anugerah yang sangat
dirindukan oleh setiap orang percaya. akan tetapi Yudas memiliki nasib yang
sangat buruk yang menimpanya menjadi suatu pertanyaan bagi orang percaya.
Melalui kasus Yudas, orang percaya perlu menyadari bahwa,
seseorang menjadi pelayan Kristus, tidak berarti ia termasuk kaum pilihan
Allah, yang tidak akan mengalami kebinasaan. Menjadi pelayan atau hamba Allah
merupakan pemilihan Allah bagi orang yang ia kehendaki, Yudas dipilih menjadi
murid yang hanya merupakan suatu jabatan semata.
Pemilihan seperti
Yudas dapat terjadi juga pada hamba-hamba Tuhan yang melayani orang percaya
pada masa kini. Orang percaya masa kini perlu menyadari bahwa, meskipun ada
orang yang terpilih menjadi hamba Tuhan diberikan karunia-karunia rohani yang
menyertainya, belum tentu ia terpilih untuk mengalami berkat keselamatan. Perlu
disadari hamba Tuhan merupakan suatu jabatan gerejawi yang dianugerahkan oleh
Tuhan kepada siapa saja Dikehendaki-Nya. Dia memilih seseorang untuk menggenapi
rencana-Nya bagi keselamatan orang-orang yang telah ditentukan-Nya sejak
semula. Hal ini berarti Allah dapat menggunakan siapa saja untuk menggenapi
rencana-Nya termasuk kaum reprobate.
Menurut penulis yang terpenting bagi orang percaya adalah mendengarkan
apa yang disampaikan oleh orang yang menjadi hamba Tuhan, selama itu berasal
dari Firman Tuhan dan merupakan kebenaran ilahi. Dalam menanggapi hal ini orang
percaya perlu mengingat dan mengaplikasika perkataan Tuhan Yesus tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi,
dalam Matius 23:3. perlu disadari, bagaimanapun “hamba Tuhan” adalah orang yang
dipiih oleh Allah secara langsung untuk mengajarkan kebenaran Firman
Tuhan, meskipun ada yang tidak
melakukannya, sudah menjadi kewajiban bagi orang percaya untuk mendengarkan
Firman Tuhan yang disampaikan.
b.
Implikasinya bagi
Hamba Tuhan
Dari pemilihan Yudas Iskariot sebagai murid yang juga
mengalami kebinasaan. Seorang hamba Tuhan dapat belajar akan suatu hal yaitu,
hamba Tuhan perlu menyadari bahwa menjadi pelayan Tuhan merupakan kedaulatan
dari Allah. Ketika seseorang memutuskan diri menajdi seorang hamba Tuhan, Allah
mengetahui apa motivasi orang tersebut menjadi hamba Tuhan, dan apa yang akan
ia lakukan ketika mengikut Kristus. Allah bisa saja membatalkan keinginan
seseorang yang bermotivasi buruk ketika ingin menjadi hamba Tuhan, akan tetapi
Allah pun berdaulat untuk tetap menjadikannya seorang hamba Tuhan. Pemilihan
Allah menjadikan seseorang menjadi hamba Tuhan perlu disadari bahwa, hal ini
tidak berkaitan dengan pemilihan keselamatan, pemilihan-Nya berkaitan dengan
merealisasikan rencana Allah sejak kekekalam bagi keselamatan umat pilihan-Nya.
Maka dapat disimpulkan bahwa, Allah berdaulat memakai siapa saja untuk
merealisasikan rencana-Nya temasuk dari kaum yang di binasakan.
Dari apa yang dialami dan yang dilakukan oleh Yudas,
seorang mahasiswa teologi dapat mengambil pelajaran penting mengenai
pemanggilan-Nya sebagai seorang hamba Tuhan. Sama seperti Yudas, seorang
mahasiswa Teologi dipanggil oleh Tuhan, dikelilingi oleh lingkungan yang baik,
mendapatkan pelatihan dan pelajaran yang terbaik dan diperlengkapi untuk
pelayanan. Akan tetapi jika kesemuanya itu tidak membawa pada perubahan yang
signifikan terhadap karakter dan sifat dari seorang mahasiswa teologi, bahkan
membawa kepada suatu sikap yang lebih buruk dari sebelum ia masuk sekolah
teologi, maka ia perlu mengintropeksi diri mengenai motivasinya menjadi hamba
Tuhan, sehingga dapat menyadari sedini mungkin adanya kecenderungan
memanfaatkan Kristus untuk kepentingan pribadi yang bisa saja terdapat pada
mahasiswa teologi.
c.
Implikasinya bagi
kaum Reprobat (Tidak dipilih)
Predestinasi merupakan bagian dari penetapan Allah sejak
semula. Predestinasi atau pemilihan ilahi terdiri dari dua bagian:
pemilihan (election) dan penolakan/reprobasi.[240]
Pemahaman predestinasi sering kali membawa pada pemahaman yang keliru, yang
menganggap Allah pilih kasih dan kejam. Menurut penulis lebih mudah menerima
Allah sebagai Allah yang maha kasih, yang menganugerahkan keselamatan bagi
manusia dibandingkan, Allah yang sejak semula telah menetapkan adanya manusia
tidak diselamatkan, bahkan, Calvin katakan mencegah untuk memperolehnya.[241]
Penolakan Allah terhadap manusia yang tidak dipiihnya, memang telah ditetapkan
sejak semula, akan tetapi tidak berarti melepaskan dari tanggung jawab dari
manusia uang mengalami penolakan Allah. sebab penolakan adalah reaksi Allah
dari kehendak bebas manusia yang telah rusak yang menolak dan menentang Allah.
Melalui kasus Yudas Iskariot, dapat mengambil suatu
pelajaran penting tentang kaum reprobate. Yudas mewakili keseluruhan manusia
secara keseluruhan, yaitu manusia sebenarnya telah mengalami kerusakan total,
yang meskipun diberikan kesempatan terbaik, tetapi tanpa adanya anugerah dari
Tuhan tidak akan mengalami pertobatan. Dari kisah Yudas Iskariot mengajarkan
bahwa, Allah mengasihi kaum Reprobat, hal tersebut terbukti dari beberapa kali
Kristus memperingati Yudas dan memberikan kesempatan baginya, akan tetapi Yudas
menolaknya. Jika pada hari kiamat nanti ada manusia yang mengatakan “Aku tidak
diselamatkan karena aku tidak mendapat kesempatan” Tuhan akan mengatakan
“Yudas, jawab!”.
Pemilihan
dan pemanggilan Yudas membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi, dan
adil. Penetapan Allah terhadap orang yang tidak dipilih bukan karena Allah
tidak “mengasihi”, tetapi Allah tidak
mengkaruniakan iman kepada mereka sehingga mereka tidak dapat percaya kepada
Kristus. tanpa kepercayaan kepada Yesus manusia tidak mungkin akan datang
kepada Allah, dan tidak mungkin mendapat keselamatan.
BAB
V
Kesimpulan
dan Saran.
A. KESIMPULAN
Berbagai
pandangan telah ada mengenai pemilihan Yudas Iskriot menjadi seorang murid,
tetapi juga mengalami kebinasaan kekal yang dikaitkan dengan doktrin
predestinasi. Yudas iskariot adalah sosok yang kontroversial di dalam agama
Kekristenan, ia seorang salah satu dari kedua belas murid yang dipilih langsung
oleh Kristus, akan tetapi ia mengambil keputusan untuk menyerahkan Yesus kepada
para musuh-Nya. Motivasi dari Yudas dalam mengkhianati Yesus tidak dijelaskan
secara jelas oleh Injil, sehinga terdapat pendangan yang berbeda-beda mengenati
motivasi Yudas dalam mengkhianati Yesus, ada pandangan yang mengatakan motivasi
Yudas adalah rasa nasionalisya yang tinggi, Terdapat juga pendapat yang
mengatakan bahwa, Yudas kecewa terhadap Yesus, ia menjadi murid Yesus Karena ia
ingin menjadi bagaian dari pemerintahan yang akan didirikan oleh Yesus di
Israel, akan tetapi pemberitahuan tentang kematian Yesus membuatnya kecewa. Pandangan yang ketiga ialah cinta uang. Yudas
yang merasa kehilangan kesempatan menambah pundi-pundi pribadi ketika perempuan
mengurapi Kristus dengan minyak narwastu yang mahal, ia berusaha mencari
pengganti dengan menjual Yesus kepada para musuh-Nya. Namun dari ketiga
pandangan ini dapat disimpulkkan bahwa motivasi Yudas menjual Yesus adalah
sikap Yudas yang mementingkan diri sendiri, seorang yang cinta Uang, tamak,
yang memandang Yesus sebagai alat
yang dapat memenuhi keinginan pribadinya.
Pemilihan
Yudas menjadi seorang Murid Kristus membuktikan bahwa Yesus berdaulat untuk
menentukan siapa saja yang ia pilih menjadi murid-Nya. Yesus dalam
kemahatahuan-Nya tentu tahu apa yang menjadi motivasi Yudas Iskariot dan para
murid yang lain menjadi murid-Nya. jika melihat dari motivasi Yudas ataupun para murid Yesus bisa
saja tidak memilih mereka menjadi para murid, akan tetapi dalam pemilihan-Nya,
Yesus melihat kepada pekerjaaan dan rangcangan Allah yang harus digenapi di
dalam Dia. Pemilihan Yudas membuktikan bahwa tidak ada satupun alasan yang
dapat dilihat dalam diri manusia bahwa manusia layak dipilih oleh Allah untuk
menjadi alat-Nya. pemilihan Yudas juga mengajarkan bahwa, pemiilihan menjadi
alat Tuhan tidak berarti terpilih sebagai umat Allah, akan tetapi keduanya ada
dalam kedaulatan Allah.
Pemilihan
Yudas sebagai seorang murid selain membuktian bahwa Allah berdaulat memilih dan
menolak seseorang menurut kehendak-Nya, tetapi juga sekaligus membuktikan kasih
Allah kepada semua orang. pemiliihan Yudas menjawab pandangan yang menolak
predsetinasi, pandangan yang mengatakan bahwa, orang yang telah ditetapkan
binasa tidak memiliki kesempatan dalam mengenal Allah, dan tidak dikasihi oleh
Allah. Pemilihan Yudas membuktikan Allah tetap memberikan kesempatan kepada
orang yang ditolak. Hal ini juga menegaskan bahwa, orang yang telah ditolak
oleh Allah tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya, sebab mereka menolak Allah,
dan berbuat melawan Allah dilakukan berdasarkan kehendak bebasnya, bukan telah
ditentukan oleh Allah.
Pemilihan
Yudas membuktikan bahwa kehendak bebas manusia berada di dalam kedaulatan
Allah. Allah berdaulat menggunakan kehendak bebas manusia yang
merancangkan hal-hal yang buruk menjadi
suatu kejadian yang dapat menggenapi rencana-Nya yang telah ia tetapkan. Tanpa
melepaskan tanggung jawab dari orang tersebut.
B. SARAN
Pemahaman
akan pemilihan Yudas Iskariot menjadi seorang murid Kristus sering kali membawa
pada kesalah pahaman tentang pemilihan dan Predestinasi. Memahami pemilihan
Yudas merupakan hal yang penting dalam memahami predestinasi terkhususnya bagi
orang percaya. perlu disadari oleh orang percaya pemilihan menjadi seorang
murid berbeda dengan pemilihan ditetapkan selamat oleh Allah, meskipun keduanya
ada dalam kedaulatan Allah. Pemilihan Yudas juga membuktian bahwa Allah
berdaulat menggunakan siapa saja untuk menjadi alat-Nya.
Penulis memberikan saran kepada setiap pembaca
maupun orang percaya untuk memahami doktrin Predestinasi dengan tepat sehingga
mempunyai sikap yang benar, tentang doktrin Predestinasi, dan sikap yang tepat
terhadap hamba Tuhan yang tidak menjadi teladan untuk tetap mendengarkan
ajaran-Nya selama ajaran tersebut berasal dari kebenaran Firman Allah. selain
itu orang percaya perlu intropeksi diri sendiri terhadap sikap dan karakter selama mengikut Yesus, orang percaya
haruslah mengalami perubahan karakter dan moral serta pengudusan diri secara
terus-menerus, jangan sampai kedekatan kita dengan Kristus justru membawa kita
semakin buruk, sama seperti yang Yudas alami.
[1] Stephen
Tong, kebahagiaan Yudas, (Surabaya:Momentum,2013),
Hal. 15
[2] Sinclair
B. Ferguson, kehidupan Kristen sebuah
pengantar doctrinal, (Surabaya: Momentum, 2011) Hal. 154
[3] Herbert
Krosney, The lost gospel, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2006) Hal.46
[5]
Libronic, Easton’s Bible Dictionary,
ebook
[8] Bible
works v.9
[9] Stepen
M. Miller, Tokoh dan Tempat dalam
Alkitab,(Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2017) hal, 566.
[12] Thayer,
Bibleworks v.09
[14] Edwin
H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme,
(Surabaya: Momentum, 2016) Hal.27
[15] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2007), Hal.294
[16] Hadiwijono, Iman Kristen, Hal 297
[17] Arthur
W. Pink, The Sovereignty Of God, terj the
Boen Giok (Surabaya: Momentum, 2005), Hal. 128
[19] Arth W.
Pink, Jaminan Kekal (USA: Baker Book
House, 1996), hal 25
[20] Yohanes Calvin, Instutio,Terj Winarsih, dkk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal 200-204
[21] Milliard J. Erikson, Teologi Kristen vol 3, (Malang: Gandum
Mas, 2012), 117-119
[22] R.C.
Sproul, kaum pilihan Allah, (Malang:
SAAT,1995), Hal. 21
[23] Henry C Thieessen, Teologi Sisitematika,(Malang: Gandum Mas
2015), hal. 393
[24]
Yosep Suitela, Peranan Yudas Iskariot
Sebagai Suatu Paradoks Dalam Sejarah Keselamatan, Skripsi (Batu: Providensia,
2009) Hal. 30
[25] https://Www.Ahdictionary.Com/Word/Search.Html?Q=Judas,
Diakses 19-02-19
[26] K Lake,
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,1995) Hal. 634
[28] Donald Judd, Emcyclopedia Of Knowledge 10 (USA: Grolier Incorporated), Page. 405
[29] Http://Www.Gys.Or.Id//
Seri Tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di Askes 09-02-19
[30] Http://Www.Gys.Or.Id//
Seri Tokoh Alkitab:// Yudas Iskariot. Di Askes 09-02-19
[33] Ibid
31.
[34]
Ratih Zimmer Gandasetiawan, Mendesain
Karakter Anak Melalui Sensomotorik, (Jakrata: Libri,2011) Hal. 16
[38] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 Hal.
[39]
Suitela, Peranan Yudas, Hal 32
[40] Bible
Works 9
[41]
J.W,Wenham, Bahasa Yunani Koine, Diterj,
Lyne Newel, (Malang: SAAT, 1987), Hal.
77
[42] Bible
Works Lexicon
[45] Harry A
Hollet, Clarence E. Macartney, Dua Belas
Murid Tuhan Ditambah Paulus (Malang: Gandum Mas 1998) Hal 103
[46] Ibid,
104
[47] Ibid
104
[48] Donald
K. Campbell,Encylopedia Of The Bible Vol.2 (Michigan: Barker Book House,1995)
Page. 1239.
[51] N.T
Wright, Menjawab Injil Yudas, (Yogyakarta:
Gradien Book,2006) Hal 24.
[52]
Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, Gregor Wurst, The Gospel Of Judas (Jakarta: Gandum Mas, 2006) Hal. Xxiv
[53] Herbert
Krosney, The Lost Gospel (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2006) Hal.41
Kata
Yang Meragaiku Secara Harafiah Berarti
“Yang Mengandungku” Atau “Yang Membawaku”
(Koptik Dari Yunani Etrphoreiemmoel) Yudas Diperintahkan Oleh
Yesus Untuk Membantu Dia Mengurbankan Jasadnya (Si Manusia) Yang Menjaketi Atau
Mengandung Diri Sejati Yesus Yang
Bersifat Rohani.
[54] Ibid
Hal 37
Bart D
Ehrman Dalam Komentarnya Tentang Injil Yudas Yang Di Suning Oleh Kasser, Meyer,
Dan Wurst Mengatakan Bahwa Baris-Baris Puitus Ini Menggambarkan Bagaiman Yudas
Dipersiapkan Untuk Melakukan Pengkhianatan Yang Bernilai Penyelamatan Itu Bdk
Ayat-Ayat Dari Mazmur.
[57]
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta:
Lentera Hati, 2002), Hal 801
[58] Ibid
801
[60] Https://Www.Republika.Co.Id/Berita/Dunia-Islam/Khazanah/12/06/09/M5bvab-Misteri-Injil-Kuno-Barnabas-Mengguncang-Dunia,
Di Askses Tanggal O9-03-2019
Injl Barnabas Yang Berada Diturki Diperkirakan Berusia
Seribu Lima Ratus Tahun Dituliskan Dengan Tinta Berwarna Emas, Injil Barnabas
Ini Lebih Tua Dari Dua Injil Barnabas Yang Sebelumnya Ditemukan. Dua Injil
Barnabas Sebelumnya Berbahasa Italia Dan Spanyol.
[61] Http://Www.Gys.Or.Id/Seri-Tokoh-Alkitab/Yudas-Iskariot,
Di Askes 09-02-19
[62] Terdapat Perbedaan Yang Sangat Besar
Antara Injil Barnabas Dengan Injil-Injil Kanonik. Jika
Ditinjau Dari Isinyapun Tidak Berhubungan Antara Surat Barnabas Dengan Injil
Barnabas. Surat Barnabas Mengakui Ke- Allahan Yesus, Dan Bahkan Menekankan
Kasih Karunia Oleh Kristus Yang Mengatasi Hukum Taurat, Sehingga Menolak Hukum
Sunat. Injil Barnabas (Atau Lebih Tepat Disebut Sebagai Surat/ Homili Barnabas)
Telah Dikenal Pada Sekitar Abad Ke 2 Di Gereja Alexandria, Karena Diperkirakan
Memang Dituliskan Oleh Seseorang Dari Jemaat Alexandria. Tidak Ada TulIsan Lain
Dari Para Bapa Gereja Abad- Abad Awal Yang Mengkonfirmasi Bahwa Surat Tersebut
Benar- Benar Dituliskan Oleh Barnabas, Sehingga Siapa Pengarang Surat Ini Dan
Kepada Siapa Surat Ini Dituliskan Secara Khusus Tidak Diketahui Dengan Pasti. Http://Www.Katolisitas.Org/Surat-Barnabas-Dan-Tentang-Mani/
Di Akses 09-03-19
[63] David
K. Lowery, A Biblical Theology Of The New
Testament, Diterjemahkan Oleh Paulus Adiwijaya. (Malang: Gandum Mas, 2011),
Hal, 17
[64]
Suitela, Peranan Yudas, Hal.36
[65] William
Hendriksen, New Testament Commentary Matthew, (Michigan: Barker Academic,2007)
Page. 901
[66] Charles
F. Pfeiffer, Evertt F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary, ( Malang:
Gandum Mas, 2013) Hal.160
[68] Kata ἥμαρτον Ini
Menunjukan Adanya Penyesalan Atas Perbuatan Yang Telah Dilakukan, Atau Menyesal
Karena Kerusakan Moral Yang Ada Pada Diri Sendiri, Penyesalan Oleh Karena Dosa
Orang Yang Tidak Bersalah (Lexicon BDAG)
[69] Leon
Morris, Injil Matius. (Surabaya:
Momentum, 2016), 708
[70] Orang Herodian adalah orang yang mengabdi di
dalam kerajaan Herodes, pendukung raja Herodes dan Keluarganya. Mereka
menyatukan kebudayaan Yunani dan ajaran agama Yahudi menjadi satu partai, dan
mengaku bahwa kerajaan Mesias telah digenapi dalam kerajaan Herodes. Ketika
Tuhan Yesus dibumi, dan firan keajaan rohani yang diberitakan-Nya bertentangan
dengan kepentingan dan otoritas mereka, mereka bersukutu dengan orang-orang
farisi mereka-reka untuk membunuh Yesus, (Lukas Tjandra, latar belakang Perjanjian Baru II, (Malang: SAAT,1997), Hal.53
[71] Robert
G. Bratcher, Eugene A. Nilda, Pedoman
Penafsiran Alkitab Injil Markus, (Jakarta: LAI, 2014) Hal.326
[72] Donald
Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1996), Hal.55
[74] Jakob
Van Bruggen, Markus: Injil Menurut
Petrus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011) Hal. 360
[75]
Suitella, Peranan Yudas, Hal.39
[76] Mattew
Henry, Tafsiran Injil Lukas,
Diterjemahkan Lanny Murtihardjana, Paul Rajoe, Goat Chiu, (Surabaya:
Momentum, 2015) Hal 317
[77] Van
Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus. Hal.
526
[79] B. J.
Boland, Tafsiran Alkitab Injil Lukas, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2008), Hal. 3
[80] Ibiid,
Hal 517
[81] William
Hendriksen, New Testament Commentary The
Gospel Of Luke, (Michigan: Baker Book House, Tanpa Tahun Terbit. Hal, 955
[82] John
Calvin, Calvin Commentary Vol.17 Harmony
Of John 1-11, Transled Bya William Pringle, (Michigan: Baker Book House,
1996) Page. 280
[83] Bible
Works 9
[84]
Swanson, J. (1997).
Dictionary Of Biblical Languages With Semantic Domains : Hebrew (Old
Testament) (Electronic
Ed.). Oak Harbor: Logos Research Systems, Inc. Dikutip Oleh Http://Www.Gys.Or.Id/Seri-Tokoh-Alkitab/Yudas-Iskariot,
Di Askes 09-02-19
[85]
Ridderbos, Injil Yohanes,Hal 508
[86] Matthew
Henry, Tafsiran Injil Yohanes 12-21, (
Surabaya: Momentum, 2010), Hal.960
[87] William
Hendriksen, The News Testament Commentary
John, (Usa: The Banner Of Truth Trust,1982), Hal 358
[88] Ian
Barclay, Discovering John’s Gospel, (Leicester:
Crossway Book,1998) Hal.133
[89] Wiliam
Hendriksen, New Testament Commentary, (Michigan:
Baker Academic, 2007) Hal. 454
[90] Ibid
943
[91] Matthew
Henry, Matthew Henry’s Commentary Matthew
to John, (USA: Hendricson publisher, 1998) Page 442
[92] Matthew
Henry, Tafsiran Injil Yohanes 1-11, (
Surabaya: Momentum, 2010), Hal.432
[93] Matthew
Henry, Tafsiran Injil Yohanes 12-21, (
Surabaya: Momentum, 2010), Hal.845
[94] Ibid
958
[95] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran
Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) Hal. 130
[96] Carl S Meyer, “Lutheranism”, Dalam: J.D Douglas (Ed), Op. Cit H.613, Di Kutip
Oleh Dietrich Khul, Antara Iman Dan Rasio Sejarah Gereja, Jilid 3, (Malang: YPPII,
1996), Hal 31.
[97] Luther
Works Volume 23, Sermon On The Gospel Of
St. John Chapter 6-8, Editor Jaroslav Pelikan, Daniel E Poellot, Traslate
By: Martin H Betram, (Saint Louist: Concordia Publishing House, 1959), Hal 178, Ebook-Libronix
[98] Ibiid
196
[99] Lane, Runtut Pijar. Hal 147
[100] Ibiid
148
[101] John
Calvin, Calvin Commentary Vol XVII, John
1-11. Hal 280-281
[102] Ibiib,
Vol XVIII, Hal 176
[103]
Palmer, Calvinisme. 29
[104] Harun
Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarrta:
BPK Gunung Mulia, 2007) Hal 240
[105] David.
Ndoen. Skripsi: Pengertian Di Dalam Adam
Semua Manusia Berdosa dan Di Dalam Kristus Semua Dibenarkan, (Batu:STT I-3)
hal 12
[106] James
Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman
Kristen, diterj: Lanna Wahyuni, (Surabaya: Momentum, 2015) Hal 227-228.
[107] Bruce
Milne, Mengenali Kebenaran,diter: Connie
Item-Corputty, ( Jakarta: Gunung Mulia, 2011) Hal.148
[108] Thayer
greek Lexicon, Bible works 09
[109] Ndoen,
Di dalam Kristus Semua Dibenarkan, hal.
32
[110] G.I.
Williamson, pengakuan Iman Westminester, (Surabaya:
Momentum, 2017) Hal. 81
[111]
Milner, mengenali Kebenaran, Hal.149
[112]
Anthony A. Hoekma, Diselamatkan Oleh
Anugerah, (Surabaya: Momentum, 2010) Hal. 37
[113] Pink, The Sovereignty,
[114] Van
delden, jangan memegahkan diri, Hal.32
[117] Ibiid
Hal.13
[118]
Calvin, Institutio, Hal. 195
[119] Arthur
Van Delden, Jangan Ada Orang Yang
Memegahkan Diri, (- :perkantas,2017) Hal.63
[120] Enns, Moody Hand Book, hal. 43
[121] Lane, Runtut Pijar, Hal. 42
[122] Lane, Runtut Pijar, Hal. 43
[123]
Limwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran
Kristen, Di Terj. Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012) Hal. 238
[124] Bernhard Lohse, Pengantar sejarah Dogmatika Krisnten, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2011) Hal. 142
[125]
Jonathan Lowijaya, Hukum Taurat Dan Injil
Menurut Martin Luther-Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No.1 (Jakarta: STTA, 2006)
Hal.83
[126] W.J.
Kooiman, Marthin Luther, Diterj. P.S.
Naipospos, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), Hal.157
[127]
Cristian De Jong, Apa Itu Calvinisme,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia,1998) Hal.63
[128] Luther,
M. (1999, C1959). Vol. 23: Luther's Works, Vol. 23 : Sermons On The Gospel Of St. John: Chapters
6-8 (J. J. Pelikan, H. C. Oswald & H. T. Lehmann, Ed.). Luther's Works
(23:47). Saint Louis: Concordia Publishing House. Ebook Libronix.
[129]
Francois Wendel, Calvin, Asal-Usul Dan
Perkembangan Pemikiran Religius, Diterj, Ichwei G Dkk. (Surabaya: Momentum:
2010), Hal 297.
[130]
Calvin, Istitutio, Hal 196.
[131] Ibid ,
Hal 133
[132] John
Calvin’s, Calvin Commentaries, Vol XIII, Hal
,176
[133] Paul
Enns, The Moddy Handbook Of Theology,
Diterj, Rahmiati Tanudjaja, (Malang :SAAT,
2010) Hal 121
[134] Ibid,
Hal. 129
[136] Paul
Enns, The Moddy Handbook. Hal. 133
[137] Ibid,
Hal. 135
[138] J.L.
Packer, Merril C. Tenney, William White, Jr, Ensiklopedi Fakta Alkitab, Bible Almanac-2 (Malang: Gandum Mas, 2014) Hal. 1100
[139] Ray C.
Stedman, Rahasia Roh Kudus, (Kupang:
Karya Guna Offset, 1996) Hal.25dpe
[140] James
Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, (Malang:
Gandum Mas, 2001) Hal, 98
[141] “Kas” Γλωσσόκομον Memiliki Pengertian
Kotak Uang Atau Tas Uang, Sebuah Kotak Kecil Yang Kegunaanya Untuk Menyimpan
Uang, (Bdk, Thayer Lexicon Bibleworks 9) Kotak Tempat Tuhan Yesus Dan Para
Murid Yang Lain Menyimpan Uang Mereka.
[142]
Merrill C. Tenney, john, In NIV Bible
Comentary Vol.2 Newstestament, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1994)
Hal.337
[143] Herman
N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu
Tafsiran Theologis, Diterj, Lanna Wahyuni ( Surabaya: Momentum, 2012) Hal.
452
[144] Samuel
M. Ngewa, The Gospel of John, (Nairobi:
Evangel Publishing House, 2003) Hal. 226
[145]
Altruistic adalah suatu sikap yang banyak mengutamakan kepentingan orang lain
diatas. kepentingannya sendiri, rela menolong orang lain tanpa mengharapkan
imbalan: individu yang lebih religious.
[146] F.F.
Bruce, The Gospel of John, (Michigan:
WM.B. Eerdmans Publlishing Co, 1983), hal 257
[147] D.L. Baker & A.A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani-Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
hal.18
[148] TWOT
Lexicon, Bible works 9
[149]
Barclay M. Newman Jr. kamus Yunani-Indonesia
untuk Perjanjian Baru, Diterj John Miller, Gerry van Klinken, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2015) Hal.93
[150] D. A
Carson, The Gospel according to John (Leicester, England; Grand Rapids, Mich.: Inter-Varsity
Press; W.B. Eerdmans. 1991) Page 429,
Libronix, ebook
[151] LSJ,
Lexicon, Bible works 9
[152]
Gerhard Kittel, Theological Dictionary of
the New Testament, Voll III, (Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1982)
Hal.754
[153]
Wenham, koine, hal. 35
[154]
Matthew Henry's commentary on the whole
Bible: Complete and unabridged Vol I (Peabody: Hendrickson. 1996),
Libronix, ebook
[155]
Stalker, Masa hidup Yesus, hal. 98
[156] Walvoord,
J. F., Zuck, R. B., & Dallas Theological Seminary. (1983-c1985). Komentar
pengetahuan Alkitab: Eksposisi tulIsan suci (2: 316). Wheaton, IL: Victor
Books.
[157]
Davies, W. D., & Allison, D. C. A
critical and exegetical commentary on the Gospel according to Saint Matthew (London;
New York: T&T Clark International, 2004). Page.156. Libronix
[159]
K.Wegenast, Dictionary Of Newstetamen
Theology V. 3 paradidomi,, Editor: colin brown. (Michigan: Regency, 1986) Page.773
[160] EDNT
Dictionary, Bibleworks 9.
[161] Swannell,
Julia (1986). The Little Oxford Dictionary of Current English 6th edition.
Clarendon Press,
Oxford, hal. 47
dan 601. Di kutip oleh Pdt. ChinAun quek, dkk dalam seri
tokoh Alkitab 1, Yudas Iskariot Rasul yang Kehilangan jatidirinya, ( Jakarta:
Gereja Yesus Sejati) www.gys.or.id
[162] Arndt,
W., Gingrich, F. W., Danker, F. W., & Bauer, W. A Greek-English Lexicon of the New Testament and other early Christian
literature: A translation and adaption of the fourth revised and augmented
edition of Walter Bauer's Griechisch-Deutsches Worterbuch Zu den Schrift en des
Neuen Testaments und der ubrigen urchristlichen Literatur (Chicago:
University of Chicago Pres, 1979).Page 615 libronix
[163]
Suitela, peranan Yudas, hal 91.
[164] Marry
Ann Beavis, Mark, (Michigan: Baker
Academic, 2011) Page 211
[166] W.W
buckland, Budak, Encyklopedia Alkitab Masaa
KIni Jilid 1, (Jakarta: YKBK, 2000), Hal 198-199
[167]
Hollet, Macartney, Duabelas Murid Yesus, Hal
104
[168] Leon
Morris, Tafsiran Matius, diterj, Hendry
Onkowidjojo, (Surabaya: Momentum, 2016), Hal. 93
[169]
Op.cit. Hollet, Macartney, Duabelas Murid
Yesus, Hal 104
[170]
Tjandra, Perjanjian Baru, Hal 73.
[172]
Banvick, Sejarah Kerajaan Allah 2, Hal.548
[173] Donald
W. Burdick, Markus, The Wyclife Bible
Comentary Vol.3, ( Malang: Gandum Mas,2013) Hal. 252
[174] Hollet
& macartney, 12 Murid Tuhan, Hal.103
[175]
Stalker, sengsara Yesus, hal. 90
[176] Ruth
Schäfer, Belajar Bahasa Yunani Koine, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia,2011), Hal. 212
[177]
Ridderbos, Yohanes, Hal 266.
[178] France, Yesus sang radikal, Hal 46.
[179] Jl.
Packer, Merrrill C. Tenney, William White, Jr, Dunia perjanjian Baru, (Surabaya:Yakin, 1993) Hal. 147
[181]
Packer, Dunia Perjanjian, hal. 155
[182] H.D.M.
Spence, Joseps S. Exell, The Pulpit
Commentary Vol 16, Mark & Luke, (Michigan: Eerdmans,1980),page. 141.
[183] Albert Barnes, Barnes’ Notes on the New testamen, (Michigan: Kregel
Publication,1980) page 299
[184] Olla
Tuluan, Pemakaian kasus-Kasus Yunani, dikutip
dalam https://juanms49.wordpress.com/2013/11/03/pemakaian-kasus-kasus-yunani-pdt-ola-tulluan-phd-14/
diakses 18-04-19
[185]
Wenhamm, Koine, hal 77
[187] bernard,
J. H. A, Critical And Exegetical
Commentary On The Gospel According To St. John. Paged Continuously. Ed. A.
H. McNeile, (New York: C. Scribner' Sons, 1929). Page. 223
[188] Donald
Guthrie, Teologi Perjanjian baru 2, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia,1996) Hal. 264
[189]
Stephen Tong, kebahagiaan Yudas, (Surabaya:
Momentum,2013) Hal.15
[190]
Beauford H. Bryant & Mark. S Krause The
College Press NIV Commentary John, (Missouri: College Press Publishing
Company,1998), No Page. Libronix
[194] James
M. Stalker, sengsara Tuhan Yesus,
(Jakarta: YKBK,2008) hal 91
[199] Hollet
& Macartney, 12 murid Tuhan, Hal. 109
[200] Ibid,
hal.108
[201] JAMES R. EDWARDS, The
Gospel according to MARK, (Leicester: Eerdmans; Apollos,
2002), Page 424
[202] Kompatibilisme adalah pandangan bahwa
kehendak bebas dan determinisme merupakan gagasan yang tidak bertentangan, dan
meyakini keduanya pada waktu yang bersamaan bukan merupakan ketidakonsistanan
logika,
[203]
Carson. Doktrin Yang Sulit, hal. 55
[205] Henry,
Yohanes 12-21, Hal 1183
[206]
Ridderbos, Injil Yohanes, Hal. 598
[207]
Wenham, koine, Hal. 35
[208]
Thayer,lexcikon, Bible works V.9
[209]
Wenham, koine. Hal.9
[210] Joseph
H. Thayer, Thayer’s Greek-English Lexicon
of the New Testament, (USA: Hendrikson Publishers, 2012), Page 70.
[211] Henry,
Yohanes 12-21, hal 1182
[212] Colin
G. Kruse, Tyndale New Testament
Commentaries Vol 4 John (USA: IVP Academic, 2008), Page 337-338
[213] Merril
C. tenney, NIV Bible Commentary Vol.2 New
testament, Editor Kenneth L. Barker & John R. Kohlenberger III
(Michigan: Zondervan Publishing House, 2002) Page. 357
[214]Calvin,
Calvin's Commentaries Vol. XVIII, Page 176
[215]
Merrill C. Tenney, Loc. Cit. NIV Bible
commentary Vol 2. Hal. 357
[216]
Calvin, Loc. Cit. Calvin's Commentaries Vol. XVIII, Page 176
[217] Jika
seandainya motivasi Yudas adalah
mendorong Yesus untuk memerdekakan Yahudi, maka penyesalannya didasari karena
kesadarannya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi, dan jika didasari mau
memperoleh sesuatu dari hal ini, maka ia menyadari perbuatannya mendatangkan
kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan kecil yang ia peroleh:
Leon Moris, Injil Matius, (Surabaya:
Momentum,2016), Hal.708
[218]
Newman, kamus Yunani, hal.106
[219] Thayer
lexicon, Bible works 9
[220] BDAG
lexicon, Bible works 9
[221] EDNT
Dictionary, Bible works 9
[222]
Gerhard Kittel, Gerhard Friedrich, Theological
Dictionary of the New Testament Vol, (Michigian: Eerdmans Publishing
Company, no Years), Page 626, libronix
[223] Morris,
Matius, hal. 709
[224] James
M. Stalker, sengsara Tuha Yesus, (Jakarta:
YKBK,2008) hal. 93
[225] Dennis
Gaertner, The College Pres NIV Commentary
ACT, (Missiouri: Colege Press Publishing Company,1995), no page, Libronix
[226] C.K Barret, A Critical and Exegetical
Commentary on the Acts of the Apostles, Vol I (Edinburgh: T&T
Clark,2004) Page 104, libronix
[227]
Palmer, Lima Pokok, Hal. 29
[228] James
Oliver Buswell, A Systematic Theology Of
The Cristian Religion (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House,
1981),134, dikutip oleh Lotnatigor Sihombing, Buku Ajar Teologi Sistamtika, (Jakarta: STT Amanat Agung,2016),
Hal.207
[229]
J.L.Ch. Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari
Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2012), Hal. 71
[230]
Stalker, sengsara Tuhan, hal. 90
[231] Newman
dan Nilda, injil Yohanes , Hal.239
[234] Barcla
M. Newman, Eugene A. Nilda, Pedoman
Penafsiran Alkitab Injil Yohanes, (Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya
Indonesia, LAI, 2014) Hal.561
[235]
Calvin, Calvins Comentaries Page
[236] D. A, Carson,
The Gospel according to John, (Leicester,
England; Grand Rapids, Mich.: Inter-Varsity Press; W.B. Eerdmans.1991) Page 523, Libronix
[237] R.C
Sproul, Kaum Pilihan Allah, (Malang:
SAAT, 1995) Hal.2
[238] Harun,
iman Kristen, hal.297
[239] Tong, kebahagiaan Yudas, Hal.5-16
[240]
Palmer, Calvinisme, Hal.29
[241]
Calvin, Institutio, Hal.193